Kamis, 16 Februari 2012

GUBERNUR JANJI PROTEKSI SENIMAN BALI (Edisi II/2012)

Gubernur Bali Made Mangku Pastika berjanji akan memproteksi para seniman Bali di tengah serbuan banyaknya seniman luar Bali yang menyasar pasar potensial pulau ini. Janji itu disampaikannya saat hadir dalam acara Dapur Olah Kreatif (DOK) ke-15 di Warung Tresni Denpasar, 7 Januari lalu.

Pastika berjanji mengeluarkan kebijakan yang pro seniman Bali. “Yang dibutuhkan, ada kebijakan berupa fasilitasi dan proteksi bagi seniman Bali. Tinggal sekarang kita cari bentuknya bersama-sama. Mari kita buat roadmap-nya bersama-sama,” ajaknya.

Janji itu disampaikan Pastika setelah mendengar keluh kesah Ketua Persatuan Artis, Musisi, Pencipta dan Insan Musik (Pramusti) Bali I Gusti Ngurah Murthana. Rahman, sapaan akrab pemilik Jayagiri Record itu, mengungkapkan keluh kesah akibat makin terpinggirkannya musik pop Bali yang sempat booming beberapa tahun lalu.

“Saya belakangan merasa agak patah semangat karena industri musik Bali yang sempat berlomba-lomba buat album, mempopulerkannya. Semua orang bangga karena semakin banyak lagu-lagu Bali yang disukai semua kalangan termasuk anak-anak. Tapi sekarang, karena maraknya pembajakan, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” keluh pria yang akrab disapa Rahman itu.

Tak hanya tentang pembajakan. Rahman juga menilai kini makin banyak event organizer (EO) yang lebih memilih menampilkan penyanyi asal luar Bali, ketimbang penyanyi Bali. Padahal kalau diukur dari antusiasme penonton, Rahman yakin penyanyi Bali jauh lebih diminati. “Untuk itu kami harapkan ada upaya agar kami penyanyi Bali diberi porsi lebih besar,” harapnya.

Pertemuan dengan Pastika itu, juga dimanfaatkan oleh para seniman untuk melontarkan keluh kesahnya. Penyair  Tan Lio Ie lantas menyoroti tentang buruknya manajemen sejumlah even seni budaya di Bali, salah satunya Pesta Kesenian Bali (PKB). Ia menyayangkan PKB tidak dikelola oleh kaum profesional, melainkan dikelola sendiri oleh pemerintah yang notabene personilnya cenderung tidak bisa bekerja profesional. “Bali punya PKB. Tapi maaf, kuratorialnya jelek. PKB bukan pasar malam. Sayang sekali. Padahal ini merupakan investasi cultural yang sangat penting,” ujar penyair yang kerap menghadiri berbagai forum Sastra di beberapa negara Eropa, Afrika dan Asia itu.

DOK sendiri merupakan sebuah komunitas kreatif yang menyediakan wahana bagi lahir, tumbuh dan berkembangnya kreativitas seni di Kota Denpasar. Sejak digelar pertamakali pada 1 Oktober 2011, DOK sudah menjadi ajang pengembangan berbagai  bidang kesenian yang setia hadir setiap malam minggu di Warung Tresni.

“Telah terjadi proses hegemoni dan dominasi yang pelan-pelan membuat Bali tidak lagi sebagai sentral kebudayan akibat gempuran pilihan-pilihan budaya yang ditawarkan dari luar. Sementara pragmatisme seni budaya oleh kekuatan modal membuat partisipasi konsep seni budaya masyarakat menurun sehingga menyebabkan public value seni budaya sendiri cenderung luntur dak tak berdaya. Lewat DOK yang dirikan bersama sejumlah kawan yang bersama-sama bertindak sebagai kurator, mencoba membuat jawaban terhadap kondisi tersebut,” Putu Indrawan, ketua DOK, bercerita tentang latar belakang penyelenggaraan even ini. (erv)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA