Senin, 28 November 2011

PARIWISATA, “SUMBER AIR” YANG TAK PERNAH KERING (Edisi 11)

Pariwisata Bali ibarat sumber air yang tidak pernah kering. Dengan sedikit kreativitas dan ketekunan, pariwisata Bali bisa menjadi tumpuan ekonomi seluruh masyarakat. Demikian pandangan Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc. PhD., Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kepariwisataan, Universitas Udayana yang juga pengurus Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali. "Pariwisata Bali itu ibarat sumber air yang tidak akan pernah kering. Selalu ada peluang untuk dikembangkan," jelas Suryawan.


Pria kelahiran 2 Maret 1965 itu memprediksi jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali akan terus naik, meski dengan perubahan komposisi asal negara. Australia yang selama ini menjadi pasar andalan, dipastikan tetap di posisinya dalam jangka sekitar 5 tahun ke depan. "Tetapi dalam 10 tahun ke depan, China mungkin bisa di nomor satu. Karena perkembangan ekonomi China cukup pesat dan tampaknya sangat stabil. Kemampuan ekonomi masyarakatnya pasti akan meningkat," jelas Suryawan.

Tak hanya wisatawan asing, kunjungan wisatawan domestik juga dipastikan akan terus meningkat, seiring meningkatnya kebutuhan berwisata di tengah kesibukan rutin masyarakat.

Sayangnya, menurut Suryawan, belum banyak masyarakat lokal Bali yang memanfaatkan pariwisata sebagai andalan wisata. Sebaliknya, pariwisata Bali lebih banyak dimanfaatkan oleh investor asing maupun investor asal kota-kota lain di Indonesia. Para investor luar sengaja datang untuk membangun beragam usaha wisata, mulai dari biro perjalanan wisata (travel agent), hotel, spa, dan lainnya.

"Sumber air yang tidak pernah kering ini seharusnya bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan ekonomi masyarakat kita sendiri. Kenyataannya, lebih banyak orang luar yang memanfaatkannya," keluh pria yabg menyelesaikan program S3-nya di bidang perencanaan wilayah di Department of Geographical Sciences and Planning, The University of Queensland, Australia ini.

Menurut Suryawan, banyak peluang bisnis pariwisata yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Mulai dari bisnis akomodasi, transportasi, spa, kuliner, dan lainnya. "Untuk masyarakat lokal Bali, saya lihat memang peluangnya tidak pada investasi yang besar-besar, karena mengalami kesulitan dalam hal permodalan. Paling kita bisa bergerak pada kelompok usaha menengah kecil saja," jelasnya.

Koperasi Berpeluang

Ada beragam bidang usaha yang sangat potensial dikembangkan di sektor menengah dan kecil. Salah satu yang paling potensial adalah usaha spa. "Spa banyak diminati, tidak hanya oleh wisatawan asing, tetapi juga wisatawan domestik ataupun masyarakat lokal. Kita termasuk komunitas yang stress karena kesibukan harian, sehingga membuat spa berkembang bagus sebagai sebuah kebutuhan untuk refreshing," kata penulis sejumlah buku bidang pariwisata itu.

Usaha travel agent tak kalah menjanjikan. Selain menjanjikan banyak keuntungan, travel agent juga tidak membutuhkan modal uang yang terlalu besar. Terutama bila hendak menjadi travel agent yang fokus menggarap inbound dan outbound. Suryawan mengakui modal yang diperlukan akan jauh lebih besar bila travel agent hendak menggarap wisata MICE (meeting, incentive, convention, dan exhibition).

"Bila kita handle MICE, pembayaran di muka biasanya hanya sedikit. Selesai pelaksanaan baru dibayar total. Jadi kalau kegiatan MICE perlu dana Rp 2 miliar, kita harus punya Rp 2 miliar dulu. Bagi kita, investor lokal, mungkin dana sebesar itu berat, kecuali membentuk koperasi," ujarnya.

Pembentukan badan usaha koperasi menurutnya bisa menjadi solusi investasi yang menguntungkan, karena lewat koperasi beberapa orang dengan modal kecil dapat menggalang dana untuk membangun usaha. "Kalau dananya kurang, bisa pinjam antar koperasi, atau bisa ke bank juga. Jadi MICE pun sebenarnya kalau kelompok usahanya koperasi, saya rasa bisa karena permodalannya sudah cukup kuat," tambah Suryawan.

"Cuma, MICE itu harus punya dukungan jaringan kuat. Harus punya jaringan dengan usaha transportasi, hotel, dan lain lain, biar bisa dapat harga kompetitif. Jadi bisa berkompetisi. Jaringan itu bisa diperkuat lewat kerjasama dengan owner-owner lokal," tegasnya.

Selain jaringan kuat, persaingan usaha yang sangat ketat menuntut adanya inovasi-inovasi produk. Apalagi, keberadaan travel agent di Bali saat ini sudah sangat jenuh, akibat maraknya usaha travel agent ilegal yang cenderung merusak iklim pasar.

Peluang usaha bisnis pariwisata lainnya juga dipastikan masih sangat menjanjikan, baik usaha akomodasi, kuliner, dan agrowisata. "Tidak perlu berpikir tentang usaha-usaha berskala besar. Buat saja usaha berskala kecil dan sederhana. Asalkan dikelola baik, ada inovasi, pasti akan sukses," jelasnya.

Ia mencontohkan usaha akomodasi hotel bisa dibangun dengan konsep tradisional, bisa memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hotel besar dengan konsep modern. Hal itu karena kecenderungan selera wisatawan belakangan ini mengarah pada wisata desa yang menawarkan nilai-nilai tradisional. "Wisatawan tidak mencari hal-hal yang modern. Justru mereka mencari hal-hal yang sangat tradisional. Yang benar-benar Bali," ujar Suryawan.


Wisata spiritual juga bisa menjadi salah satu pasar yang perlu digarap serius, karena menyimpan potensi yang sangat besar. "Kelompok-kelompok spiritual di luar negeri itu adalah orang-orang kaya. Itu merupakan potensi yang sangat besar, karena mereka senang mencari pengalaman spiritual keliling dunia. Bali menjadi salah satu tempat yang juga digemari untuk wisata spiritual," Suryawan menambahkan.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA