Senin, 21 Mei 2012

MANAJEMEN KOPERASI HARUS MODERN (Edisi V/2012)

Koperasi diciptakan untuk membawa peningkatan kesejateraan pada masyarakat. Dengan berazaskan keadilan, diharapkan muncul kesejahteraan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat. Memang jika dilihat dari jumlahnya, koperasi terus tumbuh dari waktu ke waktu. Hanya saja apakah pertumbuhan dari sisi kuantitas ini mampu diikuti dengan peningkatan kualitas?

Meski koperasi telah berkontribusi besar dalam perekonomian Indonesia bahkan dunia, tak bisa dipungkiri sampai saat ini di masyarakat kita koperasi masih dinilai kalah gengsi jika dibandingkan dengan bentuk usaha lain. Koperasi sering terkesan sebagai usaha yang identik hanya dengan masyarakat pedesaan dengan tingkat pendidikan serta penghasilan rendah.

Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Bali, I Gede Indra SE, MM, menyatakan tidak benar jika semua koperasi dikelola dengan tidak profesional. Telah banyak koperasi yang dikelola dengan manajemen profesional dimana pengurusnya merupakan kaum-kaum profesional dengan tingkat pendidikan S1, S2 bahkan S3.

Memang diakui dari sekian banyak koperasi yang ada, banyak yang dibentuk oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang terbatas. Ini terutama terjadi di kawasan pedesaan. Akan tetapi ini bukan jaminan jika koperasi ini akan dikelola secara tidak profesional.

“Memang banyak koperasi yang didirikan oleh mereka yang penghasilannya rendah dengan tingkat pendidikan yang juga terbatas. Tetapi biasanya bukan mereka yang mengelola koperasinya. Koperasi biasanya dibentuk karena mereka kesulitan mengakses modal perbankan, tetapi koperasi yang dibentuk selanjutnya dipercayakan untuk dikelola oleh mereka yang memang memiliki kemampuan manajemen. Bahkan ada koperasi tani di Indonesia yang bahkan memiliki asset hingga Rp 4 milliar,” ujarnya.

 Tetapi Indra mengakui demi kemajuan koperasi yang masih belum dikelola dengan manajemen modern, harus mereposisi dan merevitalisasi diri sesuai dengan perubahan pasar yang terjadi. Jika tak ingin ditingkalkan masyarakat,  koperasi harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Koperasi harus mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan aman. Produk yang dipasarkan koperasi harus mampu memuaskan pasar yang tak lain para anggota koperasi.

Perbaikan Rekrutmen

Jika dibandingkan dengan usaha lain, sejatinya koperasi memiliki banyak kelebihan. Salah satunya yakni adanya pasar yang jelas dari setiap produknya. Karenanya produk harus sesuai dengan keperluan anggota. Jika telah memiliki produk yang bagus, selanjutanya koperasi harus memperluas pasar. Caranya mendapat pasar yang lebih luas yakni dengan menambah anggota.

Untuk bisa menambah anggota, selain dengan mengganti manajemen dengan manajemen modern diperlukan juga staf yang bisa mendukung kinerja koperasi. SDM memang selama ini menjadi kendala utama bagi koperasi untuk berkembang dengan baik. Diperlukan SDM yang berkualitas dan agresif dalam melakukan ekspansi pasar demi kemajuan koperasi yang pastinya akan berdampak pada kesejahteraan anggota.

“Proses rekrutmen harus diperbaiki. Harus dilakukan secara profesional sehingga didapat staf yang berkualitas. Sistem kekeluargaan harus ditinggalkan. Jenjang karir harus jelas dengan hak dan kewajiban yang relevan. Harus ada kepastian dan rasa aman bagi mereka yang bekerja seperti gaji serta tunjangan yang sesuai dengan kinerja. Reward dan punishment harus dilakukan secara adil dengan penilaian yang objektif,” jelasnya.

Indra menyatakan penerapan manajemen modern pada koperasi tak akan membuat koperasi kehilangan jati dirinya. Bahkan penerapan sistem manajemen modern justru akan menguatkan jati diri koperasi sekaligus membawa koperasi pada bentuk yang lebih sesuai dengan perkembangan dunia global. Ini untuk menyiapkan koperasi dalam persaingan global.

Dengan penerapan manajemen modern, pelayanan yang diberikan terhadap anggota bisa dilakukan secara optimal. Kinerja koperasi yang baik diharapkan mampu memberikan efek pada kesejahteraan masyarakat. Peningkatan kinerja ini juga diharapkan mampu berkontribusi terhadap pendapatan daerah baik berupa pajak maupun dampak ikutan lainnya dari peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penerapan manajemen modern dalam mengelola koperasi merupakan sebuah keharusan dan tak bisa ditawar lagi. Persaingan yang semakin ketat memaksa koperasi untuk berubah ke arah yang lebih modern dan melakukan inovasi dalam pelayanannya. Indra memperkirakan saat ini setidaknya telah 40% koperasi menerapkan manajemen modern.

“Jika dikelola dengan baik, bukan hal yang mustahil koperasi tumbuh menjadi besar. Perekonomian dunia digerakkan oleh koperasi. Di Indonesia ada koperasi yang asetnya sampai Rp 3,6 triliun dengan 100 cabang bahkan sampai punya ATM,” ungkapnya.

Ubah “Mindset”

Berbagai upaya memang telah dilakukan oleh pemerintah untuk merevitalisasi koperasi. Hanya saja diakui upaya ini tak bisa hanya dilakukan sendiri. Kemampuan pemerintah untuk melakukan pembinaan termasuk dalam bentuk diklat sangat terbatas dan tidak berimbang dengan jumlah koperasi termasuk yang ada di Bali. Diklat yang mampu diberikan masih bersifat umum seperti akutansi dan perpajakan.

Padahal bagi koperasi yang telah berkembang, diperlukan diklat yang lebih spesifik seperti pelayanan prima, manajemen risiko dan analisa usaha. Karenanya Indra sangat mengapresiasi diklat yang telah dilakukan beberapa koperasi dengan mendatangkan praktisi sebagai pembicara.

Meski merupakan sebuah keniscayaan, bukan berarti modernisasi manajemen koperasi tanpa kendala. Indra menyatakan mengubah mindset terutama pengelola dan anggota menjadi tantangan yang paling berat. Selama ini biaya termasuk untuk diklat seringkali masih dianggap sebagai beban dan bukan investasi yang harus dilakukan demi kemajuan bersama.

“Harus ada partisipasi aktif dari pengelola dan anggota. Cara berpikir harus diubah dan mulai berpikir cara meningkatkan kualitas SDM sehingga pergerakan koperasi bisa lebih optimal. Untuk ini memang diperlukan biaya seperti untuk diklat, tetapi ini bukan beban, melainkan investasi. Terbukti koperasi yang berani melakukan investasi untuk peningkatan kualitas SDM berhasil berkembang dengan pesat,” paparnya.   (ayu)

Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA