Rabu, 04 Januari 2012

“NGULAPIN”, KEMBALIKAN KESEIMBANGAN DIRI (Edisi 01/2012)

Seorang perempuan paruh baya nampak begitu serius duduk bersimpuh di tepi jalan. Di depannya diletakkan beberapa sesajen. Beberapa menit kemudian nampak ia mengetukkan tangannya beberapa kali ke tanah, kemudian tangannya disentuhkan ke dahi anak lelaki yang sedari tadi duduk di sebelahnya. Jelas terlihat di raut wajah anak lelaki itu rasa kesakitan. Tentu bukan karena keningnya disentuh. Di beberapa bagian tubuhnya terlihat  ada luka.

Perempuan yang tengah duduk di tepi jalan itu sedang melaksanakan upacara pengulapan bagi putranya yang barusan mendapat kecelakaan. Hal semacam ini sangat mudah ditemukan di Bali. Upacara ngulapin, hampir pasti dilakukan jika ada yang mengalami kecelakaan, atau mengalami kejadian yang membuat terkejut.
“Upacara pengulapan perlu dilakukan pada orang-orang yang mengalami kecelakaan atau kejadian yang menimbulkan keterkejutan dan trauma pada seseorang,” beber dalang I Gusti Nyoman Tantra, pada suatu kesempatan. Tentu bukan tanpa tujuan upacara ini dilakukan, sejatinya upacara pengulapan dilakukan guna menormalisasi kehidupan seseorang setelah mengalami kejadian yang mengejutkan.

Ngulapin termasuk upacara Manusa Yadnya. Para Manusa Yadnya, upacara dimaksudkan untuk membersihkan dunia batin dari individu manusia dari negatif (dosa-dosa dan kesalahan), dan sebagai hasilnya untuk meningkatkan kualitas hidup. Efek spiritual dari upacara pembersihan dianggap sangat penting bagi manusia.

Jika seorang manusia mengalami suatu kejadian yang mengejutkan, hal ini akan berdampak pada kehidupannya. Jika dibiarkan tanpa dilakukan suatu upacara, dapat membuat kehidupan seseorang menjadi tidak normal. Upacara pengulapan merupakan bentuk normalisasi kehidupan manusia pasca mengalami kejadian yang mengejutkan.

"Pengulapan dilakukan untuk mengembalikan "bayu" yang ada pada diri manusia. Pada saat mengalami kejadian yang mengejutkan, bayu yang ada pada diri manusia akan terlepas. Ini tentu akan berdampak negatif karena bayu menjadi penggerak kehidupan manusia. Upacara pengulapan inilah yang akan mengembalikan bayu, sehingga hidup orang yang bersangkutan bisa kembali normal seperti sedia kala," ungkap sang dalang.
Upacara pengulapan juga dilakukan untuk menyeimbangkan empat saudara yang ada dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan catur sanak -- anggapati, rajapati, banaspati dan banaspati raja. Jika manusia terkejut, maka keempat saudara yang ada pada diri seseorang akan menjadi tidak seimbang. Keseimbangan inilah yang akan dikembalikan melalui berbagai sarana yang digunakan dalam upacara pengulapan.
Di samping untuk mengembalikan bayu dan keempat saudara ke dalam tubuh, pengulapan juga berfungsi sebagai pemulihan agar tidak terjadi trauma berkepanjangan. "Dengan upacara pengulapan, maka orang yang sempat mengalami kejadian yang mengejutkan tak akan mengingat terus kejadian yang bisa mengganggu kehidupan," terangnya.

Kejadian yang mengejutkan juga akan membuat insting seseorang menjadi lebih dominan dibandingkan sisi dirinya yang lain. Ini akan berdampak buruk pada diri manusia karena jika instingnya lebih mendominasi dibandingkan yang lain, maka segala tindakan yang dilakukan akan lebih didasari atas insting semata. Tindakan seorang manusia akan menyerupai hewan.

Berbagai hal akan terjadi jika seseorang yang mengalami kejadian mengejutkan tak dilakukan upacara pengulapan. Dampaknya berbagai macam mulai dari hal yang paling ringan yakni sakit, hingga bertindak beringas. "Jika tak melakukan pengulapan, seseorang akan terus teringat pada peristiwa buruk yang dialami. Pengulapan dilakukan agar yang bersangkutan bisa tenang dalam beraktivitas, tak selalu dihantui rasa takut dalam hidupnya,” ujarnya.

Hal yang paling jelas terlihat jika usai mengalami musibah atau sesuatu yang mebuat syok, seseorang biasanya tampak gamang. Inilah yang mencirikan ada ketidakseimbangan dalam dirinya. Pikiran seakan kosong, karena apa yang ada dalam diri tidak lengkap. Beberapa bagian diri tertinggal di tempat peristiwa yang mengejutkan terjadi.
Untuk melaksanakan upacara pengulapan, kata dalang I Gusti Nyoman Tantra, tak perlu menggunakan banten yang terlalu rumit. Banten pengulapan cukup terdiri dari sepasang tumpeng, sebutir telur dan pengeplugan berbentuk tapak dara, jika terkejut karena mengalami kecelakaan. Pun dengan pelaksanaannya tak mesti langsung di tempat kejadian.

“Upacara pengulapan bisa dilakukan di perepatan terdekat, karena tujuannya untuk memanggil bagian diri yang tertinggal di tempat kejadian,” jelasnya.
Pengulapan juga penting dilakukan pada mereka yang mengalami kematian dengan jalan yang tak wajar seperti salah pati (mati yang tak terduga-duga atau yang tidak dikehendaki seperti kecelakaan) maupun ngulah pati (mati karena sesat, yang mengambil jalan pintas, serta sengaja dikehendaki, yang sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu seperti bunuh diri).

Khusus bagi yang ngulah pati, upacara/upakara ditambah dengan banten pengulapan di tempat kejadian, perempatan/pertigaan jalan dan cangkem setra. Banten pengulapan dipersatukan dengan sawanya, baik mependem maupun atiwa-tiwa. Upacara pengulapan ini penting dilakukan agar roh yang meninggal tak sampai tertinggal di tempat kejadian. Jika tanpa dilakukan pengulapan roh yang bersangkutan akan tertinggal di sana, terkatung-katung dan tak bisa melanjutkan perjalanan ke alam sunya.(ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA