Sabtu, 31 Maret 2012

Putu Prida Dewi MENIKMATI “BOOMING” ENDEK (Edisi III/2012)

Endek kembali mendapat tempat di hati masyarakat Bali. Kondisi ini tidak disia-siakan oleh para pengusaha endek. Kesempatan tak dibuang begitu saja.  Putu Prida Dewi salah satunya. Ibu tiga anak ini pun “menghidupkan”  kembali usaha keluarga yang sempat vakum.

“Orangtua saya memang pengusaha endek sejak lama, tapi sempat vakum sekitar lima tahun. Waktu saya lihat endek mulai booming lagi, saya coba mengaktifkan kembali usaha orangtua saya. Ternyata hasilnya lumayan,” ujar perempuan yang membangun usaha dengan merek dagang Wijaya Kusuma ini.  Sayang, Prida enggan menyebut omset usahanya.

Meski merupakan produk asal Klungkung, namun pemasaran tetap difokuskan Prida di wilayah Denpasar. “Denpasar pasarnya jauh lebih besar ketimbang di Klungkung. Di Klungkung hampir semua orang sudah bisa buat sendiri,  punya alat tenun sendiri,” ujar perempuan asal Desa Sampalan, Klungkung itu.

Kampanye endek yang dilakukan Pemerintah Kota Denpasar, menurutnya sangat membantu pemasaran produk-produknya. Tidak hanya terbatas di wilayah Bali, kata Prida, produknya juga sudah dipasarkan ke wilayah Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. “Yang terpenting bagaimana kita membangun jaringan. Jaringan itulah yang saya andalkan untuk memasarkan produk ke luar Bali. Jadi kalau ada teman-teman saya datang dari Jakarta, mereka pasti mengontak saya untuk membeli endek,” kata Prida.

Namun belakangan, menurut dia, semakin banyaknya pengusaha yang berkecimpung dalam usaha endek, diakuinya membuat persaingan makin ketat. “Masalahnya sekarang banyak sekali yang bikin usaha endek. Persaingannya makin ketat. Kalau kita nggak pintar, bisa kalah,” ujar perempuan yang mengaku bisa menenun endek ini.


Lalu, apa strateginya untuk memenangkan persaingan? “Saya coba bersaing di harga. Jadi, saya nggak mau ambil untung terlalu besar. Margin keuntungan sekitar 10 persen saja sudah cukup, yang penting produk saya laku dan uangnya bisa terus berputar,” katanya.   

Prida tak setuju kalau ada yang menyebut bahwa produk endek terlalu mahal. Dikatakan, ia mencoba menawarkan berbagai versi endek dengan harga yang variatif. “Semua variasi harga dan bahan punya pasarnya sendiri-sendiri,” ujarnya.

Untuk produk dengan harga termurah, berbahan katun, mencapai harga Rp 150 ribu per lembar kain endek. Sedangkan paling mahal berbahan sutra bisa dijual hingga Rp 500 ribu per lembar kain.  “Di antara itu, ada juga yang berbahan campuran katun dan sutra, dan lain-lain. Semua punya harga berbeda, dan penggemarnya juga beda-beda,” tambahnya. (viani)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA