Sabtu, 22 Oktober 2011

AGROBIS


MEMBUAT PUPUK ORGANIK SENDIRI
 
 
Limbah yang selama ini terabaikan, kini dapat dimanfaatkan kembali, seperti jerami, kotoran dan kencing sapi. Keadaan ini mengingatkan kembali pada apa yang telah dilakukan petani sebelum revolusi hijau diberlakukan. Ya, mereka hanya memanfaatkan jerami dan kotoran sapi saat membajak sawah garapannya. Toh hasilnya lebih baik, dalam arti biaya produksi tidak terlalu tinggi, dan beras yang dikonsumsi sehat, karena belum terkontaminasi dengan bahan kimia. Kini, saatnya mengajak petani back to nature. Untuk itu diperlukan kesabaran, pembuktian dan kesungguhan kita semua.

 “Lebih baik kami memakai pupuk organik buatan sendiri.” Seperti itulah ungkapan para petani disela-sela pelatihan pembuatan pupuk organik pada akhir bulan Agustus, di Subak Penge, Tabanan. Pelatihan pembuatan pupuk sendiri berbahan baku jerami, kotoran dan kencing sapi ini diadakan untuk mempersiapkan petani dalam mengantisipasi harga pupuk anorganik yang terus merambat naik, karena tidak disubsidi lagi. Selain itu, untuk mulai menumbuhkan kesadaran agar memanfaatkan potensi organik lokal di sekitarnya, sembari mengurangi pemakaian pupuk kimia yang sudah jelas-jelas merusak tanah dan lingkungan.

“Ide ini muncul ketika melihat sebagian besar petani bingung, karena dijejali berbagai bantuan pupuk organik bersubsidi,” ungkap Wayan Sandi, instruktur dari Unit Agro Kharisma Farm, salah satu unit usaha koperasi Kharisma Madani. Seperti sudah dikatakan sebelumnya, tujuannya, di samping untuk menambah wawasan, juga mendorong kesadaran petani memberdayakan limbah jerami, kotoran dan kencing sapi yang selama ini belum dimanfaatkan di lahan pertanian mereka. Pemberi pelatihan lainnya, Wayan Suarta mengungkapkan, membuat pupuk organik sendiri dapat dijamin kualitasnya. Selain dapat memperbaiki unsur hara tanah, secara bertahap bisa menurunkan biaya produksi, serta meningkatkan harga jual hasil panen.

Sebenarnya, pelatihan ini merupakan paket dari program Yarnen (bayar panen) Bali Madani yang dilakukan pada setiap subak yang selama ini sudah memakai pupuk Agrodyke. Gabahnya pun dibeli oleh Koperasi Kharisma Madani melalui koperasi atau kelompok tani setempat. “Kalau sudah memakai pupuk Agrodyke sejak tahap pengolahan lahan, selanjutnya pupuk tersebut diolah dengan kotoran dan kencing sapi, menjadi kompos dan bio-agro (perpaduan bio-urine dan pupuk Agrodyke),” jelas Wayan Sandi.

Pupuk Kocor dan Kompos
    Selain di subak yeh (basah), pelatihan pembuatan pupuk juga dilakukan di subak abian (kering), meliputi pembuatan pupuk kocor dan pupuk kompos. Menurut Wayan Suarta, penggunaan pupuk kocor bagi petani horti di samping praktis dan biayanya murah, juga mampu memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil panen. Pupuk kocor dibuat dari campuran kotoran dan kencing sapi. Petani ternak cukup membuatkan bak penampungan di belakang kandang.
Langkah pembuatan pupuk kocor sangat sederhana, sebagai berikut :

1.    Siapkan drum bekas atau ember besar.
2.    Siapkan juga ember yang telah diisi air, untuk melarutkan 1 liter decomposer ditambah molase (gula tebu) atau 1 kg gula pasir.
3.    Masukkan kotoran sapi yang masih basah (bercampur dengan kencingnya) ke dalam drum hingga sepertiga dari ukuran drum tersebut. Tambahkan air hingga mencapai tinggi kotoran tersebut. Jangan lupa diisi dolomit 10 kg, dan arang sekam 10 kg. Aduk secara perlahan hingga merata, dan tambahkan air hingga menjadi encer.
4.    Larutkan 1 liter decomposer yang telah dicampur dan molase atau 1 kg gula pasir, lalu tuang ke dalam drum tadi. Tambahkan pupuk organik Agrodyke sebanyak seperempat kilogram.
5.    Selanjutnya diaduk perlahan sambil ditambahkan air hingga penuh.
6.    Setelah tercampur dengan merata, didiamkan selama 15 menit agar air tenang.
7.    Bila keadaan air sudah tenang, tutup rapat dengan plastik guna menghindari masuknya udara luar.
8.    Keesokan harinya, dibuka kembali dan diaduk sebanyak lima kali secara perlahan. Lalu ditutup kembali. Lakukan hal yang sama setiap hari, sampai hari kelima.
9.    Pada hari kedelapan pupuk kocor ini sudah dapat digunakan dengan takaran 1 : 10. Artinya, satu liter pupuk kocor dicampur dengan 10 liter air biasa.


Berikut tahapan pembuatan pupuk kompos :

1.    Ratakan terlebih dulu kotoran sapi kering dengan ketebalan lebih kurang 5 cm.
2.    Siapkan alat semprot ukuran 14 liter (1 tangki).
3.    Siapkan pula ember yang sudah diisi air. Larutkan dua gelas aqua decomposer, ditambah sepuluh sendok makan pupuk Agrodyke, dan molase atau setengah kilogram gula pasir. Diaduk hingga rata. Selanjutnya, tuangkan ke dalam tangki penyemprotan, dan diisi air hingga penuh.
4.    Setelah tercampur, semprotkan pada kotoran sapi kering tersebut.
5.    Kemudian, taburkan dolomit, lalu abu dapur pada seluruh permukaan kotoran yang telah disemprot.
6.    Diulangi kembali. Tambahkan lagi kotoran sapi di atasnya, semprot dan taburi kembali dolomite, lalu abu dapur.
7.    Buat beberapa lapisan kotoran sapi, sesuaikan dengan kebutuhan luas lahan yang digarap.
8.    Tutuplah dengan terpal hingga tidak terkena sinar matahari.
9.    Seminggu kemudian lapisan tersebut diaduk/dibalik sambil menabur abu dapur/sekam agar unsur gas metan yang terkandung dalam kotoran terlepas. Kemudian ditutup kembali. Lakukan setiap minggu, sampai minggu ketiga.
10.    Minggu ketiga, tutup dibuka, lalu disemprot dengan 10 sendok makan pupuk Agrodyke per tangki. Tujuannya, untuk mengikat unsur hara di dalam tanah yang sudah terbentuk, sehingga tidak mudah menguap dan liching, dan juga mempercepat penggemburan daripada tanah. Kemudian dikeringanginkand.
11.    Setelah tiga minggu, kompos siap dikemas atau digunakan.


PUPUK KOMPOS DARI JERAMI

 PELARANGAN untuk membakar jerami sebenarnya ada dasarnya. Pada jerami terkandung unsur N sebagai pupuk pengganti urea. “Ada dua cara praktis yang bisa diterapkan petani,” terang Wayan Sandi. Cara pertama, saat akan mulai mengolah lahan, ratakan jerami yang tersisa pada waktu panen dengan batang pisang. Rebahkan batang pisang tersebut pada lahan, lalu ditarik, maka jerami tersebut akan rebah ke tanah. Selanjutnya, semprot dengan decomposer plus yang mampu mengurai jerami hingga menjadi lebih lunak saat ditraktor. Dengan cara itu jerami akan mudah diolah, dan tanah akan mendapat tambahan unsur N. Cara kedua. Untuk mengolah jerami yang tersisa saat gabah dipecah (dores), gunakan cara seperti mengolah kotoran sapi. Pertama, diratakan dulu, lalu disemprot. Kedua, tumpukkan dan semprot lagi. Setelah selesai, tumpukan jerami ditutup rapat. Selanjutnya perlakuannya sama dengan cara pengolahan kotoran sapi.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA