Rabu, 18 Januari 2012

SAATNYA MEMBANGUN KONGLOMERASI KOPERASI (Edisi 01/2012)

Indonesia menyiapkan 99 koperasi untuk membangun konglomerasi,  agar masyarakat lokal tak terpinggirkan dalam persaingan global. Ke depan, perekonomian Indonesia tidak lagi dikuasai oleh pribadi-pribadi yang biasa disebut konglomerat, melainkan dikuasai oleh konglomerasi koperasi.

Masih ingat dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-19 ASEAN di Nusa Dua, Bali, November tahun lalu? Konferensi itu menjadi langkah lanjutan menuju Komunitas ASEAN, atau lebih akrab disebut ASEAN Community pada 2015 mendatang. Pada tahun tersebut, negara-negara ASEAN akan menjadi satu pasar bersama. Tidak ada lagi batas antar negara. Artinya, saat itu pelaku usaha di Indonesia harus bersaing dengan pelaku usaha dari Malaysia, Thailand, Filipina, maupun negara anggota ASEAN lainnya untuk merebut pasar. Siapkah kita?

Realitasnya, kehadiran perusahaan asing yang sudah mulai menyerbu Bali, telah mampu membangun rasa khawatir dan was-was dari para pengusaha lokal. Apalagi perusahaan-perusahaan asing tersebut hadir dalam berbagai bidang usaha, mulai dari perbankan, perdagangan, perhotelan, dan telekomunikasi. Kehadiran hypermarket berlabel asing misalnya, mulai meminggirkan keberadaan pasar-pasar tradisional.

Bagi Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Untung Tri Basuki, revitalisasi peran koperasi bisa menjadi solusi strategis untuk memperkuat diri menghadapi persaingan global itu. "Kekuatan koperasi sudah dibuktikan oleh negara-negara yang telah maju secara ekonomi seperti Singapura, bahkan Amerika Serikat yang dikenal kapitalis," tegas Untung Tri Basuki saat menghadiri seminar perlindungan koperasi di Denpasar, pertengahan Desember 2011 lalu.

Kekuatan ekonomi Singapura  memang perlu diacungi jempol. Negara yang luas wilayahnya hanya sepertujuh luas Pulau Bali itu, mampu memakmurkan masyarakatnya yang berjumlah sekitar 4 juta orang, hampir sama dengan jumlah total penduduk Bali. Padahal negara itu bisa dibilang tidak memiliki kekayaan alam seperti pertanian, gunung, sungai, dan lainnya. Kunci pergerakan ekonomi warga Singapura ternyata koperasi. "Sebanyak 50 persen masyarakat Singapura merupakan anggota koperasi," tegas Tri Basuki.

Tak hanya itu, Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara kapitalis pun, menggunakan peran koperasi untuk menggerakkan ekonomi masyarakatnya. "Amerika Serikat yang katanya kapitalis, ternyata 25 persen penduduknya adalah anggota koperasi," jelasnya.

Kata Tri Basuki, banyak perusahaan besar dunia yang dimiliki oleh koperasi. Banyak brand terkenal dunia yang sebetulnya merupakan produk-produk koperasi, seperti produsen susu kemasan Dancow, Nestle, produsen es krim Campina, dan gerai penjualan perkakas rumah tangga Ace Hardware.

Lebih hebat lagi, di Jepang ada koperasi Zen Noh, sebuah koperasi terbesar dari 300 koperasi yang diranking International Co-operative Alliance (ICA) tahun 2007. Dengan basis pertanian, jejaring Zen Noh telah merambah ke berbagai bisnis, yang menjangkau banyak negara. Secara keseluruhan, Zen Noh menghimpun 1.173 koperasi pertanian, 1.010 di antaranya merupakan primer koperasi pertanian. Sisanya merupakan sekunder koperasi pertanian tingkat provinsi. Tak tanggung-tanggung, perputaran omset Zen Noh mencapai 63.449 dolar AS, atau Rp 583,73 triliun per tahun. “Zen Noh merupakan koperasi terbesar di dunia. Dia punya asset sampai Rp 649 triliun, dia punya  100 lebih perusahaan di bawahnya, dan
merupakan konglomerat,” tegas Tri Basuki.

Bagaimana dengan Indonesia? Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan pada 2011 ini ada 187.598 koperasi di seluruh Indonesia dengan jumlah anggota sekitar 30,7 juta orang, atau hanya sekitar 15% dari total penduduk Indonesia.  Hingga kini juga belum ada koperasi yang menguasai produk-produk nasional kita. “Ini yang harus dijadikan concern kita,” ujar Tri Basuki.

Belajar dari kesuksesan koperasi di sejumlah negara, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM bertekad untuk membangun konglomerasi koperasi dengan menggerakkan 99 unit koperasi besar di seluruh Indonesia. Untuk program ini, akan ada 3 koperasi besar di masing-masing provinsi yang akan didorong untuk membangun jaringan yang kuat. “Kalau bicara konglomerasi, saya pikir kita juga harus bangun konglomerasi koperasi. Dan inilah yang akan kita bangun di 2014,” tambah Tri Basuki. 

Menghadapi tantangan globalisasi, menurut Tri Basuki, koperasi  harus dimanfaatkan untuk menjadi wadah membangun kekuatan bersama. “Koperasi ini merupakan kekuatan yang hebat. Dia bisa dimobilisir untuk mengajak orang-orang membeli bersama-sama atau tidak membeli bersama-sama, atau tidak menjual bersama-sama atau menjual bersama-sama. Kekuatan ini yang harus kita bangun,”  tegas dia. Diharapkan ke depannya perekonomian Indonesia tidak lagi dikuasai oleh pribadi pribadi yang biasa disebut konglomerat, tetapi dikuasai konglomerasi koperasi.

Manager Klinik Koperasi dan UKM Bali, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Tjok Istri Agung Widyawati, juga menegaskan konglomerasi koperasi merupakan hal yang tidak mustahil bila koperasi-koperasi yang ada mau memperkuat jaringannya. Bahkan menurut Widyawati, koperasi seharusnya bisa menjadi wadah bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk memperkuat diri agar tidak terpinggirkan dalam persaingan global.

 Sekitar 99 persen perekonomian Bali saat ini digerakkan oleh sektor UMKM yang jumlahnya mencapai 239.357 unit UMKM. "Sayangnya sebagian besar UMKM belum siap menghadapi persaingan di pasar global, apalagi menghadapi pasar bersama ASEAN. Nah, koperasi seharusnya bisa menjadi wadah bagi UMKM untuk memperkuat diri melalui jejaringnya," tegas Widyawati.(erv)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA