I Gede Indra, SE., MM.
Sadarkan Masyarakat Lewat Gemaskop
Sadarkan Masyarakat Lewat Gemaskop
Beragam even digelar memeriahkan ulang tahun koperasi ke-64, 12 Juli 2011. Gemaskop (Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi), salah satunya, dengan berbagai program menarik yang diharapkan mampu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berkoperasi. Program acara apa saja yang ditawarkan Gemaskop dan apa saja permasalahan yang umumnya membelit koperasi? I Gede Indra, SE,, MM., Kepala Bidang Bina Lembaga Koperasi, Diskop UKM Provinsi Bali mengurai penjelasan secara gamblang.
Even Gemaskop, diselenggarakan setiap tahun, sebagai rangkaian perayaan hari ulang tahun koperasi. Tahun 2011 ini, berbagai kegiatan digelar saat Gemaskop, meliputi talk show, sepeda dan jalan sehat, dialog interaktif dan program lain yang tak kalah meriah. Puncak peringatan hari koperasi dilangsungkan di Tanah Lot, 27 Juli.
“Gemaskop, sebenarnya program untuk memberi pemahaman kepada masyarakat, namun dikemas dalam sebuah acara agar tidak terkesan monoton. Semoga setelah mengikuti Gemaskop, masyarakat lebih mengerti dan memperoleh informasi yang benar tentang koperasi serta apa saja manfaatnya bagi masyarakat,” kata Indra. Kegiatan lain yang telah diselenggarakan Dinas Koperasi Provinsi Bali, jelas Indra, antara lain penilaian tokoh dan koperasi yang berprestasi, lomba tangkas terampil atau cerdas cermat SMU se-Bali, lomba karya tulis, penanaman pohon di Bukit Jimbaran dan memberikan sumbangan kepada rumah tangga miskin.
Sejak Gemaskop dikemas dalam acara yang lebih variatif sejak beberapa tahun belakangan, banyak masyarakat yang lebih paham tentang koperasi. Imbasnya, perkembangan koperasi di Bali pun cukup menggembirakan, dimana setiap tahun terjadi lonjakan secara signifikan. Baik dari sisi kuantitas, maupun kualitasnya.
Tekan Angka Pengangguran
“Seiring dengan kesadaran masyarakat tentang koperasi yang kian membaik, maka secara kuantitas, terjadi lonjakan jumlah koperasi. Kalau pada tahun 2009 koperasi di Bali berjumlah 4.149, maka pada tahun 2010 terjadi penambahan jumlah sebanyak 460 koperasi. Terjadi kenaikan 12,47%,” urai pria yang lahir di Bandung ini.
Keberadaan koperasi, tegas Indra, kalau dicermati secara seksama, jelas-jelas dapat menekan tingkat pengangguran. Di Bali, jumlah pengangguran sudah mencapai angka 69 ribu. Namun dengan adanya koperasi, pada tahun 2010, tenaga yang diserap meliputi karyawan sebanyak 17.635 dan manager 1.736 orang. Kalau koperasi berkembang dengan baik, tentu setiap tahun dapat merekrut karyawan, dan selanjutnya angka pengangguran pun otomatis semakin berkurang.
“Kalau membicarakan suatu koperasi, apakah sudah berkembang dengan baik, atau dikatakan berkualitas atau tidak, bisa ditentukan dari dua hal, yakni faktor internal dan eksternal. Kedua faktor ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan,” kata suami Ni Ketut Okta Fatmawati.
Faktor internal mencakup, pertama, profesionalisme pengurus. Apakah pengurus sudah menjalankan amanat, program dan memberi layanan terbaik kepada anggota. Kedua, peningkatan SDM. SDM bisa ditingkatkan melalui pelatihan atau seminar untuk semua karyawan. Ketiga, ketegasan internal audit koperasi. Dalam menjalankan tugas, internal audit koperasi tidak boleh segan bertindak bila didapati ada pengurus yang berbuat melenceng. Keempat, partisipasi aktif anggota koperasi. Peran anggota sangat vital, sehingga perlu diberi kesadaran agar merasa memiliki koperasi. Kalau kesadaran anggota meningkat dan tidak segan mempercayakan dana di koperasi, maka koperasi tidak akan sulit berkembang.
Untuk faktor eksternal, jelas Indra, melalui pengawasan Dinas Koperasi, yang akan melakukan langkah pemberdayaan dan pembinaan pada koperasi. Sebagai catatan, selama ini yang menjadi koperasi binaan dari Dinas Koperasi Provinsi Bali, paling tidak memenuhi kriteria, antara lain, memiliki anggota yang mencakup tiga kabupaten, di mana masing-masing kabupaten mempunyai anggota minimal 20 orang. Selain itu, volume usaha, permodalan dan keanggotannya sudah tergolong besar.
Permasalahan Mendasar
MESKI banyak koperasi di Bali yang terbilang maju, namun di sisi lain, tak jarang pula dijumpai koperasi gulung tikar atau jalan di tempat. Menurut Indra, kondisi ini terjadi karena koperasi mengalami beberapa permasalan dasar yang tidak segera diatasi. Masalah yang umumnya dialami koperasi, biasanya tidak jauh dari soal SDM, modal dan pemasaran. Sebenarnya, untuk SDM, karyawan koperasi tidak harus bergelar sarjana, tetapi harus mau belajar agar memiliki skill memadai.
Soal permodalan, sejak awal didirikan, sebaiknya anggota koperasi itu variatif. Kalau semua dari golongan masyarakat ekonomi lemah, tentu koperasi susah berkembang karena minimnya modal. Sebagai solusi, masalah ini bisa diatasi dengan menjalin relasi dengan koperasi lain, sehingga ada kebijakan untuk mendapat suntikan modal dengan bunga rendah. Bisa juga dijajaki hubungan dengan pihak perbankan atau lembaga keuangan lain.
“Kalau masalah pemasaran, pihak dinas sudah sering berusaha membantu secara maksimal para anggota koperasi yang memiliki usaha dengan mengadakan pameran. Tidak hanya sebatas pameran di Bali, tapi sudah sering juga pameran di Jakarta dan luar negeri,” kata Indra.
Yang penting, tambah Indra, pihak dinas sudah berusaha sebaik-baiknya. Meski bisa dibilang setiap tahun perkembangan koperasi sudah cukup bagus, tapi sebenarnya pihak dinas masih prihatin karena masih ada koperasi di Bali yang tidak aktif, yang mencapai 9,33%. Untuk mengatasi soal ini, beberapa kali telah diadakan pertemuan hingga didapatkan kemufakatan, bahwa empat tahun ke depan, tidak akan ada lagi koperasi yang tidak aktif.
“Kita memberi tiga opsi. Opsi kesatu, koperasi yang tidak aktif dibina, didorong, sampai siap aktif lagi. Opsi kedua, koperasi bersangkutan dihimbau, lalu didorong untuk melakukan merger dengan koperasi lain sehingga kondisinya menguat lagi. Opsi ketiga, kalau langkah pembinaan dan dorongan moral tidak bisa lagi, satu-satunya jalan terpaksa dibubarkan. Tapi pembubaran juga bukan kemauan kita, melainkan merupakan pilihan bersama dari anggota,” tegas Indra, mengakhiri pembicaraan.