Senin, 28 November 2011

EDDY PUTRA PANCA JATUH BANGUN KARENA KEPERCAYAAN (Edisi 11)

Membangun usaha travel agent susah susah gampang. Networking dan kepercayaan menjadi kunci keberhasilan. Oversuplai membuat persaingan menjadi tak sehat.

Presiden Direktur PT. Tour East Indonesia, Eddy Putra Panca, menyebut bisnis travel agent seperti jasa makelar. Pasalnya, travel agent tidak mempunyai produk langsung, melainkan hanya memasarkan destinasi wisata yang sudah ada. Karenanya, bisnis ini memposisikan kepercayaan di atas segalanya. "Kalau tidak bisa jaga kepercayaan, susah berkembang. Makanya banyak juga travel agent yang jatuh bangun, karena tidak bisa jaga kepercayaan," ujar pria kelahiran 41 tahun silam itu.

Level kepercayaan itulah diperkirakan akan menjadi tantangan terberat bagi koperasi yang terjun di bidang travel agent. Menurut dia, tidak mudah bagi koperasi untuk membangun kepercayaan publik karena koperasi merupakan badan yang dimiliki banyak anggota. "Yang paling sulit itu kemungkinan saat menjalin kontrak kerjasama. Harus ada upaya riil agar travel agent di luar negeri maupun pihak-pihak lain, bisa percaya pada keberadaan koperasi," kata Eddy.

Selain kepercayaan, kemampuan networking juga sangat menentukan keberhasilan sebuah usaha travel agent. Networking yang kuat dengan berbagai pihak, menjadi sesuatu yang mutlak untuk bisa menjadi travel agent yang kompetitif dalam kualitas maupun harga.

Sekretaris Umum Asosiasi Travel Agent (Asita) Bali itu mengingatkan, persaingan dalam bisnis travel agent di Bali saat ini sangatlah ketat. Bahkan, persaingan yang ada sudah mengarah pada perang tarif. Hal ini disebabkan karena terjadi oversuplai dalam bisnis tersebut. "Kalau ditengok dari kapasitas wisatawan yang datang, dengan jumlah travel agent, sudah terjadi oversuplai," jelas Eddy.

Saat ini tercatat ada lebih dari 1.000 unit travel agent yang terdaftar resmi di Dinas Pariwisata Bali dan Asita Bali. Jumlah itu belum termasuk travel agent-travel agent yang beroperasi secara ilegal. Karena tidak mengantongi izin, secara otomatis travel agent tersebut beroperasi secara sembunyi-sembunyi dan terbebas dari beban pajak. Tanpa membayar pajak dan beban-beban lainnya, travel agent ilegalpun bisa dengan bebas menjual paket travelnya dengan harga murah. Hal inilah yang menimbulkan terjadinya perang harga dan cenderung merusak pasar.

Praktik-praktik usaha yang tidak seharusnya pun kerap dihalalkan oleh beberapa travel agent nakal. Mereka "menjual" wisatawan kepada guide dan sopirnya, untuk mendapatkan keuntungan lebih. Untuk mendapatkan keuntungan, para wisatawan pun "dipaksa" oleh guide maupun sopirnya agar berbelanja di tempat-tempat tertentu demi mendapat komisi. Praktik yang kerap disebut praktik jual beli kepala itu, diakui Eddy, sangat merusak citra pariwisata Bali. "Awalnya praktik jual beli kepala ini banyak terjadi di pasar Taiwan, kemudian merambat ke pasar China. Tapi belakangan sudah mulai ada pembenahan," katanya.

Menyetop praktik-praktik nakal dan ilegal, diakui Eddy, bukanlah hal mudah. Apalagi sebagian besar wisatawan tidak cukup jeli menyeleksi travel agent yang dimintai jasanya. Al hasil, travel agent ilegal tetap mendapat tempat di hati para wisatawan.

Ia juga menyesalkan sikap beberapa oknum pengusaha travel agent yang seolah tidak memikirkan nasib Bali dalam jangka panjang. "Banyak orang yang tidak berpikir panjang, sehingga akhirnya infrastruktur yang ditawarkan tidak berkualitas. Dia hanya berpikir jangka pendek, bagaimana caranya agar dapat uang," keluhnya.

Idealnya, tambah Eddy, jumlah travel agent yang beroperasi di Bali hanya sekitar 300-an unit. Hal itu sesuai dengan kajian yang dilakukan Asita Bali bekerjasama dengan Universitas Udayana dan Dinas Pariwisata Bali beberapa waktu lalu. "Istilahnya, kalau ada 300-an unit travel agent di Bali, barulah travel agent itu bisa hidup layak," tambahnya.

Namun Eddy mempersilahkan semua pihak untuk ikut bersaing dalam bisnis travel agent, asalkan secara sehat. Dikatakan, pasar pariwisata Bali yang bisa digarap sangat beragam. Ada beberapa pasar tradisional yang masih cukup stabil seperti Australia dan negara-negara Eropa. "Kalaupun ada yang mau masuk ke pasar ini, hanya cenderung memperebutkan porsi yang sudah ada," kata dia.

Sebaliknya, ada beberapa pasar baru yang masih bisa dikembangkan seperti pasar wisatawan India, China, dan Rusia. Namun masih banyak kendala yang harus dihadapi untuk menggarap pasar-pasar baru tersebut. Kendala yang paling utama adalah aksesibilitas yang sangat terbatas karena minimnya kapasitas penerbangan. "Belum banyak akses penerbangan ke negara-negara pasar baru pariwisata Bali itu," keluh dia.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA