Sabtu, 22 Oktober 2011

PELUANG USAHA

KERANJANG-KERANJANG  BAMBU DARI TANGAN PEREMPUAN


Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat untuk menyiasati kebutuhan hidup yang makin meningkat. Warga Dusun Nyebeh Desa Pengotan, Bangli, misalnya. Jika sebelumnya mereka hanya menggantungkan diri pada pertanian dan peternakan, saat ini masyarakat mulai menjadikan keahlian menganyam keranjang bambu sebagai salah satu mata pencaharian.

Meski hanya sebagai usaha sampingan yang dikerjakan selepas bertani dan mencari pakan sapi, pembuatan keranjang bambu cukup bisa diandalkan membantu ekonomi keluarga. Setelah bambu dibelah dan  disiapkan para lelaki, pekerjaan menganyam keranjang bambu kebanyakan dikerjakan oleh perempuan, dibantu anak-anak sepulang sekolah.

Ni Wayan Darti (31) salah satunya. Ibu satu anak ini setiap hari membuat keranjang sehabis mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Semua proses menganyam keranjang dikerjakannya sendiri, hanya pada proses memulai menganyam yang disebut dengan istilah nasarin ia dibantu oleh putranya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Bukan hanya menganyam, tak jarang perempuan ini juga harus menebang sendiri bambu yang akan dipakai. Tentu bukan hal yang mudah terlebih jika harus dilakukan oleh seorang perempuan. Hanya saja ini terpaksa dilakukannya demi jaminan kelangsungan produksi keranjangnya.

"Seringkali saya harus menebang sendiri bambu yang saya beli. Meski susah, tapi ini lebih menguntungkan. Harga bambunya lebih murah, saya juga bisa memilih dan membeli bambu yang layak untuk digunakan sebagai bahan keranjang. Jadi kemungkinan ruginya lebih kecil," ungkapnya.

Sebatang bambu yang digunakan sebagai bahan keranjang dibeli seharga Rp 10 ribu. Sementara jika dibeli dari pengepul harganya mencapai Rp 15 ribu per batang.  "Kalau membeli dari pengepul bambunya tidak boleh dipilih. Semua yang dibawa harus dibeli. Pernah saya rugi karena sebagian besar bambu tak layak dipakai keranjang," tuturnya.

Setelah bambu ditebang selanjutnya dipotong-potong dengan panjang sekitar 2 meter untuk kemudian dibersihkan. Tahap selanjutnya bambu dibelah. Tahap ini memerlukan keahlian khusus sehingga bambu tetap memiliki ukuran yang sama dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Setelah didapat ukuran yang sesuai, selanjutnya bagian dalam bambu dibersihkan untuk menghilangkan bagian-bagian ruas bambu atau yang dikenal juga dengan istilah basang kerokan. Setelah bersih bambu dibelah dengan ketebalan yang sesuai. Usai tahap ini bambu diangin-anginkan untuk kemudian mulai dianyam.

Dari sebatang bambu ukuran besar biasanya hanya didapat 4-5 buah keranjang ukuran besar. Keranjang yang sudah jadi akan dijual kepada pengepul seharga Rp 4 ribu per buah. Mengingat ia bekerja sendiri biasanya dalam satu hari Darti hanya mampu menghasilkan 1 lonjor (10 buah) keranjang. Keranjang hasil buatannya akan diambil pengepul secara rutin setiap 3 hari sekali.

Sebenarnya harga keranjang buatannya bisa dijual dengan lebih mahal jika dibuat hanya dari bagian kulit (punggung) bambu saja. Hanya saja meski harganya lebih mahal keranjang jenis ini sangat sulit dikerjakan sehingga ia kurang berminat untuk membuatnya.

“Membuat keranjang ini saya warisi turun-temurun. Hampir di setiap rumah di Desa Pengotan bisa ditemukan orang-orang yang menganyam keranjang dengan berbagai ukuran dan fungsinya. Hanya saja tak ada yang menjadikannya sebagai mata pencaharian utama,” tutur Darti.



Berkah Musim Panen
Modal masih tetap menjadi masalah utama yang dihadapi Darti dan pengrajin keranjang bambu lainnya. Terlebih saat bambu semakin sulit didapat dan harganya juga semakin meroket. Sementara mereka masih tetap mengandalkan pengepul yang akan membeli hasil kerja mereka.

"Kami kerja tanpa modal, dalam sehari hasil bersih yang didapat kadang tak sampai Rp 10 ribu. Belum lagi kalau habis hari raya atau ada keperluan mendadak bisa jadi modal saya langsung habis dan untuk mulai membuat keranjang lagi semua harus dimulai dari awal.

Saat musim panen jeruk, mangga, tomat dan beberapa produk pertanian lainnya merupakan saat yang paling ditunggu perajin keranjang seperti Darti. Meski tak ada peningkatan pesanan, saat seperti inilah mereka memiliki kesempatan menjual keranjang dengan harga yang lebih baik.

"Kalau sudah panen yang ambil keranjang bukan cuma pengepul, tapi juga orang yang perlu wadah hasil panen. Kalau mereka kepepet mereka berani membeli keranjang dengan harga lebih mahal. Jadi saya bisa lebih untung," imbuhnya.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA