Senin, 28 November 2011

KONSEP MATANG CIPTAKAN SPA UNIK DAN MENARIK (Edisi 11)


Berkembangnya industri pariwisata di Bali, berdampak positif bagi perkembangan perekonoman Bali. Berbagai sarana penunjang pariwisata dibangun, mulai hotel hingga restoran. Keberadaannya tentu menjadi penyedia lapangan kerja baru, bukan hanya masyarakat Bali, tetapi juga orang-orang yang datang dari daerah lain.

Sejak beberapa tahun belakangan, pariwisata Bali semakin diramaikan dengan bermunculannya tempat-tempat memanjakan diri berupa Spa. Kehadiran Spa ternyata mendapat sambutan positif dari wisatawan yang berkunjung, bahkan menjadi salah satu “menu wisata” favorit bagi wisatawan yang tengah berlibur di Bali. Banyak Spa bermunculan dengan berbagai pelayanan yang ditawarkan. Bahkan keberadaan Spa di Bali dengan segala keunikannya, telah membuat Bali mendapat predikat sebagai pulau Spa terbaik.

Direktur Bali Orchid Spa, I Ketut Purna, mengungkapkan usaha Spa sangat bagus untuk Bali saat ini. Menurutnya, trend Spa masih akan tetap bertahan hingga beberapa tahun ke depan. Ini tak terlepas dari trend yang berkembang di dunia yakni natural healing yang semakin diminati.

Bagi Bali, perkembangan Spa sangat didukung oleh karakter pariwisata Bali yang mengutamakan keindahan alam serta keunikan budaya. Wisatawan yang datang ke Bali umumnya ingin menikmati keindahan alam Bali, dan jika ini dipadukan dengan natural healing, terlebih dengan sentuhan tradisi yang unik, tentu akan menjadi sebuah produk yang unik dan menarik.

“Orang datang ke Bali untuk menikmati keindahan alam Bali dan keunikan tradisi yang ada. Jika dikembangkan, spa yang memadukan keduanya tentu akan menjadi sesuatu yang sangat menarik. Terlebih balinesse massages sangat terkenal di dunia, ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ujarnya.

Dilihat dari pasar, Spa juga memiliki pangsa pasar yang sangat luas. Wisatawan dari berbagai usia bisa menjadi penikmat Spa. Pun demikian dengan negara asal, wisatawan dari hampir semua negara, tak hanya terbatas pada Eropa maupun Amerika, bahkan Asia, juga menjadi pasar potensial bagi Spa yang saat ini telah berkembang sebagai sebuah lifestyle.

Hanya saja Purna menuturkan, membuka sebuah Spa, bukanlah usaha yang bisa dimulai dengan modal sedikit. Untuk sebuah Spa dengan kelas menengah ke atas, diperlukan modal sekitar Rp 500 juta. Sementara jika Spa memang hanya akan mempergunakan tempat semacam ruko, modal yang diperlukan berkisar Rp 200-300 juta.
“Memulai Spa memerlukan modal besar, tak dipungkiri perlu bantuan pemodal untuk memulainya. Bahkan saat memulai membuka Spa, saya harus meminta bantuan bank. Modal yang besar tentu harus dikelola dengan sebaik mungkin agar hasilnya maksimal,” terangnya.

Meski modal yang diperlukan relatif besar, menurut Purna, Spa jika dikelola dengan baik, merupakan sebuah usaha yang potensial dan menarik untuk dikembangkan. Menjadi potensial karena pasarnya begitu luas, dan menarik karena usaha Spa bukan hanya menyangkut produk dan kualitas pelayanan, akan tetapi juga berkaitan erat dengan kreativitas seorang pengusaha dalam melakukan inovasi.

Besarnya pasar yang dimiliki Spa inilah, yang menginspirasi mengapa Purna pada 2007 memutuskan memulai usaha Spa yang berlokasi di Bypass Ngurah Rai. Saat itu ia hanya mengelola travel agent dan bekerja dengan salah satu Spa yang ada di Kuta. Setiap bulan ia membayar ke Spa tersebut Rp 20-30 juta.

Kondisi ini membuatnya berpikir jika dari satu travel saja didapat Rp 20-30 juta per bulan, maka bisa dibayangkan dengan 5 travel agent saja bisa didapat Rp 100-150 juta. Sementara di Bali saja terdaftar sekitar 400 travel, belum lagi para guide dan travel freelance, maka bisa dibayangkan seberapa besar potensi yang dimiliki dari bisnis ini.

Seiring berjalannya waktu, diakuai persaingan Spa memang semakin ketat. Hanya saja pasar yang dimiliki masih luas. Untuk menghadapi persaingan ini, Purna membagi sebuah rahasia. Inovasi dinilai sebagai salah satu kunci untuk eksis di tengah persaingan yang semakin ketat.

Karenanya, sebelum membuka Spa, seorang pengusaha diminta untuk menyiapkan konsep secara matang. Konsep matang diperlukan agar Spa yang dimiliki berbeda dengan yang telah ada. Ini sangat perlu dipikirkan mengingat pada dasarnya Spa selalu menawarkan hal yang sama. Jadi perlu ketelitian dan detil untuk menciptakan sebuah perbedaan yang akan membuat customer terkesan.

Pemilihan lokasi usaha yang strategis juga sangat penting. Spa sangat bergantung pada kualitas terapis, karenanya kualitas terapis juga menjadi salah satu faktor penting. Terapis yang dipilih haruslah yang andal dan berkompeten, sehingga mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Dengan pelayanan yang baik mulai dari bagian awal hingga akhir, maka mereka yang datang mendapat kepuasan yang bisa menjadi garansi keberlangsungan sebuah usaha.

“Perlu konsep yang jelas dan unik untuk memulai Spa di Bali saat ini. Jika hanya Spa yang di ruko, atau dalam gedung, tentu tak akan terlalu menarik karena sudah biasa. Di tempat saya, bagaimana membuat mereka yang datang merasa serasa di alam, dengan segala keindahan dan keunikannya. Mereka datang ke Bali kan untuk menikmati keindahan alam. Jadi saat di Spa pun, mereka harus bisa tetap merasakannya.

Menurut Purna, Spa masih tetap diminati dan akan selalu diminati, sehingga mereka yang ingin mulai membuka Spa baru, tak perlu merasa takut tidak mendapat pasar. Bisa dilihat saat ini, meski begitu banyak Spa di Bali, ternyata wisatawan tetap saja mengantri untuk dapat menikmatinya. Spa masih akan tetap dibutuhkan dan sulit ditemukan titik jenuhnya. Ini tentu berbeda dengan atraksi wisata lain yang memiliki titik jenuh tersendiri.

Persaingan juga dinilai bukanlah sesuatu yang patut ditakuti. Persaingan menurutnya harus dilihat secara positif sebagai sesuatu yang memacu kreativitas, selama dilakukan dengan cara-cara yang wajar dan sportif. “Kuncinya tetap pada kualitas pelayanan. Jika bersaing dalam memberikan pelayanan yang terbaik pada customer, tentu semua akan diuntungkan baik customer maupun pengusahanya,” bebernya.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA