Sabtu, 31 Maret 2012

ENDEK MURAH DAN PRAKTIS KENAPA TIDAK? (Edisi III/2012)

Bagi sebagian besar orang, menggunakan busana endek membuat mereka tidak nyaman. Terlebih bila harus digunakan pada siang hari, saat cuaca sangat terik. Bahan kainnya yang cenderung kaku, juga seringkali sulit diaplikasikan pada berbagai jenis busana. Tak cuma itu, harganya yang cenderung tinggi membuat endek tak terjangkau bagi kalangan bawah. 

Kondisi itu diakui pula oleh budayawan I Wayan Geriya. Menurutnya, teknologi memang perlu dterapkan jika ingin tetap dikenal oleh masyarakat. Pemerintah yang mengharapkan agar masyarakat mau menggunakan busana endek, tentu tak akan bisa diwujudkan jika harga endek tetap mahal, sehingga sulit dijangkau masyarakat menengah ke bawah.

Para penenun endek dirasa tak perlu risau jika memang akan ada endek yang dibuat secara cetak. Ini karena antara endek tenun dan cetak memiliki pasar, kelas dan juga nilai yang berbeda. "Dalam kerangka teknologi antara handmade (buatan tangan) dan machine made (buatan mesin) selalu bersinergi.

Mesin memang unggul dari segi jumlah dan harganya murah, sehingga bisa digunakan oleh mereka yang ada pada kelas menengah ke bawah. Akan tetapi karena diproduksi secara missal, maka estetikanya kurang. Sementara itu hasil tenunan yang harganya lebih, cenderung diminati oleh mereka yang ada di kelas menengah atas yang menyukai sesuatu yang lebih eksklusif." 

Agar endek bisa semakin dikenal, selain melalui berbagai even seperti Denpasar Festival, maka pengenalan terhadap endek bisa dilakukan sejak anak usia dini. Misalnya melalui penggunaan seragam endek. Saat menggunakan pakaian endek, anak-anak ini juga bisa diberikan cerita yang berkaitan dengan pakaian yang digunakannya. Dengan demikian meraka akan memiliki pengetahuan sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap produk warisan leluhurnya.

Masa Kelam Endek

Pemerhati dan praktisi endek Bali, I Gusti Made Arsawan mengakui memang sejak tahun 2000 ke atas endek benar-benar memasuki masa kelam. Ada berbagai hal yang membuat hal ini terjadi seperti mahalnya harga endek. Endek menjadi mahal karena menggunakan 100% bahan impor yang memang mahal. Tak hanya itu. Para penenun juga pasti menuntut dibayar dengan pantas, sementara kapasitas produksi tak memadai, maka harga endek pun menjadi semakin mahal.

"Selama ini perajin memang kurang berkreasi, sehingga endek kesannya itu-itu saja. Tidak popular, terlebih di kalangan anak muda. Jadilan endek produk yang terpinggirkan. Harga bahan baku juga tinggi karena menggunakan 100% bahan impor. Sudah bahannya mahal, para penenun juga pasti minta dibayar dengan ongkos yang sesuai agar bisa bertahan.  Lengkaplah sudah endek menjadi terpinggirkan," jelasnya.

Sementara itu endek juga tak mesti harus ditenun. Bisa juga dibuat dengan digital print, sehingga harganya menjadi lebih terjangkau. "Sekarang dibuat dulu agar endek bisa lebih dikenal dan harganya bisa dijangkau oleh masyarakat. Jangan terlalu khawatir jika dengan membuat endek dengan metode cetak, maka yang tenun akan punah. Keduanya memiliki segmen pasar sendiri. Mereka yang menengah ke bawah tetapi menyukai endek, bisa memilih hasil digital print. Sedangkan bagi yang kelas atas dan menyukai yang eksklusif,  tentu akan tetap menjatuhkan pilihannya pada hasil tenunan. Dengan kondisi ini maka mereka yang kemampuannya pas-pasan tetap bisa menggunakan endek.  Para penenun juga tetap bisa hidup dan menghasilkan produk yang eklusif. Hanya saja inovasi design juga harus tetap dilakukan," ujarnya. (ayu)

BOOMING LALU COPY

TAK hanya sampai di situ. Kalaupun ada endek yang bisa booming, maka harus bersiap-siap di-copy. Biasanya produk yang diminati akan di-copy di luar Bali untuk ditingkatkan kapasitas produksinya. Produk yang datang dari luar memiliki kualitas yang tak jauh beda dari aslinya, sementara harganya jauh lebih murah. Inilah juga yang membuat endek Bali tak bisa bertahan dan dari hari ke hari semakin banyak perajin yang rontok.

Tentu kondisi ini sangat ironis terlebih di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bali. Idealnya endek juga bisa terus berkembang karena endek tak memiliki batasan fungsi. Endek sebagai komoditi tenun yang unik bisa dibawa dan disesuaikan dengan fungsi apapun.

Tak hanya sekadar busana, endek bisa dijadikan sebagai hiasan atau benda-benda fungsional seperti alas makan dan sebagainya. Arsawan berpendapat dengan memanfaatkan perkembangan teknologi endek bisa dibuat lebih terjangkau dan sesuai dengan selera pasar. Sekarang tinggal dirumuskan dengan jelas apa yang diinginkan berkaitan dengan keberadaan endek ini. Jika memang ingin motif endek dikenal dan mampu bertahan, maka para perajin perlu melakukan inovasi mulai dari menciptakan motif yang lebih variatif sehingga endek menjadi lebih menarik terutama bagi anak muda. (ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA