Sabtu, 22 Oktober 2011

SAJIAN UTAMA

TIDAK AKUNTABEL, BAGAIMANA MAU PROMOSI?


Bagi sebagian besar koperasi, proses audit mungkin merupakan hal baru, atau bahkan tabu. Tetapi tidak bagi Koperasi Simpan Pinjam Citra Mandiri, sebuah koperasi berbasis masyarakat Banjar Panti, Sanur. Sejak resmi berdiri pada tahun 2000, koperasi yang berkantor di Jalan Danau Beratan 66A, Sanur, ini sudah sangat akrab dengan proses audit.

Manajer KSP Citra Mandiri, I Wayan Sudarta mengungkapkan, proses audit dilakukan karena pihaknya memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan-perbaikan demi pengembangan diri. “Kita punya komitmen untuk melakukan perbaikan, melakukan penilaian, untuk membentuk opini-opini yang baik dan positif bagi usaha kami. Jadi kami sejak awal berdiri sampai saat ini, selalu diaudit,” tegas Sudarta.

Selain audit independen dari akuntan publik, KSP Citra Mandiri juga dirating oleh MICRA, sebuah lembaga swadaya masyarakat perpanjangan tangan Bank Dunia yang bergerak dalam pengembangan lembaga keuangan mikro di Indonesia. “Tidak banyak koperasi yang mau dirating. Dalam peratingan itu, semuanya dinilai. Sesuai atau tidak dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan,” ujarnya.

Hasil penilaian MICRA, juga menunjukkan tingkat kelayakan koperasi untuk dibiayai. “Jadi dengan membawa hasil audit dan penilaian MICRA, kami bisa mengakses lembaga-lembaga kreditur yang ada di dalam maupun luar negeri,” jelas Sudarta.

Demi Ketentuan?

KSP Citra Mandiri melakukan audit untuk menjawab ketentuan pemerintah yang mewajibkan audit bagi koperasi simpan pinjam dengan volume pinjaman di atas Rp 1 miliar. “Artinya apa yang kita lakukan, benar menurut apa yang sudah digariskan,” tegasnya.
Selain untuk memenuhi kewajiban, audit laporan keuangan juga dilakukan KSP Citra Mandiri sebagai modal untuk berpromosi. “Kita ingin mendapat promosi dengan laporan audit yang menyatakan laporan keuangan kita baik dan memenuhi kriteria. Bagaimana kita mau promosi kalau lembaga kita sendiri tidak akuntabel?” ia mengingatkan.

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan jasa akuntan publik dalam proses audit, menurut Sudarta, bukanlah hal yang memberatkan, mengingat besarnya manfaat dari hasil audit itu. Hasil audit membuka banyak peluang akses kerjasama maupun suntikan dana dari berbagai lembaga.

Sekali proses audit, jelas dia, diperlukan dana sekitar Rp 10 juta. “Uang itu tidak seberapa dibandingkan tanggung jawab yang besar untuk mempertanggungjawabkan aset kita yang mencapai Rp 40 miliar,” ucapnya yakin.

Sudarta menambahkan, hasil audit akuntan publik juga dapat meningkatkan kepercayaan anggota terhadap kinerja pengurus koperasi. Setidaknya, hal itu dapat menghindari munculnya kecurigaan anggota atas kemungkinan dananya disalahgunakan oleh pengurus.

Sudarta yang merupakan satu dari sedikit manajer koperasi bersertifikat di Bali menegaskan, audit menjadi salah satu dasar penting bagi pengurus dalam melakukan berbagai perbaikan dari tahun ke tahun. Hal itu pula yang membuat KSP Citra Mandiri merengkuh banyak prestasi. Setelah merengkuh juara II tingkat Kota Denpasar sebagai koperasi berprestasi tahun 2001, di tahun berikutnya KSP Citra Mandiri menjadi koperasi terbaik di Kota Denpasar untuk kategori Koperasi Simpan Pinjam. Di tahun 2003, KSP Citra Mandiri kembali mempersembahkan prestasi nasional. Pada tahun 2007, KSP Citra Mandiri dinyatakan sebagai KSP terbaik di Bali dan KSP berprestasi tingkat nasional.

Khusus pengelola koperasi berprestasi, pada tahun 2007 Sudarta dianugerahi bintang jasa Bhakti Koperasi oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM RI. Setahun kemudian, di 2008, Sudarta juga mendapat anugerah Satyalencana Wira Karya dari Presiden RI yang diserahkan di Jakarta,  12 Juli 2008, bertepatan dengan Hari Koperasi ke-61. “Satu bukti lagi bahwa kerja keras akan membuahkan hasil yang baik,” tandasnya.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA