Kamis, 21 Juli 2011

POTRET USAHA

Rezeki Lancar dari Usaha  Topeng & Wayang

Bisnis tak selalu di lahan yang manis-manis. Tak percaya? Simak saja, apa yang dilakukan I Wayan Suwija, yang menggeluti usaha pembuatan wayang dan topeng. Bukan sembarang topeng, melainkan beragam topeng dengan tampilan unik, ganjil hingga menyeramkan. Tak disangka, rezekinya malah mengalir dengan lancar.  

Topeng dan wayang, sudah lazim ditemui di berbagai pasar seni di Bali sebagai cenderamata. Anehnya, tak banyak orang melirik  usaha pembuatan topeng dan wayang. Pelaku bisnisnya pun hanya itu-itu saja. Salah satunya adalah I Wayan Suwija, yang  tinggal di Banjar Puaya Batuan, Sukawati, Gianyar.   

Suwija membuat berbagai macam topeng, yang jumlahnya sekitar 20 jenis, dengan dibantu delapan orang karyawan.  Topeng  yang diminati konsumen, antara lain, bondres, cungih, dalem sidakarya, bengor, patih, topeng tua, topeng pedanda,  dukuh  dan wijil. Jenis favorit lain adalah rangda dan topeng barong. Kedua topeng ini   bentuknya  terlihat menyeramkan karena penampilannya yang sangar, mata melotot dan gigi bertaring.

Masing-masing karyawan, jelas Suwija, sudah mempunyai spesialisasi tersendiri. Kalau bertugas membuat topeng, maka seterusnya demikian. Begitu pula jika bagian membikin wayang, maka tidak akan mengerjakan yang lain lagi.

“Sistem gaji yang diberlakukan adalah model borongan. Ya, paling tidak per hari karyawan akan mendapat Rp 50 ribu. Jam kerja dari jam 8.00 – 16.00 wita,” Suwija memaparkan.

Suami dari Wayan Astiti ini lebih jauh menceritakan, selama ini bahan baku dapat dengan mudah diperoleh di daerahnya, sehingga tidak sampai harus memesan di luar Bali. Bahan untuk membuat topeng, yakni kayu pule, bisa didapat di sekitar tempat tinggalnya. Kelebihan menggunakan kayu pule, jenisnya amat cocok dibuat topeng. Selain mudah dibentuk, juga kuat dan mempunyai taksu tersendiri. Kayu pule malah sudah lazim dipakai untuk membuat topeng yang disakralkan.

Berhubung jenis kayu yang dipakai membuat topeng bukan jenis sembarangan, tidak heran kalau harganya tidak murah. Ini yang menyebabkan topeng yang sudah jadi, harganya menjadi mahal. Tidak hanya itu, tingginya harga topeng juga disebabkan waktu pengerjaannya yang tergolong lama. Satu topeng barong, misalnya, rata-rata menghabiskan waktu pengerjaan selama sebulan.

“Topeng barong rata-rata dikasih bandrol harga Rp 2,5 juta. Kualitasnya memang bagus. Bahannya kayu pule dan rambutnya asli rambut manusia. Selain itu juga memakai batu permata. Cat yang digunakan jenis cat akrilik,” ujar Suwija, yang mengaku untung bersihnya setiap bulan Rp 6 juta.

Untuk mendongkrak usahanya, Suwija rajin  mengikuti ajang kesenian Pesta Kesenian Bali (PKB). Langkahnya  ternyata jitu. Beberapa kali konsumen asing yang berasal dari Perancis dan Australia terkagum-kagum melihat hasil karyanya, sehingga langsung memborong untuk dipakai sebagai kenang-kenangan. Kalau orang lokal, selain membeli wayang dan topeng untuk dekorasi, juga ada yang sengaja memesan sebagai benda sakral untuk dipajang di pura.

Bisnis Turun-temurun
Usaha yang digeluti Suwija dengan nama Eko Putro,  merupakan bisnis yang sudah turun-temurun di kalangan keluarganya, sehingga ia tidak begitu ingat kapan usaha itu mulai dirintis. Semenjak kecil, sekitar umur 6 tahun, ia sudah tidak asing dengan wayang dan berbagai jenis topeng. Bahkan, usai pulang sekolah, tanpa disuruhpun, ia dengan senang hati akan membantu ayah atau karyawan yang sedang bekerja.

Membuat wayang, ungkap bapak dua anak itu, memerlukan ketelitian dalam pengerjaan. Wayang terbuat dari kulit sapi. Mula-mula, kulit sapi dibersihkan, kemudian dihaluskan. Dilanjutkan dengan gambar sket untuk membuat pola wayang,  yang diteruskan dengan diukir serta diwarnai. Proses terakhir, kulit sapi yang sudah diukir itu dirakit dalam proses finishing.

“Banyak sekali jenis wayang yang kami buat. Ada panca pandawa, wisnu murti, lodra murti, kayon, kresna, rama, siwa, acintya dan lainnya. Totalnya ada 125 jenis wayang. Harga wayang yang diperuntukkan anak-anak Rp 20 ribu per buah, sedang wayang ukuran besar antara Rp 75 – Rp 1,2 juta per buah. Ada juga wayang untuk orang yang latihan mendalang, harganya Rp 100 ribu per buah. Bentuknya sederhana saja karena untuk latihan,” ungkap Suwija panjang lebar.

Pengerjaan wayang, bisa makan waktu hingga seminggu. Jika modelnya gampang, memang satu orang bisa membuat hingga tujuh buah wayang dalam sehari. Namun jika modelnya rumit, satu wayang bisa dikerjakan dalam tempo seminggu.

Omzet Bisa Berlipat
KADEK Sunarya, salah seorang karyawan mengungkapkan, sudah beberapa bulan ia bekerja di Eko Putro. Sunarya menguasai pembuatan wayang setelah latihan dulu selama sebulan. Mulai dari wayang arjuna, kresna, bima atau tokoh pewayangan lain, ia sudah bisa mengerjakannya. Sehari, ia bisa mengerjakan dua wayang kecil. Upah pembuatan wayang adalah Rp 10 ribu per wayang.

“Untuk mengerjakan wayang harus telaten dan teliti, agar hasilnya bagus. Kalau tidak begitu, hasilnya bisa kurang bagus. Saya lebih sering mengerjakan wayang Arjuna, karena jenis wayang itu yang disukai orang. Kalau untuk membuat topeng, saya belum bisa. Rumit pembuatannya, saya masih konsentrasi ke pembuatan wayang, agar hasilnya lebih bagus,” urai Sunarya.

Khusus pada saat PKB, Sunarya yang sesekali berjaga di stand, menyatakan harga topeng berbeda-beda.  Topeng kecil dipatok Rp 40 ribu. Topeng besar sampai Rp 400 ribu. Kalau topeng berukuran amat besar, semacam barong ket, harganya bisa sampai Rp 7 juta.

“Lumayan kalau pameran, omzet per hari bisa mencapai Rp 300 ribu – Rp 400 ribu. Kalau malam Minggu, omzetnya bisa berlipat-lipat. Tapi pembelinya lebih banyak orang lokal,” tutur Sunarya.  
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA