Senin, 28 November 2011

MASIH BESAR, PELUANG USAHA PARIWISATA (Edisi 11)

Catatan Dinas Pariwisata Provinsi Bali, kunjungan wisatawan asing ke daerah ini mencapai lebih dari 8.000 orang per hari. Kunjungan wisatawan asing ke Bali selama 2011 (hingga September) telah mencapai lebih dari 1,8 juta orang. Tingkat hunian hotel pun mencapai rata-rata 70%.




Anggapan beberapa kalangan yang menyebut bahwa industri pariwisata Bali sudah mencapai titik jenuh, secara tegas dibantah Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ida Bagus Subhiksu. Kejenuhan itu hanya diakui terjadi pasa sektor perhotelan di wilayah Bali selatan, khususnya wilayah Badung, Gianyar, dan Denpasar. Sedangkan peluang untuk pengembangan hotel di luar Bali selatan maupun sektor usaha lainnya di seluruh Bali, diakui masih terbuka. "Hemat saya, belum terjadi kejenuhan terhadap perkembangan industri Pariwisata, kecuali untuk sektor perhotelan di wilayah Kabupaten Badung, Gianyar, dan Kota Denpasar," ujar Subhiksu.

Bali juga dipastikan akan tetap menjadi primadona destinasi wisata dunia. "Itu karena Bali memiliki taksu atau vibrasi spiritual yang sulit ditandingi oleh destinasi lain," tambahnya.

Maka bukan tanpa alasan, Bali ditetapkan menjadi 'The Best Island in the World' (pulau terbaik di dunia) oleh Travel and Leisure, majalah pariwisata terkenal yang bermarkas di New York, Amerika Serikat. "Wisatawan akan tetap memilih Bali, karena Bali memiliki kelebihan di bidang alam, budaya, manusia yang ramah, nilai filosofi dan kuliner yang beragam, baik dari sisi makanan khas Bali dan asing," kata Subhiksu.

Subhiksu memprediksi, ada beberapa pasar wisatawan yang akan meningkat ke depan, yakni pasar China, India dan Rusia. "Ketiga pasar ini merupakan emerging market Bali pada tahun-tahun mendatang," jelasnya. Selain ketiga pasar tersebut, pasar wisatawan asal Australia dan Amerika Serikat diperkirakan akan cukup bagus dalam tahun-tahun ke depan.

Namun untuk dapat lebih berkembang ke depannya, diperlukan upaya pembenahan berbagai infrastruktur pendukung. Apalagi saat ini Bali dihadapkan oleh masalah-masalah kemacetan lalu lintas dan ketimpangan pembangunan antar wilayah.

Upaya-upaya untuk perbaikan infrastruktur, menurut Subhiksu, sudah diupayakan melalui rencana pembangunan bandara baru di Bali utara. Rencana pembangunan bandara tersebut, saat ini tengah dalam proses feasibility study untuk menentukan kelayakan pembangunannya, sekaligus penentuan lokasi pastinya.

Pemerintah juga pembangunan jalan tol di atas perairan yang menghubung wilayah Denpasar (pesanggaran) dengan Bandara Ngurah Rai dan Nusa Dua. Pembangunan jalan sepanjang 10,5 km itu rencananya sudah dimulai November ini dengan pembiayaan dari konsorsium sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) seperti PT. Jasa Marga, PT. Angkasa Pura 1, PT. Bali Tourism Development Corporation (BTDC), dan lainnya.

Guna memecah kemacetan di simpang Dewa Ruci yang saat ini merupakan persimpangan strategis bagi pengendara dari Denpasar-Kuta-Nusa Dua, pemerintah juga merencanakan pembangunan jalan underpass. "Pembenahan infrastruktur sangat penting bagi masa depan pariwisata Bali," jelas Subhiksu.

Salah satu infrastruktur yang tidak kalah pentingnya adalah pelabuhan kapal pesiar yang layak dan memadai. Pemerintah pusat bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Karangasem sebenarnya sudah merintis pembangunan pelabuhan kapal pesiar di Tanah Ampo, Karangasem. Pembangunannya pun telah rampung. Namun akibat perencanaan yang kurang matang, belakangan baru diketahui bahwa kedalaman dermaga kurang dari seharusnya sehingga kapal pesiar besar tidak dapat bersandar. Pemerintah saat ini tengah mengupayakan penambahan anggaran untuk memperdalam dermaga tersebut.

Sayangnya, Subhiksu mengakui pemerintah daerah masih menutup perizinan travel agent baru. Menurut Subhiksu, perijinan baru untuk travel agent masih dimoratorium karena supply dan demandnya yang tidak berimbang. Hasil kajian DPD Asosiasi Travel Agent (Asita) Bali dengan Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata Universitas Udayana merekomendasikan agar pemerintah tidak menambah travel agent baru di Bali. Bila perizinan travel agent baru dibuka, dikhawatirkan akan terjadi perang tarif yang secara otomatis akan berdampak pada menurunnya kualitas layanan pariwisata Bali.

Meski peluang untuk usaha travel agent masih tertutup, Subhiksu mengingatkan masih banyak peluang usaha pariwisata lain yang bisa digarap. Salah satunya adalah pengembangan ekowisata desa yang belakangan makin digemari wisatawan. "Masih banyak peluang yang bisa dikembangkan, seperti desa wisata," kata dia.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA