Endek memang telah lama dikenal oleh masyarakat Bali. Hanya saja ternyata pemakaiannya tak terlalu populer di kalangan masyarakat Bali, apalagi kaum mudanya. Kesan kuno dan ketinggalan zaman bagi pemakainya, melekat pada kain tenun tradisional Bali ini. Di sisi lian harga endek juga relatif mahal. Tentu hal ini akan semakin membuat endek ditinggalkan oleh masyarakat. Dan jika ini terus dibiarkan terjadi, bukan mustahil endek hanya akan menjadi sebuah catatan sejarah. Tinggal nama dan kenangan.
Pemerhati dan praktisi endek Bali, I Gusti Made Arsawan mengakui memang sejak tahun 2000 ke atas, endek benar-benar memasuki masa kelam. Ada berbagai hal yang membuat kondisi ini terjadi, seperti mahalnya harga endek. Endek menjadi mahal karena menggunakan 100% bahan impor yang memang mahal.
“Selama ini, perajin juga cenderung kurang berkreasi, sehingga kesan endek, itu-itu saja. Tidak popular, terlebih di kalangan anak muda. Jadilah endek produk yang terpinggirkan,” ujarnya.
Kalaupun ada endek yang bisa booming, maka harus bersiap-siap di-copy. Biasanya produk yang diminati akan di-copy di luar Bali untuk ditingkatkan kapasitas produksinya. Produk yang datang dari luar memiliki kualitas yang tak jauh beda dari aslinya, sementara harganya jauh lebih murah. Inilah yang membuat endek Bali tak bisa bertahan dan dari hari ke hari semakin banyak perajin yang rontok.
Tentu kondisi ini sangat ironis terlebih di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali. Idealnya endek juga bisa terus berkembang karena endek tak memiliki batasan fungsi. Endek sebagai komoditi tenun yang unik bisa dibawa dan disesuaikan dengan fungsi apapun.
Budayawan I Wayan Geriya menyebut, kegiatan menenun yang hasilnya berupa produk tekstil, bukan hanya berhenti sebagai sekadar busana yang menutupi tubuh bagi orang Bali. Kemampuan menenun sangat erat kaitannya dengan keberadaan Dewa Surya (Matahari) dan Dewi Ratih (Bulan) sebagai referensi peradaban manusia. Dewa Surya dianggap sebagai sumber energi, pencerahan dan sifat maskulin. Sementara Ratih diapresiasi sebagai sumber kesejukan, kecantikan dan keterampilan menenun sebagai simbol feminin.
Bahkan menurut Geriya, di Bali berkembang kepercayaan bahwa bercak-bercak yang terlihat di bulan merupakan bayangan dari Dewi Ratih yang tengah menenun, sehingga umat manusia tak kekurangan pakaian. Kepercayaan ini membuat pada zaman dahulu sebagian besar gadis di Bali belajar dan bisa menenun. Sayangnya kebiasaan menenun ini lambat laun semakin ditinggalkan, bahkan salah satu hasilnya seperti endek juga kian terpinggirkan.
