Senin, 21 Mei 2012

BELANJA “ONLINE” (Edisi V/2012)

Dulu untuk sekadar beberlanja tak jarang kita harus menyediakan waktu berjam-jam mulai untuk mendatangi tempat belanja. Belum lagi untuk memilih barang dan kemudian mencari harga yang terbaik, terkadang kita harus beberapa kali berpindah tempat dan mencari perbandingan. Meski sebenarnya menyenangkan, berbelanja bisa jadi melelahkan dan menyita banyak waktu.

Itu dulu. Kini belanja bisa dilakukan dengan lebih mudah. Cukup dengan koneksi internet kita bisa berbelanja sambil bekerja atau duduk santai di rumah. Hadirnya toko-toko online memang memberikan banyak kemudahan.

Bagi yang telah terbiasa berbelanja secara online pasti nama Amazon ataupun e-buy bukanlah nama yang asing. Sementara di Indonesia kita juga mengenal adanya tokobagus.com ataupun berniaga.com bahkan seiring dengan berjalannya sosial media semacam kaskus ataupun facebook juga digunakan untuk berbisnis secara online.

Sebenarnya sistem perdagangan secara online telah dikenal sejak tahun 1994, namun di Indonesia sendiri hal ini baru menjadi trend sekitar tahun 2000-an. Saat ini banyak bisnis semacam ini dilakukan oleh para pemula dan bukan hanya didominasi oleh perusahaan besar.

Barang-barang yang dijual juga semakin beraneka ragam. Mulai dari produk elektronik, assesoris, furniture, kosmetik hingga pakaian. Mulai yang harganya puluhan ribu hingga yang berharga jutaan rupiah. Dari yang produk-produk baru hingga yang bekas pakai. Bahkan tak jarang dijual barang-barang ilegal atau yang dikenal juga black market (BM) dengan harga murah karena tak perlu membayar pajak.

Hanya saja meski menawarkan berbagai kemudahan, bukan berarti bertransaksi secara online tak memiliki risiko. Berbagai kasus penipuan terjadi dalam transaksi secara online ini. Mulai dari spesifikasi barang yang tak sesuai dengan yang ditawarkan, hingga tak dikirimnya barang meski telah dilakukan pembayaran.
Di Indonesia sendiri perlindungan terhadap konsumen yang melakukan transaksi secara online juga belum maksimal. Meski UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) telah disahkan, akan tetapi implementasinya juga ternyata belum mampu memberikan rasa aman bagi konsumen. Dari berbagai kasus yang terjadi hanya sedikit kasus yang bisa diungkap. Selain itu banyak juga korban yang enggan melaporkan penipuan yang mereka alami.

Di sinilah diperlukan kejelian dan kehati-hatian bagi mereka yang ingin membeli barang secara online. Seringkali seseorang lupa dengan risiko yang harus dihadapi akibat tergiur dengan harga yang murah dan jaminan kualitas barang.

Terlepas dari permasalahan yang masih harus dihadapi dalam transaksi online, sistem ini sejatinya menjanjikan kemudahan bagi penggunanya. Bukan hanya pembeli, mereka yang ingin menjual barang ataupun jasanya juga diberikan kemudahan. Mereka yang ingin memulai bisnis tak perlu lagi menyiapkan tempat khusus untuk memajang produknya ataupun waktu khusus untuk menunggui barang dagangannya. Dimungkinkannya terjadi komunikasi secara dua arah antara penjual dan pembeli juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Harga yang kompetitif tentu menjadi pertimbangan utama bagi pembeli yang ingin membeli barang secara online. Tak hanya itu. Pengiriman barang yang tepat waktu juga akan menjadi suatu pertimbangan. Si penjual juga harus mampu memberikan respon yang cepat terhadap setiap penawaran termasuk menampung setiap pertanyaan dan juga masukan dari pembeli. (ayu)

Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA