Selasa, 20 September 2011

POTRET

Uniknya Kerajinan dari Bahan Flanel


 
Flanel, bukan hanya layak sebagai bahan baku pakaian. Di tangan seseorang yang kreatif,   flanel dapat diubah  menjadi aksesoris pemanis pada kaos,  rambut hingga soft book. Hasilnya? Manis,  lucu, menggemaskan,  dan bisa menjadi bahan pengais rezeki.  

Menggeluti usaha berbahan baku kain flanel, dimulai wanita bernama lengkap Diah Setyo Pambudi ini baru di tahun 2010 lalu. Saat itu, ia ingin memanfaatkan waktu luangnya di sela-sela mengasuh kedua buah hatinya, Arin dan Izan, dengan membuat kerajinan yang tidak ribet. Akhirnya ia pun  terpikir untuk membuat pernak-pernik dari bahan flanel. Alasannya, hasil kerajinan dari kain flanel amat menarik dilihat,  terkesan lucu dan gampang dipelajari.

Latar belakang lainnya, karena ia memang pernah coba-coba menghiasi baju anaknya dengan flanel, ternyata banyak ibu-ibu lain yang tertarik dan akhirnya memesan padanya. Melihat respon inilah, Diah tak ragu lagi berbisnis dengan bahan utama kain flanel. Ia mengaku kalau kemampuan membuat kerajinan flanel itu hasil belajar secara otodidak, setelah membaca buku-buku keterampilan.  Akan tetapi  karena sudah sejak lama menggemari kerajinan, ia tidak canggung melakoninya.

“Saya sudah lama menyukai bidang kerajinan, karena sejak kuliah saya biasa membantu kakak yang mempunyai usaha menyediakan berbagai souvenir untuk pernikahan, sehingga tidak asing lagi berkutat dengan kerajinan. Setelah menikah dan tinggal di Denpasar, karena susah meninggalkan anak untuk bekerja di luar, maka saya lantas memutuskan mencoba-coba untuk membuat usaha dari kain flanel ini,” tutur istri dari Himam Miladi.

Modal usaha yang dikeluarkan alumnus Fakultas Teknologi Pertanian – Univ. Brawijaya, Malang ini cuma Rp 500 ribu. Uang itu dipergunakan untuk membeli bahan-bahan, mencakup kain flanel, kaos polos, gunting serta benang. Untuk model yang sejak awal digemari konsumen adalah motif boneka, princess atau tokoh kartun sejenis Dora atau Sleeping Beauty, khususnya bagi konsumen perempuan. Sedang anak-anak pria, cenderung memesan tokoh hero, seperti Batman, Spiderman, Naruto dan lainnya.

Selain kaos berhias flanel, Diah mencoba berinovasi dengan membuat aksesoris atau jepit rambut. Motif jepit rambut yang paling diminati  berupa aneka jenis bunga atau stroberi, dan dikemas dalam plastik transparan.  Produk lain yang dibikin wanita asli Malang, Jatim, ini adalah soft book, yang merupakan kamus bergambar untuk anak-anak. Soft book mirip buku, di mana pada halaman demi halaman, berisi gambar buah, satwa atau jenis lain, diiringi tulisan sebagai penjelas gambar. Soft book berbeda dengan buku, karena soft book dibuat dari kertas craft, yang keseluruhannya dibungkus dengan kain flanel berwarna cerah.

Promosi Via Blog & FB

Produk buatannya sudah dipesan beberapa konsumen dari berbagai daerah, meliputi Bekasi, Balikpapan, Palembang dan kota-kota besar di Tanah Air, berkat promosi yang dilakukan suaminya di berbagai media online, yakni di blog : www.kipas-kipasku.blogspot.com dan facebook flanelku cantik. Meski demikian,  Diah tetap mempertahankan harga yang kompetitif. Dalam arti, harga yang dipatok  tidak terlampau tinggi.

Untuk kaos, harganya antara Rp 35 ribu – Rp 65 ribu. Jepit rambut Rp 25 ribu/lusin. Soft book dipatok harga Rp 125 ribu – 250 ribu, disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan saat pengerjaan. Hingga kini, omset rata-rata yang didapat Diah berkisar Rp 1,5 juta per bulan.

“Saya ingin sekali memperluas usaha, tapi terus-terang saja terkendala modal. Selain itu, kadang-kadang ada pesanan tidak tertangani, karena kewalahan. Maklum, saya nyaris menangani semuanya sendiri, sehingga untuk membuat satu soft book, memakan waktu 2 minggu. Kalau kaos, dalam sehari saya bisa membuat hiasannya sebanyak 2 – 3 buah,” ujarnya.

Kesulitan mendapatkan tenaga untuk membantu, dirasakan pula sebagai salah satu kendala yang amat berarti bagi Diah, sehingga ia berupaya merekrut orang-orang di sekitarnya untuk diajari teknik membuat kerajinan kain flanel, terutama untuk memotong motif dan menjahit dengan teknik tusuk fiston. Setelah mendapatkan tenaga kerja, nanti ia berencana kian memperluas pengenalan produk ke masyarakat, misalnya, dengan partisipasi di bazaar atau pameran.

“Malah, saya amat berharap agar bisa menjadi mitra binaan dinas koperasi di Denpasar atau provinsi, sehingga produk saya bisa lebih memasyarakat. Semoga segera bisa terlaksana, karena tujuan saya, selain mengembangkan usaha, saya memiliki keinginan untuk memberdayakan ibu-ibu atau remaja di sekitar saya, sehingga memiliki penghasilan tambahan. Ya, siapa tahu, suatu hari nanti saya bisa membuat usaha ini menjadi besar sehingga memiliki Istana Flanel, yang menjual berbagai pernak-pernik khusus dari bahan kain flanel,” harapnya.

Cara Membuat Soft Book :

-Siapkan alat dan bahan (gunting, benang, jarum, penggaris, pensil, kertas craft, kain flanel dan karton tipis).
-Buatlah pola dan potong bahan sesuai pola yang dibuat.
-Pola-pola itu disatukan dan dijahit, sehingga membentuk halaman demi halaman flanel.
-Ambil dua halaman, sisipi dengan karton, jahit dengan teknik tusuk fiston. Begitu seterusnya sampai semua halaman selesai.
-Jahit kembali semua halaman pada cover belakang.
-Buatlah cover depan.
-Antara cover depan dan cover belakang disisipi karton craft dan kemudian dijahit. Maka jadilah sebuah soft book. 
   
   
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA