Jumat, 19 Agustus 2011

SENI BUDAYA

Ngelawang Barong, Menolak Bala

Ngelawang barong? Pertunjukan ini amat populer dijumpai  saat hari raya Galungan – Kuningan. Diiringi tetabuhan nan rancak menyentak, barong pun menari dengan ekspresif,  beratraksi sepanjang jalan, menelusurI rumah ke rumah, di desa sampai perkotaan di Bali. Benarkah ngelawang barong bukan sekadar seni tontonan? Adakah ia sekaligus merupakan ritus penghalau petaka penolak bala?

Bagi masyarakat Hindu di Bali, ngelawang barong bukan sebuah pertunjukan biasa. Ngelawang barong dihelat untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Tradisi ngelawang, dipercaya  sudah  dimulai pada  zaman Dinasti Tang Abad ke-7 di China. Waktu itu, kelompok sirkus  menggunakan Barong Sai akan   berkeliling desa, bertujuan mencari kesejahteraan.  Tradisi ngelawang di Bali, disebut-sebut sebagai pengaruh dari kebudayaan China.
Kata ngelawang, berasal dari bahasa Jawa Kuno lawang, yang artinya pintu. Tradisi ngelawang sudah berlaku sejak zaman dahulu kala, namun tetap bertahan hingga sekarang. Bagi masyarakat, tradisi ini dipercaya sebagai media penolak bala. Ngelawang mementaskan tarian barong yang merupakan perwujudan dari suatu binatang  seperti: lembu, babi hutan, macan, gajah dan sebagainya, yang diyakini oleh masyarakat sebagai perwujudan atau manifestasi dari Dewa Siwa yang menjadi jiwa barong. 

Dua Jenis
Masyarakat mengenal dua jenis ngelawang.  Pertama, ngelawang menggunakan sesuhunan (tapakan barong) yang dikeramatkan. Kedua, ngelawang dengan menggunakan barong-barongan yang umumnya dilakukan oleh anak-anak. Ngelawang dengan menggunakan barong-barongan ini umumnya dilakukan saat Galungan hingga Kuningan. Barong-barongan ini dipentaskan berkeliling desa, untuk mendapatkan upah.
Ngelawang juga tidak dapat dilepaskan dari ritual di masyarakat. Saat warga mengalami musibah di mana panen mengalami kegagalan, maka prosesi ngelawang pun dilakukan, dengan harapan agar hama penyakit tidak lagi mengganggu tanaman dan masyarakat bisa menikmati panen melimpah.  Ritual ngelawang sering pula dilakukan  ketika terjadi musibah di suatu pedesaan. Misalnya,  sebagian masyarakat  mendadak sakit secara serentak. Biasanya,  sesuhunan akan diiring melancaran, sehingga masyarakat terbebas dari malapetaka.  
Pada mitologi Susastra Barong Suari, dikisahkan Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) turun ke bumi dalam bentuk barong, untuk menetralisir hal-hal yang berbau adharma dari jagad raya. Kisah inilah yang mengilhami tradisi ngelawang, terutama saat Galungan – Kuningan,  sebagai hari perayaan kemenangan dharma. 
Aktivitas ngelawang merupakan salah satu cara untuk menetralisir hal negatif. Pelaksanaan ngelawang itu sendiri dimulai dengan mengarak barong, berkeliling ke seluruh penjuru wilayah. Kegiatan ini, amat ampuh untuk menanamkan rasa sosial, toleransi dan solidaritas kepada generasi muda, sehingga seyogyanya tetap dilestarikan agar tidak tergerus modernisasi zaman.

Masih Dipertahankan
Sampai kini, budaya ngelawang memang masih bisa ditemukan, khususnya di kawasan pedesaan. Seperti di kawasan Ubud, di mana pada saat-saat tertentu, dapat dijumpai anak-anak muda Tegallantang, melakukan ngelawang barong.   Saat senja menjelang, sejumlah anak muda mengusung barong, disertai gambelan yang rancak. Keriuhan menyeruak, kala barong bertingkah atraktif, lantas mengejar-ngejar penonton yang merubung. Tak pelak lagi, pekikan dan jeritan, menawarkan sensasi kegembiraan. Sebuah ungkapan rasa yang tepat, sebagai penyambutan hari raya.
Lain lagi tradisi ngelawang barong di Desa Adat Apuan, Baturiti, Tabanan. Di banjar ini terdapat Pura Luhur Natar Sari, di mana sesuhunan pura berupa Barong Kedingkling. Sebelum pujawali pada Tumpek Krulut, sesuhunan itu ngelawang menuju 108 pura di beberapa desa adat yang terletak di Kabupaten, Badung, Gianyar dan Tabanan. Acara ini biasanya berlangsung selama 42 hari, yang dimulai saat hari raya Galungan dan kembali lagi tiga hari menjelang pujawali.  


Rp 5 - 50 Ribu
Ngelawang barong, selain untuk penghiburan masyarakat kala merayakan Galungan – Kuningan,  tradisi ini juga untuk memohon kepada Sang Hyang Widhi Wasa  agar warga desa diberi kerahayuan serta selamat dari serangan wabah, roh-roh jahat dan unsur-unsur negatif lainnya.
Kegiatan ini, dilakukan sekaa atau sekelompok anak muda, yang biasanya melibatkan 10-15 orang, terdiri atas penari barong dan penabuh gambelan. Ngelawang biasanya dilakukan berkeliling wilayah banjar atau desa. Di depan setiap rumah warga, penari ngelawang berhenti untuk beratraksi. Kemeriahan pun menyeruak, kadang penari barong sampai bergulingan atau bertingkah jahil.
Sebagai imbalannya, warga desa pun dengan suka rela memberikan upah kepada sekaa ini. Biasanya upah yang diberikan berkisar antara Rp 5 ribu – Rp  50 ribu,  untuk sekali tampilan. Di penghujung ngelawang, usai berkeliling desa, tak jarang upah yang didapat mencapai ratusan ribu rupiah.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA