Kamis, 05 Januari 2012

BISNIS RENYAH KERUPUK CEKER (Edisi 01/2012)

Kreativitas tak jarang menjadi sumber penopang kehidupan. Tak sedikit kreativitas ini lahir dari tangan-tangan para wanita yang hanya seorang ibu rumah  tangga. Kemampuan perempuan dalam mengolah bahan makanan hingga menjadi penganan yang enak misalnya, bisa menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga. Telah banyak terbukti, kreativitas yang awalnya hanya sebagai pekerjaan sambilan, justru berubah menjadi sumber pendapatan utama keluarga.

Nyoman Wahyuliani salah satunya. Ibu muda ini sejak bertahun-tahun menggeluti usaha pembuatan camilan kerupuk ceker ayam, yang merupakan warisan sang ibu mertua. Meski telah dijalankan selama puluhan tahun, belum pernah sekalipun camilan dengan rasa khas dan gurih ini tak laku di pasaran. Pasar camilan produksinya tak pernah jenuh,  bahkan dari hari ke hari permintaan terus meningkat.

Serbuan produk camilan lokal maupun dalam kemasan modern belakangan ini, tak pernah menggusur selera pasar akan kerupuk ceker Wahyuliani. Inilah yang menjadi alasan mengapa wanita yang satu ini tetap bertahan pada usahanya. Proses pembuatan kerupuk ceker ayam tidaklah terlampau sulit. Hanya saja, diperlukan kesabaran dan keuletan. Bahan baku pun relatif mudah didapat, dengan harga yang tak terlalu mahal.
Ibu empat anak ini menuturkan, bahan baku kerupuk ceker ayam biasanya ia dapatkan dari tempat pemotongan yang ada di sekitar Peguyangan. Bahan baku tersedia dalam jumlah yang cukup, dengan harga terjangkau. Jika dibandingkan dengan harga daging ayam, harga per kilogram ceker ayam jauh lebih murah. Di tingkat pengecer, ceker ayam dijual di kisaran Rp 10 ribu per kilo. Harga lebih murah, tentu bisa didapatkan jika membeli secara langsung di tempat pemotongan.

"Bahan baku selalu saya dapatkan di tempat pemotongan ayam. Dalam sekali produksi saya hanya bisa mengolah 10-12 kg ceker ayam mentah. Semua proses dikerjakan di sini oleh anggota keluarga, mulai dari tahap awal sampai akhir," ujarnya.

Proses pembuatan kerupuk ceker dimulai dari membersihkan ceker dari kotoran, kuku, dan bagian kulit yang berwarna kekuningan yang terkadang masih menempel pada ceker. Usai  dicuci bersih, selanjutnya memasuki tahap perebusan. Tahap ini menjadi sangat menentukan kualitas kerupuk yang dihasilkan. Ceker harus direbus dengan tingkat kematangan yang pas. "Kalau kurang matang, susah memisahkan tulangnya. Tetapi kalau terlalu matang, ceker akan hancur," jelasnya. 

Ceker yang telah direbus kemudian diangin-anginkan untuk mendinginkannya. Selanjutnya dilakukan pemisahan ceker dari tulang. Tahap ini, diakui perempuan 38 tahun ini,  sebagai salah satu proses yang paling rumit dan memerlukan tenaga yang besar. “Biasanya saat mengerjakan proses ini saya dibantu oleh suami. Proses ini juga yang kerap menjadi kendala saat ada pesanan dalam jumlah besar, karena masih dikerjakan secara manual,”  akunya.

Ceker ayam yang telah dibersihkan kemudian diberi bumbu berupa bawang putih, garam dan penyedap. Setelah itu dijemur. Sebelum digoreng, ceker dicampur dengan tepung beras agar krupuk memiliki rasa dan tekstur yang lebih baik. Usai penggorengan, tinggal  pengemasan, dan siap dipasarkan.

Dengan pengerjaan manual, kapasitas produksinya sangat terbatas. Dalam satu hari ia hanya bisa mengolah 10-12 kg ceker mentah. Inilah sebabnya ia seringkali tak bisa melayani semua pesanan. Untuk mengolah kerupuk ceker ayam biasanya memerlukan waktu sekitar 8 jam. "Ceker biasanya tak bisa langsung digoreng dihari yang sama. Ceker yang direbus hari ini biasanya baru digoreng keesokan harinya agar bumbu bisa lebih meresap," ungkapnya.

Sebenarnya, kata Wahyuliani,  ia sering disarankan oleh Koperasi Srikandi yang selama ini membantu permodalannya, untuk memberikan label pada kerupuk yang diproduksinya, namun hingga kini beloum kesampaian. Alasan ringan wanita ini karena pemasaran selama ini tak pernah menemui kendala. Ia lebih suka menjual produknya di warung atau menerima pesanan secara langsung yang tak menuntut label, dibandingkan menjualnya di supermarket. Ini dikarenakan menjual di supermarket ia tak bisa langsung mendapatkan pembayaran.

Wahyuliani menceritakan tak banyak modal yang diperlukan untuk memulai usaha pembuatan kerupuk ceker. Sekali produksi (10-12 kg ceker mentah) modal yang diperlukan sekitar Rp 120 ribu. Ini sudah termasuk bumbu penyedap. Dengan peralatan masak sederhana yang biasa digunakan di dapurnya, satu kali produksi Wahyuliani mengaku bisa mengantongi keuntungan Rp 100 ribu.

Pasar produk kerupuk ceker Wahyuliani masih terbatas di warung-warung yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Ia juga kerap menerima pesanan yang biasanya akan diambil langsung oleh konsumen ke rumahnya. Meski dijual tanpa merek, kerupuk ceker buatan Wahyuliani selalu laris manis. “Kadang saya kewalahan melayani pesanan,”  ujarnya, sembari berpromosi kerupuk cekernya renyah dan cukup nikmat sebagai teman bersantap. (ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA