Selasa, 20 September 2011

AGROBIS


Membedah Keunggulan Pupuk Organik Agrodyke

Para petani sudah sangat tergantung dengan pupuk anorganik dalam proses produksi mereka. Sambil merem pun, para petani hafal menyebut pupuk Urea, KCl, Ponska, dan berapa kilo kebutuhan serta kombinasinya per hektar, dan kapan saat pemberiannya. Ini disebabkan berpuluh-puluh tahun petani dicekokin produk anorganik tersebut. Tak heran jika kemudian petani terkaget-kaget ketika tren organik mulai menggelinding dan ajakan untuk mengurangi bahkan meniadakan penggunaan pupuk anorganik.

“Apa sebenarnya keistimewaan dari pupuk organik Agrodyke, sehingga pihak koperasi cukup selektif untuk membeli gabah maupun menjual beras yang dilabeli beras sehat Bali Madani dan dikemas berbeda?” ujar Wayan Sandi, pembina petani sekaligus peramu bio-urine dan decomposer plus, kepada peserta sekolah lapang dari krama Subak Margaya mencoba melempar pertanyaan.
Nyoman Rajin, Ketua UPS Subak Margaya mengatakan sampai saat ini petani setempat masih menggunakan pupuk Urea, Ponska, KCL, melalui dua kali penaburan, pada umur 18 - 20 hari setelah tanam (HST) dan 40 - 42 HST. “Selanjutnya, disemprot dengan insektisida,” sambung salah satu petani peserta lapang. Berbagai pertanyaan lain pun bermunculan yang mempertanyakan kelebihan pupuk organic Agrodyke dan penggunaannya pada tanaman pertanian.

Wayan Sandi pun menyadari, bahwa tidak mudah mengubah perilaku petani yang sudah lama bergelut dengan suka duka menggarap lahan pertanian dengan berbagai kemanjaan yang ditawarkan pupuk anorganik. Perlahan, Sandi menjelaskan cara penggunaan pupuk organik Agrodyke dengan kelebihannya.

Kemasan satu kilogram pupuk Agrodyke isinya sama dengan takaran 50 sendok makan. Ideal pemakaiannya mulai dari pengolahan tanah, cukup disemprot dengan 10 sendok pupuk Agrodyke yang dilarutkan dalam 14 liter air (1 tangki) untuk luasan 10 are. Selanjutnya, terang Sandi, saat pemupukan pertama dan kedua, campurkan masing-masing 10 sendok pupuk, lalu ditabur dengan merata. Berarti dari takaran 50 sendok sudah 30 sendok terpakai. Kemudian sisanya yang 20 sendok digunakan untuk empat kali semprot dengan dosis 5 sendok makan per tangki per luasan 10 are. Sebaiknya dilakukan setiap 15 hari sekali, pada umur tanaman 15, 30, 45, dan 60 HST. Tujuannya, memaksimalkan kebutuhan nutrisi tersedia bagi tanaman yang sedang dalam masa pembiakan anakan hingga berakhir setelah berumur 42 hari. Selanjutnya penyemprotan terakhir pada umur 60 HST, masuk pada tahap persiapan pertumbuhan bunga padi. Gunanya, untuk melapisi kulit pembungkus padi dari serangan hama, dan juga batang padi akan kenyal sehingga kurang disukai oleh tikus. Demikian penjelasan Sandu cukup detail.

Kepastian Pemanen

Beberapa krama Subak Semila dan Lange pun menyatakan segera akan mengaplikasikan penggunaan pupuk Agrodyke pada musim tanam berikutnya. Bahkan mereka siap walaupun harus menambah biaya, asalkan ada kepastian  koperasi akan menyediakan tenaga panen beserta mesin dores -- pemecah gabah, dan membeli gabah hasil perlakuan Agrodyke.

Made Jaya, Pekaseh Subak Semila mengatakan untuk sekolah lapang tahun ini, Subak Semila menerapkan teknologi tanam jajar Legowo 2 : 1, 4 : 1, dan 6 : 2. Awalnya memang sangat sulit meyakinkan sistem tanam seperti ini, tetapi setelah mereka mendengar kesuksesan petani dari subak lain, justru sekarang mereka yang ingin membuktikannya.

Hal senada diungkapkan Mangku Madri yang pada tahun ini mengambil program jajar Legowo 6 : 1 dan sistem Tanam Benih Langsung (TABELA). “Mengawali rintisan kerja sama dengan koperasi, kami mencoba dulu dengan luasan empat hektar. Kalau sudah terbukti, tentu untuk menerapkan dengan luasan 90 hektar bukannya tidak mungkin,” jelas Mangku Madri, salah satu petani yang suka dengan inovasi baru.

Pada sekolah lapang tanaman padi tahun ini, secara serentak diterapkan pola tanam jajar Legowo mulai 2 : 1, 4 : 1, dan 6 : 1. Banyak keuntungan yang diperoleh, di antaranya jumlah anakan lebih banyak, lebih mudah menyiangi dan mengamati pertumbuhan tanaman serta kemungkinan adanya serangan hama penyakit. Tanaman juga memperoleh intensitas sinar matahari secara penuh.
“Mengapa tanaman padi yang di bagian pematang lebih subur daripada yang di tengah?” Wayan Sandi kembali melempar pertanyaan kepada krama Subak Semila. Jawabnya, karena jalan di pematang sawah lebih sering dilalui banyak orang, dan ini akan menggetarkan tanah di sekitarnya. Dampak dari getaran tersebut menyebabkan unsur hara/nutrisi di dalam tanah akan bergerak pula, sehingga mampu dijangkau akar tanaman padi. Cobalah perhatikan tanaman buah-buahan yang tumbuh di sepanjang jalan yang ramai lalu-lintasnya, pasti akan lebih lebat berbuah ketimbang di kebun yang jauh dari keramaian.

Dengan semakin berkurangnya lahan pertanian di Kota Denpasar, maka langkah intensifikasi yang paling memungkinkan untuk meningkatkan penghasilan petani. Untuk itu dibutuhkan keberanian untuk mencoba berbagai inovasi baru yang diprogramkan pemerintah. “Khususnya di wilayah Denpasar Selatan dan sebagian Denpasar Barat yang rata-rata hasil panennya mencapai 10 ton per hektar, semestinya sudah beralih pada pemakaian mall atau enzim, tidak lagi terpaku pada pupuk,” saran Sandi.

   
  
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA