Jumat, 17 Februari 2012

TALI PUSAT, JIMAT BEKAL LAHIR (Edisi II/2012)

Setiap ibu yang pernah melahirkan, pasti mengenal tali pusat (tali pusar), tetapi mungkin tidak semua bapak peduli akan tali pusat. Tali pusat yang terlepas dari sang bayi (umumnya 3 – 7 hari sejak lahir), si ibu (orangtua) akan membungkusnya dengan kain kasa, kemudian mengubur tali pusat itu karena dianggap tak berguna lagi. Ada  juga yang menyimpannya dalam sebuah aksesoris (umumnya dari bahan perak), biasanya dalam mainan kalung sang bayi.

Akan tetapi sejak tahun 2000-an muncul trend baru. Tali pusat atau darah tali pusat justru disimpan. Bahkan mulai muncul perusahaan yang menyediakan jasa penyimpanan tali pusat. Penyimpanan dilakukan karena sel yang terkandung dalam darah tali pusat dianggap mampu menyembuhkan beberapa penyakit yang selama ini justru sulit diobati.

Apa sejatinya tali pusat itu? Tali pusat, selama dalam kandungan, berfungsi sebagai penghubung antara janin dan si ibu, menyalurkan makanan dari ibu ke janin. Setelah lahir, fungsi ini akan beralih pada mulut, sehingga tali pusat dianggap tidak berguna lagi.

Bagi masyarakat Bali, menyimpan tali pusat bukanlah sesuatu yang baru. “Orang Bali selalu menyimpan tali pusat si anak setidaknya selama anak masih balita. Tali pusat yang disimpan ini memang sering digunakan untuk mengobati penyakit yang dialami si anak,” ungkap I Gusti Nyoman Tantra, penekun pengobatan tradisional yang juga seorang dalang.

Tak hanya untuk mengobati penyakit, tali pusat bahkan dipercaya menjadi penangkal berbagai ilmu hitam yang dialami seseorang. Bahkan tali pusat bisa digunakan sebagai jimat sejak seseorang lahir hingga mati. “Tali pusat bisa digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, ini telah diketahui orang-orang Bali sejak dahulu. Karena itu jika seorang bayi telah lepas tali pusatnya, tali pusat tersebut disimpan dan bukannya dikubur, karena memiliki begitu banyak kegunaan dan tak bisa tergantikan,” ujarnya.

Dikasi Anget-anget
Tali pusat yang disimpan biasanya akan diawetkan terlebih dahulu. Tali pusat yang telah lepas akan diisi dengan anget-anget (rempah-rempah) agar kering dan awet serta tidak berbau. Selanjutnya tali pusat yang telah diawetkan disimpan di dalam tipat. Selanjutnya tali pusat ini bisa diletakkan di kolong tempat tidur sebagai penangkal ilmu hitam.

Tali pusat dipercaya sebagai pelindung karena sejak dalam kandungan tali pusat menjadi penghubung antara ibu dengan janin. Tali pusat menjadi jalan masuknya makanan pada tubuh bayi. Dengan demikian saat dalam kandungan, tali pusat menjadi sumber kehidupan janin. Bahkan tali pusat dipercaya sebagai penghubung antara manusia dengan empat saudara yang lahir bersamanya (catur sanak).

“Ada beberapa penyakit yang biasa diobati dengan memanfaatkan tali pusat. Misalnya saja sakit perut, biasanya diobati dengan menggunakan air hangat yang telah dicelupi dengan tali pusat. Tali pusat sangat efektif untuk digunakan karena bersumber dari diri sendiri. Sayangnya banyak yang lalai dan kemudian menghilangkannya. Padahal tali pusat bisa bermanfaat sampai mati,” terang sang dalang.

Sembuhkan Penyakit 
Dalam ilmu pengobatan modern, darah tali pusat (umbilical cord blood) diketahui mengandung stem cell (sel induk) yang mampu memproduksi sel-sel darah baru seperti sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah. Stem cell juga mampu memperbaiki sistem kekebalan tubuh sampai menggantikan jaringan yang rusak. Darah tali pusat biasa digunakan untuk terapi berbagai penyakit.

Sel induk yang dikenal juga dengan sel punca, mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh.  Sel punca juga berfungsi sebagai sistem perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak, demi kelangsungan hidup organisme. Saat sel punca terbelah, sel yang baru mempunyai potensi untuk tetap menjadi sel punca atau menjadi sel dari jenis lain dengan fungsi yang lebih khusus, misalnya sel otot, sel darah merah atau sel otak.

Sel punca memiliki sifat penting yang sangat berbeda dengan sel yang lain karena sel punca belum merupakan sel dengan spesialisasi fungsi, tetapi dapat memperbaharui diri dengan pembelahan sel bahkan setelah tidak aktif dalam waktu yang panjang. Dalam situasi tertentu, sel punca dapat diinduksi untuk menjadi sel dengan fungsi tertentu seperti sel jaringan maupun sel organ yang mempunyai tugas tersendiri

Penelitian terhadap sel punca, dapat dikatakan dimulai pada tahun 1960-an. Peneliti meyakini bahwa sel punca berpotensi untuk mengubah keadaan penyakit manusia dengan cara memperbaiki jaringan atau organ tubuh tertentu. Pada tahun 1970-an, para peneliti menemukan bahwa darah tali pusat manusia mengandung sel induk yang sama dengan sel induk yang ditemukan dalam sumsum tulang.

 Karena sel induk dari sumsum tulang telah berhasil mengobati pasien-pasien dengan penyakit-penyakit kelainan darah yang mengancam jiwa seperti leukemia dan gangguan-gangguan sistem kekebalan tubuh, maka para peneliti percaya bahwa mereka juga dapat menggunakan sel induk dari darah tali pusat untuk menyelamatkan jiwa pasien mereka.

Darah tali pusat mengandung sejumlah sel induk yang bermakna dan memiliki keunggulan di atas transplantasi sel induk dari sumsum tulang atau dari darah tepi bagi pasien-pasien tertentu. Darah tali pusat dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit dan kelainan genetis seperti thalasemia, leukemia, hemofilia, dan juga dapat digunakan dalam terapi regeneratif yang marak belakangan ini untuk penyakit jantung, stroke, diabetes mellitus. Bahkan darah tali pusat dipercaya tak hanya bermanfaat bagi si pemilik tali pusat, tetapi juga bagi saudara kandungnya.

Transplantasi sel punca ini adalah opsi pengobatan yang sangat penting bagi berbagai macam kelainan darah dan kanker. Tanpa sel punca darah, pasien-pasien ini tidak memiliki opsi untuk melakukan transplantasi, dan kemungkinan tidak memiliki kesempatan untuk sembuh.

Karena begitu pentingnya sel punca itulah, banyak bank sel punca bermunculan di seluruh dunia untuk menyediakan donor sel punca bagi yang memerlukan. Bank sel punca ini ada dalam bentuk “bone marrow registries” dan bank darah tali pusat. Lalu bagaimana dengan Anda? Tertarik untuk menyimpan tali pusat Anda di bank sel punca atau lebih memilih menyimpannya secara tradisional? (ayu)


Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA