Rabu, 20 Juli 2011

POTENSI

Keselarasan Pikiran-Ucapan-Tindakan

Tri Kaya Parisudha adalah perumusan pola hidup dan berkehidupan yang disajikan dengan ringkas dan efektif oleh leluhur dan ternyata kemudian dipakai, meskipun tidak diakui secara terbuka, oleh banyak kalangan sebagai penterjemahan terbaik hukum semesta tentang konsep aplikasi penciptaan realitas kehidupan. Sebagai kesimpulan sederhana dari berbagai puncak keilmuan yang berkiprah di lapangan filosofi dan psikologi, dapat dikatakan bahwa keselarasan pikir-ucap-laku adalah mekanisme yang mendorong semesta untuk memproses realisasi dari keinginan manusia.

Bagaimana ceritanya sehingga diyakini seperti itu?

Tinjauan sederhana berikut mungkin akan mempermudah pemahaman mengenai proses penciptaan berdasarkan kesimpulan filsafat shamkya dengan penalaran ilmiah.

….Demikianlah proses evolusi dari prakrti, setelah campur tangan purusha, menjelma 24 kategori yang keseluruhannya adalah sebagai berikut: (a) Prakrti ; (b) Mahat, artinya yang agung, dalam jiwa manusia disebut buddhi, yang perannya ialah mengatur informasi yang diterima dari indera. Buddhi (budi) disebut juga sebagai common sense, akal sehat; (c) Lima organ indera – 5 kategori; (d) Lima organ motoris atau penggerak tubuh: alat bicara, tangan, kaki, alat pelepasan dan alat perkembangan tubuh – semuanya 5 kategori; (e) Lima unsur halus sebagai padanan panca indera, yaitu obyek penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pencecapan; (f) Lima unsur kasar yang berasal dari lima unsur halus, yaitu ‘ruang’ dari penglihatan, ‘api’ dari penglihatan, ‘udara’ dari perabaan, ‘air’ dari pencecapan dan ‘tanah’ dari penciuman – semuanya 5 kategori. Mahat muncul langsung dari alam; (g) Ahamkara, prinsip ego muncul dari mahat sebagai akibat kerja tamas….

Jika diamati dan dikelompokan, maka seluruh substansi kebutuhan manusia adalah yang terangkum dalam Panca Maha Bhuta atau lima unsur utama pembentuk alam semesta yang terdiri dari unsur padat, cair, udara, cahaya (suhu dan warna) dan ether (ruang ). Kelima unsur tersebut merupakan hal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan Panca Indera Persepsi dan dicapai dengan daya dari Panca Indera Penggerak. Dan mekanisme berkeinginan atau berkebutuhan dibangkitkan oleh ahamkara karena telah mengandung aspek dinamis.

Keilmuan modern telah mencapai sebuah kesimpulan bahwa segala sesuatu adalah energy yang bergerak dinamis dimulai dari energi dengan spectrum halus dan non-perceptional hingga spectrum energi yang membentuk materi terpersepsi. Dan semuanya itu terbentuk akibat mekanisme penciptaan di ruang kesadaran (budhi) yang menggerakan alam (mahat) untuk bekerja memproses dinamisasi energi.

Dan karena pikir-ucap-laku adalah bentuk-bentuk dinamisasi energi, maka keselarasan ketiganya menjadi syarat mutlak untuk menjamin bekerjanya semesta memproses realisasi dari keinginan yang tercipta di ruang kesadaran. Sehingga sekarang menjadi sangat mudah dimengerti bahwa jika sebuah keinginan tidak tercapai, maka sangat mungkin penyebabnya adalah disharmoni antara pikir-ucap-laku.

Sebuah renungan : jika menginginkan beras, berdoalah dalam hati dan dalam ucapan, lalu mulailah mencangkul……
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA