Kamis, 28 Juni 2012

A.A. Oka Astuti MENARI SAMPAI AKHIR (Edisi VI/2012)


Gianyar selama ini memang dikenal sebagai kabupaten seni. Berbagai kesenian tumbuh dan berkembang di kabupaten sini. Para seniman pun banyak terlahir di daerah ini, bahkan dengan kiprah dan nama yang telah melegenda. Tak heran ada yang menyebut Gianyar sebagai sebun (sarang)-nya  seniman di Bali.
Hampir tiap desa di Gianyar memiliki seniman. Salah satunya yakni Desa Peliatan, Ubud. Di desa ini dapat dengan mudah ditemukan seniman-seniman yang namanya telah termasyur. Sebut saja Anak Agung Oka Astuti (57). Perempuan yang satu ini namanya begitu termasyur sebagai seorang penari legong.
Peliatan, selama ini memang telah dikenal sebagai salah satu tempat perkembangan seni tari di Gianyar, khususnya tari legong. Di desa ini bisa dengan mudah ditemui penari legong yang mumpuni.
Sebagai seorang penari, sejatinya bukan hanya tarian legong yang dikuasai Oka Astuti. Berbagai jenis tarian bahkan dengan piawai dibawakan dengan penguasaan yang andal. Hanya saja tari legong yang membuatnya menjadi begitu dikenal.
Ibu tiga anak ini menceritakan, kemampuannya menari didapatnya karena ia terlahir di keluarga penari. Ayah maupun ibunya merupakan penari dan juga guru tari. Bahkan sang ayah, A.A. Gede Ngurah Mandera (alm), merupakan tokoh yang berperan sangat penting dalam memajukan seni di Desa Peliatan. Dari kedua orang tuanya inilah bakat seninya diturunkan.
"Ayah saya seorang guru seni, ibu saya juga seorang penari. Merekalah yang memperkenalkan saya dengan seni. Bahkan ketiga saudara saya yang lain juga menjadi seniman. Tak hanya penari, ada juga yang menjadi penabuh. Tak hanya belajar dari orangtua, kami juga belajar dari beberapa guru lain yang juga menjadi teman kedua orangtua saya saat berkesenian," tuturnya.
Meski belajar pada orangtua sendiri, Oka Astuti menceritakan jika metode pengajaran yang diterimanya sangat keras. Bahkan sang ayah tak segan-segan dalam mendisiplinkannya sampai memperbaiki postur tubuhnya. Tari legong merupakan tarian pertama yang dipelajarinya sebelum akhirnya diajarkan tarian lain.
Cukup lama waktu yang diperlukan hingga akhirnya ia diberikan kesempatan untuk pentas. Oka yang mulai belajar menari sejak usia 7 tahun baru diberikan kesempatan untuk tampil setelah dua tahun berlatih.  Pertama kali ia tampil saat ada odalan di Peliatan.
"Dulu, baru setelah dua tahun belajar menari, saya diizinkan untuk tampil. Metode dulu memang seperti itu, gurunya keras, seorang penari juga harus mantap. Belajarnya satu jenis tarian dulu, kalau sudah mantap baru boleh coba tampil. Biasanya pertama kali pasti di pura. Setelah benar-benar mantap dengan satu tarian baru diizinkan belajar satu tarian lain lagi," kenangnya.
Ini sangat berbeda dengan metode pengajaran sekarang. Anak-anak yang belajar menari saat ini diajarkan tarian secara global dan tak fokus pada satu jenis tarian. Ini dilakukan karena anak-anak saat ini sangat mudah merasa jenuh. Jika hanya diajarkan satu jenis tarian dan tak segera diberikan kesempatan untuk tampil, biasanya mereka akan berhenti untuk belajar.
Hasilnya tentu saja berbeda. Saat ini sangat sulit ditemui seorang penari yang benar-benar mantap menguasai sebuah tarian. Ini juga tak terlepas dari situasi pengajaran saat ini yang tak lagi sekeras dulu. Tak hanya itu, Oka Astuti menceritakan saat ia kecil, sangat sedikit orang yang mau belajar menari. Hanya sekita 5 sampai 6 orang saja. Berbeda dengan saat ini yang jumlahnya bisa 20 sampai 50 anak.
"Dulu gurunya keras, badan kita diikat dengan menggunakan sabuk. Setiap istirahat kita juga dipijat untuk memperbaiki postur. Sekarang tak bisa seperti dulu lagi. Kalau dulu yang belajar menari sedikit jadi bisa dilihat satu demi satu. Tapi kalau sekarang yang ikut banyak sekali. Jadi tak bisa dilihat satu per satu. Sekarang anak-anak juga maunya cepat tampil, kalau terlalu lama mereka bisa langsung kabur," ujarnya saat ditemui di Open Stage Balairung Peliatan.
Oka mengungkapkan untuk bisa menari dengan baik seorang penari bukan hanya harus menguasai semua gerakan dalam sebuah tarian. Di samping gerakan penari juga harus paham dengan cerita yang ada di dalam tarian. Pemahaman akan cerita akan memunculkan penjiwaan yang pada akhirnya akan membuat gerakan yang dihasilkan semakin bagus.
Kemampuan Oka Astuti dalam menari terutama menari legong bukan hanya memberinya kesempatan untuk tampil di hadapan wisatawan. Kepiawaiannya dalam menari juga memberinya kesempatan untuk pergi ke beberapa negara. Sejak tahun 1965 ia mulai mendapat kesempatan tampil di sejumlah negara mulai dari Australia, Brunei Darussalam, Jepang hingga Amerika.
Wanita yang piawai menari ini juga pandai menabuh gamelan dan tergabung dalam kelompok Mekar Sari Women Orchestra. Meski usianya tak muda lagi, nenek tiga cucu ini masih tetap aktif berkesenian hingga sekarang. Bahkan makin hari kesibukannya semakin bertambah. Bukan hanya menari, secara rutin ia juga melatih anak-anak.
"Sekarang saya tak hanya menari tetapi juga mengajar. Ini sebagai bentuk tanggung jawab untuk regenerasi. Jangan sampai generasi yang akan datang tak bisa menari Bali dan justru tarian Bali dikuasai oleh orang asing. Menari bagi orang Bali bukan sekadar hiburan, tetapi bisa juga untuk persembahan kepada Tuhan. Saya akan tetap menari dan mengajar tari sampai akhir, selama saya masih diberikan kemampuan untuk itu," tandasnya. (ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA