Sabtu, 22 Oktober 2011

AGROBIS

DI SUBAK RIANG GEDE, TABANAN

PANEN PERDANA YARNEN BALI MADANI
 
Di tengah kesibukan mensosialisasi program yarnen Bali Madani di beberapa wilayah di Bali, ada informasi tentang rencana panen dari Wayan Suarma, salah satu korwil program yarnen Bali Madani untuk wilayah Desa Riang Gede, Tabanan. Sesuai kesepatakan di awal program, ada pertemuan dua minggu sebelum panen. Tujuannya, untuk menentukan harga gabah kering panen, biaya tenaga pemanen, cara bayar, dan beberapa hal yang terkait dengan pelaksanaan panen.
Hal yang berbeda ditawarkan dalam program ini. Di antaranya, padi petani akan dibeli pada saat panen dilaksanakan. “Ini berarti, pihak Koperasi Kharisma Madani akan membeli per kilogram gabah kering panen. Tidak dibeli sebelum masa panen, seperti praktik pengijon yang terjadi selama ini,” ungkap Wayan Suarma saat sosialisasi pertama Februari 2011. Pembentukan koordinator wilayah (korwil) disesuaikan dengan luas wilayah kerja. Dan yang menjadi korwil, biasanya yang memiliki hubungan dekat dengan pekaseh dan krama petani serta dinas pertanian di wilayah setempat.
    Saat sosialisasi terungkap bahwa tidak mudah menawarkan program yarnen kepada petani khususnya di wilayah Riang Gde. Seperti dikatakan Wayan Parmita, Pekaseh Subak Riang Gde. “Sudah seringkali ada tawaran kerjasama, namun lebih banyak kandas di pertengahan jalan.”
Untuk tawaran program dari koperasi, kami mencoba dulu dengan beberapa pengurus, terutama untuk membuktikan pupuk organik Agrodyke. Nah, kalau memang terbukti, para petani biasanya akan membelinya. Selain itu, tawaran untuk membeli gabah saat panen memang belum lazim bagi petani di sini, tetapi kami akan mencoba untuk itu.”

   
Tanpa Pemutih dan Pengawet
Tim Agro Kharisma Farm secara intensif mengawal program yarnen Bali Madani, mulai dari pengolahan lahan, selama masa pemeliharaan, dan menjelang panen. “Kurang lebih enam bulan kami mondar-mandir ke Riang Gde, agar program perdana yarnen ini bisa berjalan lancer,” jelas Ajus Sucitrawan, anggota Tim Agro Kharisma Farm. Dari awal sudah terlihat antusias para peserta program yarnen ini saat mengikuti pelatihan pengolahan lahan dengan pupuk Agrodyke, dan sortasi benih (pemilihan benih padi untuk bibit). Begitu pula pada waktu diadakan pelatihan membuat pupuk organik sendiri berbahan baku kotoran sapi, yang dipandu Wayan Sandi, instruktur dari Tim Agro.

    “Banyak pengetahuan yang kami peroleh selama masa pemeliharaan,” ungkap Dewa Wirasana, koordinator kelompok Agro yang ada di Desa Riang Gde. Ia menyebut saat padi mulai terkena gejala serangan merah (tungro), biasanya disemprot dengan insektisida berbahan kimia. Namun kali ini, dicoba memakai bio-agro yang merupakan kombinasi bio urine dari kencing sapi yang dipadukan dengan pupuk Agrodyke.
“Dari hasil percobaan yang sudah dilakukan, ternyata bio-agro cukup epektif, dapat menghentikan laju penyebaran serangan tungro, kresek, tikus, dan walang sangit,” jelas Wayan Sandi, instruktur dan formulator bio-agro. Kunci keberhasilan menerapkan teknologi pupuk Agrodyke dan bio-agro adalah rajin mengamati perkembangan tanaman padi. Sedikit saja ada gejala, segera disemprot agar daun, batang dan buah padi terlindungi. Diterangkan, pupuk Agrodyke berbahan dasar rumput laut, yang memiliki sifat gel (baca : jel). Sifat gel ini menyebabkan batang padi menjadi kenyal, sehingga kurang diminati oleh tikus, dan hama lain.

    Beberapa minggu menjelang panen, petani peserta program yarnen Bali Madani mulai resah, karena para pengijon sudah turun ke lapangan dan menawar padi yang telah siap untuk dipanen. Demikian informasi yang disampaikan Wayan Suarma kepada Tim Agro Kharisma Farm. Mereka gelisah, karena pihak koperasi belum memberikan kepastian harga beli gabah. Sedangkan dari pihak koperasi tetap mengacu pada perjanjian, akan membeli gabah pada saat panen, bukannya membeli padi yang belum siap dipanen. Kenyataan ini sebenarnya sudah diingatkan sebelumnya oleh para penyuluh dari dinas pertanian di beberapa wilayah kerja Bali Madani. “Walaupun sudah ada kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian kerja, hal tersebut belum menjamin akan bisa terlaksana sepenuhnya,” ungkap beberapa penyuluh pertanian lapangan.
Kondisi lapangan memang tak jauh berbeda. Petani umumnya menginginkan pembelian padinya dengan  system pajeg (taksiran), seperti kebiasaan selama ini. Menyikapi keadaan demikian, pihak koperasi mencoba untuk mengikuti kemauan petani, dengan catatan akan diadakan evaluasi bersama untuk kerja sama pada masa tanam selanjutnya.  

    Banyak petani yang belum ikut program ini sangat antusias melihat perkembangan tanaman padi. “Mereka jelas dapat melihat perbedaan padi yang memakai pupuk Agrodyke dan bio-agro dengan yang tanpa perlakuan. Dan pada saat panen ternyata kami mendapat gabah satu kampil dengan berat 75 kilogram. Sebelumnya, paling banyak memperoleh 60 – 65 kilogram. Dan saya sebagai pelaku yang secara intensif mengikuti petunjuk yang diberikan, telah membuktikan dan puas dengan perlakuan pupuk Agrodyke dan bio-agro ini. Baru kali ini saya melihat buah padi penuh dan padat. Sedikit sekali yang hampa,” jelas Dewa Wirasana.

    Koperasi sebagai penyelenggara program ini, melihat kenyataan yang terjadi di lapangan merupakan bahan evaluasi guna pelaksanaan yang lebih baik pada masa tanam berikutnya. “Menyikapi adanya penambahan peserta, sebaiknya kami akan berdiskusi terlebih dulu dengan mereka agar semuanya transparan,” ungkap Kadek Joniarta, pengurus koperasi yang membidangi unit Agro Kharisma Farm
Masa tanam berikutnya diharapkan mencapai luasan 50 hektar, sehingga persediaan beras untuk memenuhi permintaan konsumen selalu tersdia. “Beras Sehat Bali Madani sudah mulai dikenal konsumen. Beras kami tidak memakai pemutih, karena langsung dikemas setelah digiling. Kami menjaga mutu beras mulai dari pemakaian pupuk sampai pengawasan pemeliharaan tanaman.
 

         
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA