KEIKHLASAN KEMBANGKAN KOPERASI
Tentu bukan perkara mudah mengembangkan sebuah koperasi hingga menjadi besar. Koperasi Pasar Srinadi Klungkung, salah satu koperasi yang menjadi bukti bahwa koperasi memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi besar. Di balik sukses yang diraih, tentu ada orang-orang yang bekerja keras.
I Nyoman Suwirta, S.Pd, M.M. salah satunya. Pria yang saat ini menjabat Manajer Koppas Srinadi Klungkung ini menuturkan pengalamannya mengelola koperasi. Di samping kerja keras, profesionalisme menjadi syarat mutlak pengembangan koperasi. Tak hanya itu, menurut pria kelahiran 1 Desember 1967 ini, mereka yang mengelola koperasi wajib bekerja dengan ikhlas dan mengesampingkan ego.
Pria yang telah bekerja di Koppas Srinadi sejak 1987 ini mengungkapkan, mengelola koperasi bukanlah hal yang mudah. Bekerja di koperasi tak ubahnya ngayah. Karenanya keikhlasan mutlak diperlukan sehingga pengembangan bisa dilakukan dengan sepenuh hati.
"Mengelola koperasi perlu keikhlasan dari dalam hati. Apa saja yang dikerjakan sepenuhnya didedikasikan bagi perkembangan koperasi. Pun demikian dengan apa yang didapat koperasi sepenuhnya demi masyarakat," ujar pria asal Nusa Ceningan ini.
Pengembangan koperasi akan berjalan maksimal apabila mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Masyarakat yang menjadi anggota koperasi secara otomatis menjadi pemilik koperasi, karenanya setiap peluang yang didapat koperasi seharunya digarap bersama dengan masyarakat. Hanya saja ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Seringkali ada ego untuk menangkap peluang sendiri tanpa melakukan kerjasama. Padahal dengan kerjasama maka dampak yang diberikan akan menjadi lebih luas.
Perkembangan koperasi juga sangat dipengaruhi kualitas SDM yang dimiliki. Selain didukung tenaga yang professional, koperasi harus mampu membangun rasa memiliki pada setiap karyawannya. Dengan demikian mereka akan bekerja dengan sepenuh hati.
Suwirta menceritakan transparansi menjadi kunci utama dalam menumbuhkan rasa memiliki. "Di sini setiap bulan kami tempel laporan keuangan di semua unit. Dengan demikian semua staf akan mengetahui kinerja koperasi. Mereka tahu hasil kerja mereka serta perbandingannya dengan apa yang mereka dapatkan," jelas suami Ni Nengah Rayu Astini ini.
Setelah lebih dari 20 tahun bekerja di koperasi, Suwirta meyakini semua koperasi berpeluang berkembang seperti Koppas Srinadi. Intinya adalah bagaimana menjaga loyalitas anggota sehingga tetap berminat memanfaatkan pelayanan koperasi.
"Dalam merangkul anggota harus dilakukan dengan benar. Yang tak kalah penting dalam mengolola usaha yakni pembagian sisa hasil usaha (SHU). SHU harus dibagi secara proporsional kepada seluruh anggota sesuai dengan kontribusi, sehingga timbul rasa keadilan," tutur ayah tiga anak ini.
Terkait unit usaha simpan pinjam, untuk menjaga loyalitas anggota, Suwirta memberikan beberapa saran. Pertama, anggota yang memerlukan pinjaman agar bisa mendapat pinjaman dengan cepat dan mudah. Kedua, bagi anggota yang menyimpan dana merasa aman menyimpan uangnya. Dan ketiga, anggota baru yang masuk merasa nyaman saat menjadi anggota.
Setelah koperasi berkembang maka yang harus dilakukan adalah menunjukkan kepedulian kepada lingkungan. Selama ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan Koppas Srinadi yakni pemberian beasiswa pada siswa kurang mampu dan pemberian kursi roda bekerjasama dengan dinas sosial. Di samping itu tak jarang Koppas Srinadi menyelenggarakan turnamen bola voli sebagai bentuk kepedulian kepada generasi muda.
Perhatian pemerintah terhadap koperasi yang mulai meningkat belakangan ini memang sangat dihargai pria lulusan Magister Management STIE Triatma Mulia ini. Hanya saja pemerintah diminta bukan hanya mengejar kuantitas koperasi, akan tetapi lebih menekankan pada kualitas koperasi. Termasuk dalam pemberian dana, harus disertai dengan pengawasan dan pendampingan agar dana yang dikucurkan tepat sasaran.
