Senin, 21 Mei 2012

I Made Sidja SENI ADALAH YADNYA (Edisi V/2012)

Seni memang telah menjadi nafas kehidupan masyarakat Bali. Seni bukan hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi salah satu ungkapan syukur masyarakat Bali kepada Tuhan, sekaligus sebagai jalan membangun kebersamaan antarmasyarakat. Karenanya berbagai kesenian dengan beragam bentuknya dapat ditemukan di Bali.

Bukan hanya kesenian, Bali juga memiliki banyak seniman dengan berbagai kemampuannya. Tak sedikit dari mereka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk seni dan berkesenian. Bahkan hingga usia tak muda lagi mereka tetap mengabdikan diri bagi seni. Salah satunya Made Sidja (82), maestro seni asal Banjar Belega, Desa Bona Kelod, Blahbatuh, Gianyar ini bukan hanya mendedikasikan hidupnya pada seni tradisi, tetapi juga mengembangkan berbagai kreasi.

Ketertarikan Sidja terhadap seni dimulai dari kegemaran sang ayah mesatua (mendongeng). Oleh ayahnya yang tak bisa membaca dan menulis, ia disekolahkan agar bisa mengenal hurup. Sayangnya Sidja yang disekolahkan di sekolah rakyat hanya mengenyam pendidikan sampai kelas I saja. Ia dikeluarkan oleh gurunya karena terus meminta materi untuk kelas II dan III.

“Waktu dulu bapak saya suka mesatua, tetapi tidak bisa membaca. Karena itu ia ingin agar saya bisa membaca, karenanya saya disekolahkan. Saat kelas I, buku yang diberikan sudah saya selesaikan dalam empat hari saja, kemudian saya minta buku utuk kelas selanjutnya. Tetapi karena itu, gurunya justru menyuruh saya keluar dari sekolah,” kenangnya.

Keluar dari sekolah iapun mulai belajar membaca hurup Bali pada I Gusti Made Seler. Ia juga belajar berbagai kesenian dari 22 orang guru yang berbeda. Sidja mengakui ia memang sangat tertarik pada kesenian Salah satunya wayang. Ketertarikan pada seni pedalangan berawal dari kesenangannya menonton pertunjukan wayang semasih kecil.

Untuk mendukung kegiatan berkesenian, Sidja belajar hampir seluruh jenis kesenian seperti : topeng, arja, calonarang, gender wayang, gamelan batel, palegongan, geguntangan, menatah wayang, pemahat topeng, membuat berbagai jenis perangkat upakara (sate tegeh/gayah, palagembal, bade, lembu).

Sejak tahun 1945 Sidja mulai menekuni dunia seni. Pertama kali ia belajar kepada I Gusti Lanang Oka dan Dewa Ketut Tibah. Selanjutnya ia berguru dan berlatih menari kepada I Ketut Rinda yang merupakan seniman panutannya dan belajar ngwayang kepada I Nyoman Granyam. Gender Wayang menjadi kesenian yang pertama kali dilakoninya. Tahun 1947 Sidja melakukan pentas wayang pertamanya.

Kemampuannya mendalang ternyata mampu membawa Sidja pada perjalanan yang hanya bisa dinikmati segilintir orang. Undangan untuk tampil di berbagai negara datang pada seniman serba bisa ini. Ia tampil bukan hanya mewakili Bali, tetapi membawa seni Indonesia ke dunia internasional.

Tentu bukan hal yang mudah untuk belajar berbagai jenis kesenian. Diperlukan kerja keras dan juga ketekunan untuk dapat menguasainya. Hanya saja, bagi Sidja seni telah menjadi panggilan jiwanya. Berkesenian terlebih sebagai pelengkap upacara merupakan bagian dari yadnya. Ini juga tak lepas dari prinsip hidupnya yang memandang hidup sebagai sebuah pengabdian.

Sesepuh Sanggar Paripurna ini menilai, seorang seniman harus senang belajar sepanjang hidupnya. Tak hanya itu. Seorang seniman juga harus total dan tak boleh bergantung pada orang lain dalam berkarya. “Penari harus bisa membuat perlengkapan tarinya sendiri. Dalang harus bisa membuat wayang sendiri. Harus bisa dari memotong sapi, menguliti dan kemudian membuat wayangnya. Kalau tak bisa membuat wayang, tak akan berani memainkan wayangnya dengan keras. Kalau wayang dibuat sendiri saat ada yang rusak bisa diganti dengan dibuatkan yang baru, jadi memainkan wayangnya bagus,” jelas pria yang melatih seni di seluruh Bali ini.

Telah banyak karya yang dihasilkan lewat tangan dinginnya. Beberapa karyanya yang paling dikenal mulai dari Wayang Kulit Arja tahun 1976. Ia juga menciptakan Wayang Suling dan pada tahun 1980-an ia menciptakan Wayang Topeng.

Di tahun 1995, dibantu putranya I Made Sidia, SSP., ia menciptakan sebuah kreasi dalam pertunjukan wayang yang disebut dengan Wayang Listrik. Sesuai dengan namanya, pertunjukan wayang ini menggantikan blencong yang biasa digunakan dalam pertunjukan wayang tradisional dengan lampu listrik.

Penggunaan lampu listrik ternyata membuat pertunjukan wayang menjadi lebih menarik. Akan tetapi bukan berarti ia kemudian menggunakan kreasinya ini dalam setiap pertunjukannya. Sidja menilai harus selalu ada perbedaan antara seni tradisi terutama sebagai pelengkap upacara dengan seni kreasi. Kreasi memang harus selalu dilakukan agar seni bisa tetap bertahan. Akan tetapi seni tradisi sebagai jatidiri tetap tak boleh ditinggalkan.

“Kalau saya ngewayang temanya masih asli, tak ada berbicara tentang pemerintah, sehingga tak ada yang tersinggung. Pertunjukan wayang memang tak boleh menyinggung siapapun. Wayang seharusnya memberikan pitutur dan filosofi. Penonton akan ada bekal saat pulang. Kenapa pemimpin sekarang banyak yang bertindak tidak sesuai dengan swadarma-nya, karena filosofinya hanya sebatas wacana,” terang peraih penghargaan maestro seni tahun 2008 ini. (ayu)

ESTETIKA PERLU ETIKA

MAESTRO seni yang telah memperoleh banyak penghargaan seni dan lingkungan ini menyoroti pergeseran generasi muda yang kurang suka dengan seni tradisi. Anak-anak lebih suka dengan seni popular terutama yang berasal dari luar. Anak-anak juga tak suka belajar kesenian tradisional.

“Belajar kesenian tradisional harus dilakukan dengan mendalam, sementara anak-anak sekarang tak banyak yang suka belajar dengan mendalam. Mereka biasanya tak suka belajar, tetapi suka menari,” ungkap Made Sidja, sang maestro.

Dalang yang memiliki lebih dari 200 lakon wayang ini merasa prihatin dengan pertunjukan seni saat ini. Menurutnya, estetika dalam pertunjukan seringkali tak memperhatikan etika. Banyak dialog yang di luar pakem dan cenderung menyinggung perasaan.

Tak hanya itu. Dalam banyak pertunjukan dewasa ini, para penari juga banyak menggunakan make up secara berlebihan. Tak jarang mereka sampai harus memanipulasi penampilan agar terlihat lucu. “Dulu bagaimana caranya tanpa dihiaspun menarik. Kalau sampai merusak badan, artinya bukan seniman yang bagus. Bukan keseniannya yang menarik tetapi penampilannya,” terangnya.(ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA