Senin, 21 Mei 2012

DARI BARU SAMPAI BEKAS (Edisi V/2012)

Kecepatan dan kemudahan setidaknya itulah dua hal yang ditawarkan melalui bisnis online. Tak hanya bagi penjual, kedua hal ini juga bisa dinikmati oleh mereka yang ingin membeli barang atau memperoleh suatu jasa. Yang ingin belanja tak perlu lagi berdesak-desakan ataupun datang ke beberapa tempat untuk mencari barang terbaik dengan harga murah.

Setidaknya dua hal inilah yang membuat Kompyang Suarbawa menjadikan online sebagai salah satu cara untuk berbelanja. Berbagai jenis barang biasa ia beli secara online. Mulai dari pakaian hingga produk elektronik dengan harga masih di kisaran ratusan ribu rupiah.

Selain dari situs-situs belanja online, beberapa produk juga ia dapatkan melalui social media seperti facebook. Produk yang ia beli juga tak selalu baru. Adakalanya ia membeli barang bekas pakai (second).  Hanya saja untuk barang semacam ini ia lebih memilih membelinya pada orang yang tinggal di Bali, sehingga dimungkinkan untuk dilakukan pengecekan secara langsung.

Selain kemudahan, harga menjadi pertimbangan utama ia berbelanja secara online. Biasanya barang dengan harga murah bisa didapatkan di facebook. “Di Fb banyak yang jual barang bagus dengan harga murah. Memang kualitasnya beda, ini kita kenal dengan istilah barang tembakan. Tetapi antara yang original dengan yang semacam ini kualitasnya tak jauh beda. Barang-barang semacam ini biasanya banyak ditemui untuk produk pakaian dan juga aksesori,” celotehnya.

Awalnya ia memang tidak terlalu yakin untuk berbelanja secara online, akan tetapi melihat beberapa temannya bisa mendapatkan barang bagus dengan harga murah ternyata membuatnya semakin penasaran. Ia kemudian mencoba berbelanja secara online atas rekomendasi dari teman kerjanya.

Hanya saja sampai saat ini ia hanya berbelanja pada situs-situs tetentu dan juga orang tertentu yang memang  selama ini telah terbukti kredibilitasnya. Pun demikian dengan harga barangnya, ia sangat membatasi hanya pada barang barang dengan harga di kisaran ratusan ribu rupiah. Ini dilakukan karena ia tak ingin tertipu seperti yang dialami oleh beberapa orang.

Tak hanya untuk berbelanja, pria asal Gianyar yang bekerja di Denpasar ini ternyata juga memanfaatkan social media untuk menjual barang yang tak ingin lagi digunakannya, tetapi masih layak untuk dijual. Biasanya respon yang cepat akan didapatkannya. Ini sangat memudahkan karena ia tak perlu pergi kemana-mana untuk menawarkan barang yang ingin ia jual.

BARANG MURAH, TAK PERNAH SAMPAI

TAK hanya kemudahan yang ditawarkan dari bisnis online. Berbelanja secara online juga sangat rentan dengan aksi penipuan. Meski undang-undang ITE telah disahkan oleh pemerintah, namun dinilai kurang mampu memberikan efek jera pada oknum-oknum yang tidak bertanggug jawab. Di samping itu mereka yang menjadi korban juga seringkali enggan melaporkan penipuan yang mereka alami.

Mita Sari salah satunya. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Denpasar ini pernah memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan terkait belanja online. Sekitar awal tahun 2011, barang yang ia pesan tak pernah sampai ke tangannya meski transfer telah dilakukan.

“Saat itu saya memesan sandal yang dijual secara online. Harganya saat itu sangat menggiurkan. Barang yang diperlihatkan di foto juga menarik. Jika dibandingkan dengan membeli langsung di sini bisa sampai setengah harga. Waktu itu saya diminta langsung mentransfer uang dan barang dijanjikan datang 3 hari setelah transfer, tapi ternyata sampai sekarang barangnya tak pernah datang,” kenangnya.

Saat tertipu, Mita mengaku bukan untuk pertama kali berbelanja secara online. Sejak tahun 2009 ia cukup sering berbelanja secara online hingga saat melihat ada yang menawarkan sandal yang bagus dengan harga murah ia langsung tertarik. Dalam transaksi yang dilakukan sebelumnya ia memang seringkali diminta mentransfer uang terlebih dahulu, dan barang selalu ia terimanya.

Akan tetapi penipuan yang ia alami tak serta merta membuat ia kapok berbelanja secara online. Sampai saat ini ia masih kerap belanja secara online. Hanya saja ia semakin hati-hati, ia hanya berbelanja pada situs-situs yang telah terbukti tak pernah melakukan penipuan atau berdasarkan rekomendasi teman yang telah berbelanja sebelumnya.

Ternyata tak hanya Mita yang menjadi korban penipuan semacam ini. Meski tak sama persis, salah seorang rekannya juga mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan saat belanja secara online. Saat itu rekan Mita membeli sebuah produk elektronik, setelah transfer barang memang diterima akan tetapi barang yang dikirim ternyata tak sesuai dengan yang dipromosikan. “Kualitasnya ternyata tak sebaik yang dipromosikan, mungkin karena itu bisa jual lebih murah,” kelakarnya.

Meski mengalami penipuan, baik Mita maupun rekannya enggan untuk melapor pada polisi. Di samping karena bingung harus melapor kemana, ia juga pesimis jika apa yang ia alami bisa diselesaikan dan kerugian yang ia derita bisa kembali. Tak hanya itu, ia juga merasa malu jika sampai terlalu banyak orang yang tahu peristiwa yang ia alami.

Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA