Senin, 28 November 2011

SAATNYA NIKMATI GEMERICING DOLAR (Edisi 11)

Punya hotel, restoran, atau bahkan travel agent dengan modal cekak? Kenapa tidak? Semua tidak lagi mustahil dengan koperasi.

Suara gemericing dolar dari sektor pariwisata Bali terdengar begitu nyaring. Sayang, sebagian besar masyarakat Bali hanya bisa mendengar sayup-sayup dari kejauhan, tanpa pernah bisa menikmati gemerincing itu secara langsung. Itu karena sebagian besar usaha pariwisata dikuasai para pemodal besar.

Tidak sedikit investor asing yang sengaja datang ke Bali hanya untuk meraup keuntungan besar dari pariwisata Bali. Masyarakat kecilpun hanya mampu menikmati tetesan rezeki dari pariwisata dengan menjadi karyawan hotel, restoran, travel agent, dan beragam usaha wisata.

Undang-Undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan telah menghembuskan angin segar bagi masyarakat kecil bermodal pas-pasan yang ingin ikut merasakan keuntungan dari bisnis pariwisata. Pengganti dari Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 itu, secara jelas mengakomodir kepentingan masyarakat kecil yang ingin berusaha di bidang pariwisata, melalui badan hukum koperasi. Khusus untuk di Bali, undang-undang ini telah dijabarnya secara lebih gamblang dalam Peraturan Daerah Bali No. 1 Tahun 2010 tentang Usaha Jasa Perjalanan Wisata. "Peluang usaha pariwisata bagi koperasi, memang telah diakomodir dalam Perda No. 1 tahun 2010 tentang usaha jasa Pariwisata," tegas Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ida Bagus Subhiksu, memberi sinyal positif.

Melalui regulasi itu, koperasi mendapat kesempatan yang sama untuk memiliki usaha di bidang pariwisata, sama seperti perusahaan perorangan dan perseroan terbatas. Melalui koperasi, masyarakat dapat berinvestasi secara bersama-sama untuk membangun usaha pariwisata. Seluruh anggota koperasi secara otomatis menjadi pemilik atas usaha tersebut. Keuntungannya pun dibagi secara bersama-sama.

Hingga kini belum banyak koperasi yang bergerak di bidang pariwisata. Sebagian besar dari total 4.206 unit koperasi yang ada di Bali, masih memfokuskan diri pada kegiatan simpan pinjam dan usaha kelontong.

Kini saatnya masyarakat kecil bangkit untuk merasakan sendiri gemericing dolar pariwisata Bali. Melalui koperasi, semua itu tidaklah mustahil.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA