Budaya dan keindahan alam Bali telah membuka lahan industri baru, yaitu industri pariwisata. Jika dilihat dari besarnya modal yang masuk dan ditanam di Bali, industri ini menjanjikan keuntungan yang besar. Bukan hanya pemodal domestik, pemodal bertaraf internasional pun banyak berinvestasi di Bali. Di satu sisi ini sangat menguntungkan, karena industri pariwisata adalah industri yang memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi. Apalagi pariwisata Bali berbasis budaya, sehingga peranan masyarakat dengan perilakunya, sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang pariwisata.
Berbeda dengan industri yang berbasis teknologi. Peran manusia banyak digantikan oleh mesin. Dalam industri pariwisata, keramah-tamahan, senyuman, perilaku manusia, adalah hal yang tidak mungkin digantikan dengan mesin. Keberadaan manusia dalam industri pariwisata yang berbasis budaya, tidak mungkin digantikan dengan mesin. Industri pariwisata, selain padat modal, juga padat karya.
Peluang usaha yang ada dalam industri pariwisata sayangnya belum dilirik oleh gerakan koperasi yang ada di Bali. Bisnis pariwisata di Bali lebih banyak dijalankan oleh pelaku bisnis dan pemodal, baik domestik maupun asing. Akibatnya, orang Bali sebagai pemilik wilayah maupun sebagai pelaku budaya, kurang menikmati hasil dari industri ini. Orang Bali hanya sebagai obyek dan pelaku wisata saja. Sedangkan hasilnya dinikmati oleh hanya segelintir orang.
Semestinya dengan aset pariwisata yang berlimpah, mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk Bali. Dan itu bisa terwujud jika orang Bali bisa menjadi tuan, di rumahnya sendiri. Salah satu cara mencapainya melalui gerakan koperasi yang berbasis keanggotaan. Koperasi yang ada harus bisa berpikir dan bermain seperti pemodal atau pebisnis. Koperasi yang ada sekarang, bidang usahanya lebih banyak hanya sebatas simpan pinjam. Atau paling jauh hanya membuat Waserda (warung serba ada). Belum ada koperasi di Bali yang punya hotel bintang lima, biro perjalanan, restaurant, spa atau unit usaha di bidang pariwisata. Jika modal yang menjadi masalah, bisa diatasi jika gerakan koperasi mau bersatu dan memadukan modal yang ada. Kepemilikan bisa dihitung berdasarkan penyertaan modal. Pengelolaan bisa diserahkan kepada manajemen yang profesional.
Gerakan koperasi berposisi sebagai pemodal. Sistem yang sama bisa dilakukan dalam berbagai bentuk bisnis yang padat modal. Jika gerakan koperasi mau melirik dan mengambil alih industri pariwisata yang ada di Bali, maka menjadi tuan di negeri sendiri adalah hal yang niscaya. Pariwisata akan mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk Bali. Maka gembar-gembor ajeg Bali tidak perlu dilakukan karena masyarakatnyalah yang akan berupaya menjaga aset-aset yang ada.
Dan untuk edisi kali ini, redaksi mencoba mengangkat pariwisata sebagai sajian utama. Baik ulasan dari sisi akademis, juga peluang-peluang yang ada serta kiat-kiat dari beberapa pelaku bisnis di industri ini. Semoga apa yang tersaji bisa menggugah dan menginspirasi gerakan koperasi untuk turut berperan aktif dalam industri pariwisata. Melalui gerakan koperasi, bisnis pariwisata yang dibangun bisa berdampak langsung pada kesejahteraan anggotanya.
