Kamis, 21 Juli 2011

WIRACARITA

I Made Mudiardana
Demi Koperasi, Rela Kerja Gratisan

Kegigihan I Made Mudiardana, SE., MM., mengangkat citra koperasi Bali, sulit dicari tandingannya. Rela kerja tak dibayar, rela mengangkuti sejumlah perabotan rumah untuk diboyong ke kantor koperasi, dan sejumlah kerelaan lain, yang dengan hati ikhlas dilakoninya. Mengapa sosok kharismatik ini begitu kukuh berjibaku demi koperasi?

“Saya terketuk ingin memperbaiki citra koperasi, karena sudah melihat langsung di masyarakat, bagaimana sebuah koperasi itu mengalami sejumlah masalah krusial.  Sulit berkembang, mempunyai keterbatasan mengakses modal kerja, tidak memiliki jaringan dan manajemen yang bagus,” urai Mudiardana mengawali pembicaraan.

Berlatar sejumlah keprihatinan ini, Mudiardana pun berniat mendirikan koperasi. Hati nuraninya merasa terusik melihat kondisi koperasi di lingkungan tempat tinggalnya, di Banjar Blangsinga, Blahbatuh, Gianyar. Berkat dukungan masyarakat dan sejumlah keluarga, koperasi pun resmi berdiri, dengan nama KSU Citra Buana Raya.  Saat itu,  Mudiardana masih bekerja sebagai karyawan operasional di sebuah BPR  di Gianyar.

“Ketika koperasi baru berdiri, saya sengaja bekerja tanpa bayaran selama dua tahun. Saya juga mengangkuti beberapa perabotan rumah ke kantor koperasi, agar uang anggota yang baru terkumpul bisa digunakan untuk hal-hal yang benar-benar penting. Tapi saya dan pengurus lain tidak gamang menghadapi semua ini. Ya, inilah bagian dari perjuangan,” tutur Mudiardana.

Sebagai tindak lanjut agar koperasi bisa berkembang, papar Mudiardana,  dirancanglah beberapa gerakan yang terdiri atas dua macam. Gerakan kelihatan dan tidak kelihatan. Gerakan tak kelihatan mencakup  pelayanan maksimal, service excellent dan bagi siapa saja yang meminjam, dikenakan bunga yang kompetitif. Sedang gerakan kelihatan koperasi meliputi gedung, prasarana operasional, 12 motor, promosi, brosur, kegiatan sosial dan sumbangan ke berbagai even.

Sapaan Hangat
Pada pertengahan 2011,  anggota koperasi sudah mencapai sekitar 100 anggota.  Setelah beberapa tahun mengarungi perjalanan waktu, bukan berarti koperasi melaju tanpa halangan.  Menurut Mudiardana, kendala yang masih sering membayangi adalah keberadaan  LPD, BPR dan Finance, yang saling bersaing membanting bunga, sehingga tingkat persaingan menjadi amat ketat.

“Solusi yang ditawarkan koperasi adalah pelayanan. Setiap karyawan koperasi sudah diajarkan memperlakukan siapapun yang datang selayaknya keluarga, sehingga dalam bertransaksi, terjadi tegur sapa yang hangat,” tambah Mudiardana.

Interaksi dengan customer dimulai dengan greeting dengan sikap ramah dan bersahabat. Mudiardana memang bermaksud untuk mengubah image koperasi menjadi lebih baik, sehingga siapa saja yang datang akan mendapat senyuman ramah dan merasakan suasana selayaknya di rumah sendiri. 

Studi Banding ke Singapura
Beberapa waktu lalu, Mudiardana dan sejumlah tokoh koperasi lain di Bali, mengadakan studi banding ke Singapura. Menurutnya,  ada perbedaan mendasar antara koperasi di Bali dengan koperasi di negeri Singa itu. Kalau koperasi di Bali, pada umumnya masih disusupi dengan beragam kepentingan, sehingga terjadi tarik-menarik kepentingan. Akibatnya, kinerja koperasi tidak maksimal, karena terkendala waktu  hingga mempengaruhi kecepatan pelayanan. Pelayanan pun jadi tersendat.  Sementara di Singapura, kondisi ini tidak terjadi, karena sudah terjadi komitmen bersama untuk melayani masyarakat secara profesional.

“Selain masih disusupi berbagai kepentingan, harus diakui kalau SDM koperasi di Bali mayoritas masih rendah. Jauh dibanding  di Singapura. Di negara itu,  kalau seseorang akan menjadi karyawan koperasi, sebelumnya ditraining dan dipersiapkan secara baik. Jadi skill yang dimilikinya sudah tidak diragukan dan langsung siap kerja,” kata pria yang hobi bersepeda ini.

Guna mengatasi soal SDM, maka Mudiardana sudah menyiapkan langkah dengan mengadakan pelatihan dengan berbagai pihak terkait. Ia juga menginginkan koperasi lebih proaktif, sehingga benar-benar tertanam di masyarakat, bahwa koperasi adalah gerakan dari kita, oleh kita dan untuk kita. Di masa depan, ia mengharapkan agar koperasi benar-benar sehat dan mandiri.

“Saat ini, untuk mendongkrak SDM, maka saya memberikan insentif kepada karyawan. Siapa saja yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, diberikan biaya kuliah sebesar 25%. Kalau ada karyawan berminat ikut pelatihan atau seminar, akan ditanggung 100%,” kata ayah dari Ni Wayan Ari Prasetya Dewi ini.

Target Buka Usaha Baru Tiap Tahun
SEBAGAI putra daerah asli Gianyar, pria yang lahir pada 12 Januari 1968 ini, sejak kecil sudah mencanangkan cita-cita sebagai  pengusaha. Untuk menggapai cita-citanya, Mudiardana selalu berusaha keras dan giat bersekolah. Kehidupannya yang jauh dari gemerlap duaniawi, karena kedua orang tuanya menjadi buruh tani, tak membuatnya bersedih. Kepergian ayahnya untuk selama-lamanya, saat ia bersekolah kelas IV SD, memang sempat membuatnya terpukul. Tapi tidak lantas membuat cita-citanya surut.

Setamat  SD, ia melanjutkan ke SMP di Pegok, Denpasar dan kemudian di SMU Saraswati. Begitu lulus SMU, ia bekerja sebagai karyawan hotel, kemudian pindah kerja di bank, sembari sore harinya meneruskan kuliah.

“Saya memang amat peduli dengan pendidikan. Meski telah lulus S2 di Universitas Udayana, sekarang saya meneruskan kuliah S3 jurusan hukum di Universitas Warmadewa. Pendidikan itu sangat penting,” tegas pria berbintang Capricorn ini.

Selama ini, Mudiardana sering dikenal karena selalu memiliki ide-ide baru yang cemerlang. Ini terlihat saat ia mendirikan kursus mengemudi Rahayu, karena di daerahnya belum ada kursus sejenis.  Selanjutnya, ia membidik usaha toko sembako, yang rencananya juga akan dinamakan Rahayu, yang terinspirasi dari nama sang istri.

“Saya pasang target membuka usaha baru setiap tahun. Sekarang, yang terpikir memang baru kursus mengemudi dan toko sembako, tapi nanti saya rencanakan ada usaha baru lagi,” kata Mudiardana, yang dikenal sebagai konsultan di sejumlah koperasi ini.    
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA