Senin, 28 November 2011

TABUH RAH UNTUK KEHARMONISAN (Edisi 11)


Berbagai upaya dilakukan manusia untuk menciptakan keharmonisan dalam kehidupan. Pun demikian dengan umat Hindu. Melalui berbagai upacara yang dilaksanakan, mereka berupaya menciptakan keharmonisan baik dengan sesama manusia maupun makhluk lain ciptaan Tuhan. Tujuannya tak lain agar manusia mendapatkan kedamaian dalam kehidupan.

Upacara bhuta yadnya salah satunya. Upacara ini lazim dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali guna menciptakan keharmonisan dengan alam dan para bhuta kala yang juga turut serta menghuni alam ini. Dalam beberapa tingkatan bhuta yadnya, seringkali disertai dengan ritual “tabuh rah” yang secara harfiah dapat dimaknai sebagai tumpahnya darah.

Tabuh rah mensyaratkan adanya darah yang menetes sebagai simbol penyucian umat manusia dari ketamakan atau keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi. Tabuh rah juga bermakna sebagai upacara ritual buta yadnya yang mana darah yang menetes ke bumi disimbolkan sebagai permohonan umat manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari marabahaya.

Selama ini di tengah masyarakat Bali, tabuh rah yang memang bermakna darah yang tumpah sangat identik dengan tajen. Bahkan ada kerancuan pemaknaan antara tabuh rah dengan tajen itu sendiri. Apa yang saat ini dikenal dengan sebutan tajen, pada awalnya memang salah satu cara dalam melaksanakan tabuh rah. Pelaksanaan tabuh rah dengan cara mengadu dua ekor ayam jago, dikenal dengan istilah perang sata.
Hanya saja tak semua tingkatan caru boleh menggunakan perang sata ini. Upacara bhuta yadnya yang boleh disertai "perang sata" yakni caru panca kelud (panca sanak madurgha), caru rsi ghana, caru balik sumpah, tawur agung, tawur labuh gentuh, tawur pancawalikrama serta tawur eka dasa rudra.

Pelaksanaannyapun tak dapat dilakukan di sembarang tempat. Perang sata harus dilakukan di tempat upacara pada saat mengakhiri upacara itu, atau yang dikenal dengan penyineban. Pelaksanaan perang sata harus diiringi dengan adu tingkih, adu pangi, adu taluh, adu kelapa, andel- andel serta upakaranya.

Yang melaksanakan perang sata juga tak boleh sembarangan. Pelaksanaannya haruslah sang yajamana dengan berpakaian upacara. Perang sata maksimum dilakukan "tiga parahatan" (3 sehet) tidak disertai taruhan apapun. Dengan demikian apa yang selama ini dikenal dengan tajen, tak serta merta bisa disamakan dengan tabuh rah, meski sama-sama menumpahkan darah. Dengan demikian rasanya tak pantas jika alasan tabuh rah kemudian dijadikan tameng dalam penyelenggaraan tajen.

Tajen, Pro-kontra

Selama ini kerap kita mendengar pro dan kotra terkait dengan penyelenggaraan tajen. Banyak yang menyatakan pelaksanaan tajen yang sangat kental unsur judinya, tak hanya berdampak buruk bagi kehidupan sosial masyarakat, akan tetapi juga dapat menodai nilai-nilai agama Hindu. Terlebih jika pelaksaannya menjadikan ritual keagamaan sebagai alasan.

Hal ini memang tak dapat dipungkiri, jika dilihat tajen yang identik dengan judi merupakan salah satu masalah sosial. Banyak contoh kehancuran ekonomi keluarga yang terjadi akibat tajen ini.

Pun demikian jika dilihat dari sisi nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama Hindu. Taruhan uang itu sendiri adalah judi atau dyuta. Sementara menyebabkan matinya ayam/makhluk untuk kesenangan semata, di dalam ajaran Agama Hindu dinamai himsa karma, yang tidak baik dilakukan oleh setiap orang yang berusaha untuk mengamalkan dharma.

Hanya saja, tajen tak begitu saja bisa kita lihat dari satu sisi semata. Bagi masyarakat yang ada di pedesaan, dimana hiburan begitu sulit didapatkan, tajen bisa menjadi salah satu alternatif hiburan. Dalam tajen ini interaksi sosial terjadi. Bahkan kelas sosial seakan cair. Mereka berbaur dalam sebuah aktivitas bersama.
Utamanya mereka yang sudah berumur. Biasanya mereka datang ke tajen bukan untuk memasang taruhan. Mereka hanya datang untuk menonton ayam yang diadu, aktivitas ini dianggap cukup menghibur setelah bekerja keras. Terlebih ini hanya dilakukan pada saat-saat tertentu dan bukanya setiap hari.

Tak hanya itu. Bahkan terdapat beberapa orang masyarakat yang benar-benar menggantungkan hidupnya pada tajen. Lihat saja mereka yang menawarkan jasa untuk mencabuti ayam cundang (ayam yang kalah saat diadu). Mereka kebanyakan para pengangguran, bermodal dengan keahlian mencabuti bulu ayam dan juga air panas, mereka membantu para bebotoh membersihkan ayam yang telah kalah.

Tak banyak uang yang mereka dapatkan. Untuk satu ekor ayam yang dibersihkan, mereka hanya dibayar Rp 5 ribu. Meski demikian, apa yang mereka dapat, cukup untuk menyambung kehidupan yang semakin hari dirasa semakin menjepit.

Tajen yang digolongkan judi, juga memiliki keunikan tersendiri. Sebagai sebuah permainan yang telah ada sejak lama, tajen memiliki aturan main sendiri. Dalam tajen-tajen besar, mereka memiliki alat tersendiri untuk menghitung waktu. Saat tajen, terdapat orang-orang yang memiliki tugas tertentu yang lazim disebut “saya”.
Sebagai bentuk judi, dalam penyelenggaraan tajen, ternyata kita dapat melihat adanya sportivitas. Kita melihat bagaimana orang yang bertaruh tak pernah dicatat, akan tetapi saat ayam yang diunggulkan kalah, mereka selalu dengan ksatrya membayar taruhan. Karena itu meski tak bisa dibenarkan, secara hukum maupun agama, ternyata masih ada sesuatu yang bisa dipetik dari tajen yang selama ini kerap dicap sebagai salah satu penyakit masyarakat.
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA