Uniknya Tas Karung Beras
Barang bekas yang dalam bahasa populer disebut limbah, tak selamanya mesti dipandang sebelah mata. Buktinya, karung beras yang di mata sebagian orang sudah harus dibuang, namun oleh seorang Vensislaus Makus, mampu diubah menjadi produk tas yang elegan, bahkan disukai turis mancanegara. Bagaimana perjalanan hidupnya, hingga akhirnya berkecimpung di bisnis yang terbilang inovatif ini?
Pengalaman kehidupan pria yang biasa disapa Vensi ini, begitu berliku. Beragam pekerjaan pernah dilakoni. Setelah menamatkan SMK Bina Kusuma Ruteng di Flores, ia meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Bali. Di Pulau Dewata, ia pernah menjadi tukang di berbagai proyek bangunan, sales art shop, asisten di perusahaan garmen, salesman di perusahaan kulit, sampai kemudian menjajal peruntungan dengan menggeluti usaha tas berbahan karung beras.
Keahlian membuat tas dari karung beras, dipelajari Vensi secara otodidak. Semasa masih bekerja di garmen yang memproduksi kain pantai dan sandal kulit, ia sering mengamati cara pembuatan sandal. Kebetulan sepupunya, tempatnya tinggal menumpang, memiliki mesin jahit kulit. Vensislaus pun mencoba mempraktikkan apa yang pernah dilihatnya di perusahaan garmen. Berawal dari mencoba-coba inilah, ia lantas merancang dompet pada tahun 2008 dan ternyata berhasil. Tak puas hanya sekadar membikin dompet, Vensi mengembangkan kemampuannya membuat tas.
Ide membuat tas, terpicu dari perkenalannya dengan seorang turis asal Italia, yang mengaku punya usaha tas dari kain terpal. Turis itu mengajak Vensislaus bekerja sama. Sayangnya, lama-lama harga kain terpal kian naik beberapa kali lipat. Agar usaha bisa jalan terus, Vensi dan si turis pun mulai memikirkan bahan baku alternatif. Pilihannya jatuh pada karung beras. Alasannya, sekilas, karung beras mirip terpal. Selain itu, harganya murah dan mudah didapatkan di berbagai toko sembako.
“Setelah mengganti bahan baku dari terpal menjadi karung beras dan mencoba-coba, ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Ketika ditawarkan ke konsumen, sambutan mereka lumayan karena terbukti ada saja turis yang pesan,” tutur suami dari Maria Anli Setiawati ini.
Saat sedang ramai-ramainya order, dalam sebulan Vensi bisa meraup omzet hingga lima juta rupiah. Vensi mengungkapkan jika order produk tas buatannya, datang dari Italia dan Perancis, masyarakat lokal malah sama sekali tidak meliriknya.
Pengalaman Pahit
Sayangnya, di tengah order yang bertubi-tubi, Vensi diterpa beberapa pengalaman teramat pahit. Beberapa konsumen yang memesan dan sudah dikirimi tas, mendadak menghilang padahal belum membayar. Alhasil, Vensi harus gigit jari karena menanggung kerugian jutaan rupiah untuk membeli bahan baku dan ongkos pekerja.
“Pernah saya ditipu sampai lima juta rupiah. Padahal order itu saya kerjakan selama dua bulan bersama saudara saya. Saya jadi kebingungan luar biasa. Modal amblas, dan dihinggapi trauma juga. Maklum, perajin rumahan seperti saya ini modalnya sangat terbatas,” urai pria kelahiran tahun 1981 ini.
Tak hanya soal ditipu, komplain dari tamu kadang-kadang membuat Vensi patah semangat. Misalnya, karena pemasangan payet yang tidak rapih atau jahitan yang kurang bagus. Namun, lama-lama Vensi mencoba mengambil hikmah dengan memperbaiki kualitas tas produknya. (vivi)
Harapan Seorang Perajin Rumahan
KEMANDIRIAN tetap memerlukan uluran tangan, apakah pemerintah atau lembaga lain terkait. Sebut saja Vensislaus Makus. Di tengah laju usahanya yang sudah menemukan pasar, Vensi, begitu ia disapa, berharap agar pemerintah memberikan perhatian dengan menampung hasil karya perajin rumahan, sehingga bisa eksis. Inilah sebenarnya permasalahan utama bagi perajin rumahan, karena sering tidak memiliki akses untuk menyalurkan produk buatannya.
“Syukur-syukur juga ada bantuan permodalan. Saya sebenarnya ingin sekali mengembangkan usaha. Tidak hanya membuat tas berbahan karung beras, tetapi juga menggunakan bahan karung goni atau pandan. Sekarang orang asing kan lagi tren produk berbahan alami. Mudah-mudahan kalau ada suntikan modal, keinginan saya segera terlaksana,” harap Vensi di akhir perbincangan.
Tertarik Tas Berbahan Karung Beras?
Hubungi:
Vensislaus Makus
Jalan Pulau Ambon Gang Marmut No. 12 Denpasar
Telepon: 081236 544 138