Minggu, 22 April 2012

PK5 BERBUDAYA (Edisi IV/2012)

Pemerintah mulai melirik usaha pedagang kaki lima (PK5) sebagai salah satu sektor usaha yang prospektif. Melalui Program Pemberdayaan PK5 yang diluncurkan secara nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 8 Maret lalu, Kementerian Koperasi dan UKM menjaring para wirausaha muda yang mengembangkan usaha kaki lima. Peluncuran program tersebut digelar dalam rangkaian acara Peringatan Gerakan Kewirausahaan Nasional yang dipimpin langsung Presiden SBY dari SME's Tower Jakarta, diikuti secara online melalui sistem teleconference dari Denpasar, Makassar, dan Semarang.

Peringatan yang mengambil tema 'Sejahterakan Rakyat Dengan Kewirausahaan' ini di Bali diisi dengan laporan dari Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali Dewa Nyoman Patra, SH, MM., dan motivasi dari Pimpinan Bank Indonesia Denpasar Jeffry Kairupan. Pada kesempatan tersebut, juga diserahkan secara simbolis sertifikasi untuk 825 pengelola koperasi di seluruh Bali.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengungkapkan, Bali secara geografis sangat sempit dan dihuni oleh sekitar 3,9 juta penduduk. Padatnya jumlah penduduk menyebabkan persaingan usaha, persaingan pencari kerja dengan lapangan kerja yang terbatas. Di samping itu menurut Pastika, pariwisata Bali sendiri memberikan kesempatan UMKM untuk berkembang di Bali mengingat Bali sendiri tidak memiliki SDA.
“Saya setuju adanya program pemberdayaan pedagang kaki lima, tapi jangan puas terus menjadi pedagang kaki lima apalagi mengganggu jalan raya,” kata Pastika. Ia  berharap setelah menjadi pedagang kaki lima, mereka berusaha meningkatkan diri sehingga menjadi wirausaha yang mandiri. “Tidak boleh terus menjadi pedagang kaki lima, tapi harus menjadi pedagang besar. Pedagang kaki lima setahun saja, selanjutnya pada tahun berikutnya harus berkembang menjadi pedagang besar," ujarnya.

Untuk menjadi wira usahawan sejati, pesan Pastika, harus memiliki keberanian sehingga nantinya bisa menciptakan lapangan kerja baru. Dengan menciptakan lapangan kerja baru maka kesejahteraan akan terwujud bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Pemerintah Provinsi Bali tak henti-hentinya berupaya memasyarakatkan dan membudayakan gerakan kewirausahaan di kalangan generasi muda, termasuk masyarakat kampus. "Pemuda, terlebih para sarjana sebagai cendekiawan, harus mempunyai keberanian dan strategi untuk meraih masa depan yang lebih cerah melalui usaha sendiri," ujarnya.

Pemimpin Bank Indonesia wilayah Denpasar Jeffery Kairupan menambahkan, kegiatan wirausaha sangat penting diberdayakan dalam rangka menekan angka pengangguran di Bali. "Selain untuk menekan angka pengangguran terbuka yang sampai saat ini berjumlah sekitar 36 ribu orang, juga guna menjawab tantangan kondisi ekonomi sekarang yang memasuki era baru," tegasnya.

Menurut Jeffery, akibat krisis ekonomi global membuat uang yang diinvestasikan oleh pemilik modal di Eropa, China dan Amerika Serikat menggantung atau mencari sasaran baru. Sedangkan, tambah dia, pada saat yang sama Indonesia mengalami kenaikan kinerja rating atau "invesment grade", dapat diduga uang yang menggantung tersebut akan masuk ke Tanah Air, termasuk ke Provinsi Bali. “Jadi kita harus bersiap-siap,” tegasnya. (viani)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA