Senin, 21 Mei 2012

KSU Satya Dharma KOPERASI SEBAGAI TEMPAT BEKERJA (Edisi V/2012)

Koperasi dalam perkembangannya kini telah tumbuh subur di Indonesia. Di Bali, data terakhir jumlah koperasi mencapai 4.149 unit, (katagori koperasi provinsi 110 unit, koperasi kabupaten 4.039 unit). Menjamurnya koperasi tak lepas dari peran masyarakat itu sendiri, dimana sebagian masyarakat memanfaatkan koperasi sebagai  peluang untuk bekerja.

Koperasi Serba Usaha (KSU) Satya Dharma misalnya. Koperasi ini mulanya didirikan sebagai peluang usaha bagi para mantan karyawan Bank Umum Sertivia. KSU inin didirikan Juni 1999 oleh para mantan karyawan Bank Umum Sertivia Denpasar yang dilikuidasi awal Maret 1999. “Sebagai mantan pegawai bank, kami memutuskan untuk membangun sebuah koperasi sebagai tempat kami bekerja,” kisah  I Made Sudarmawan , salah satu pendiri sekaligus Ketua KSU Satya Dharma.

“Dulu tidak mudah mencari izin. Kami mengubah anggaran dasar KSU Permata yang sudah tidak berjalan. Kami hidupkan kembali dari modal karyawan Bank Sertivia menjadi KSU Satya Dharma, Juni 1999. Kami bangun ini sebenarnya untuk tempat peluang kerja. Dulu 38 bank ditutup, kenapa kami tidak mendirikan koperasi saja?” ungkap Sudarmawan di koperasi yang berkantor di Jalan Trenggana No.147 Penatih, Denpasar ini.

Dari awalnya beranggotakan hanya 20 orang, kini per 31 Desember 2011 anggota KSU Satya Dharma mencapai 281 orang -- 96 orang anggota pendiri yaitu anggota aktif yang telah memenuhi simpanan pokok, wajib dan juga memiliki simpanan wajib khusus untuk menopang permodalan koperasi, dan 185 orang anggota tidak aktif yang baru menyetorkan simpanan pokok dan simpanan wajib.

Sebagai unit usaha simpan pinjam, menurut Sudarmawan KSU Satya Dharma patut berbangga. Pasalnya perkembangannya sendiri mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dari segi permodalan awalnya hanya Rp 20 juta, namun neraca per 31 Desember 2011 modal sudah mencapai Rp 1,2 milyar. “Ini tak lepas dari kerja keras seluruh anggota,” tandasnya.

Dalam perjalanannya, KSU ini bukan tanpa kendala. Diakui Sudarmawan, persaingan antarkoperasi kemudian begitu tajam, sehingga untuk menumbuhkan suatu koperasi saat ini sangatlah sulit.
“Kami beruntung sangat didukung oleh lingkungan. Yah … mereka mempercayai dananya dikelola oleh koperasi kami, sehingga tidak begitu kelihatan kendala yang kami hadapi. Apalagi pada waktu kami jalan, koperasi itu tidak booming seperti saaat ini. Dulu satu desa hanya boleh satu koperasi, sehingga kami terpaksa menghidupkan KSU Permata,”“ kata Sudarmawan.

Diungkapkan, memang tidak mudah mendapatkan nasabah yang benar-benar mau mempercayakan uangnya dikelola oleh koperasi. Oleh karena itu ia selalu menyeleksi setiap anggota yang benar-benar militan dan memiliki visi misi yang sama dengan tujuan koperasinya.

Oleh karena itu untuk merekrut anggota koperasinya, kini ia lebih menggunakan sistem jemput bola. Dimanapun posisi nasabah dijemput dan apapun fasilitas yang diinginkan oleh anggotanya tersedia di KSU Satya Dharma seperti pembayaran rekening  listrik dan telepon, penjualan voucher pulsa dan pembayaran samsat online.  “Pokoknya semua kebutuhan anggota (nasabah) kami layani,” tegasnya.

Untuk meningkatkan kepercayaan anggotanya, KSU Satya Dharma menggunakan prinsip transparan, yang artinya semua laporan laba, rugi diterbitkan setiap hari dan dirinya mengusahakan agar setiap anggotanya bisa tahu dan mencari tahu perkembangan koperasinya. Pihaknya memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada anggota, kondisi koperasi setiap saat.

“Kapanpun anggota datang, kami tetap berikan informasi. Kami selalu menjaga likuiditas sesuai dengan aturan yang ada, sehingga koperasi ini tetap menjadi sebuah koperasi yang sehat. Untuk membuat anggota menjadi loyal, pembagian sisa hasil usaha (SHU) juga dilakukan dengan proporsional sesuai aktivitas masing-masing,” terang Sudarmawan.

Saat ini Pemerintah Kota Denpasar baru akan merencanakan ‘koperasi berbudaya’ namun KSU Satya Dharma telah melakukannya dari tahun 2002. “Sejak tahun 2002 telah kami lakukan, hanya dulu saat anggota meninggal kami beri santunan 5 kali iuran wajib yang mereka punya. Kini modal kami sudah besafr, ke depan kami rencanakan bisa memberikan 5 juta rupiah per orang untuk anggota,” kata Sudarmawan tersenyum. (kresia)

Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA