Kamis, 28 Juni 2012

KETIKA SUBAK JADI WARISAN BUDAYA DUNIA (Edisi VI/2012)

Subak, sistem irigasi pertanian tradisional Bali, diakui sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), organisasi dunia di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang pendidikan dan budaya. Apa istimewanya?


Sebuah kabar gembira tiba-tiba disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti kepada media massa, Minggu, 20 Mei 2012 lalu. Ia menegaskan bahwa UNESCO telah secara resmi menetapkan Subak sebagai salah satu warisan budaya dunia dalam rapat internalnya, dan akan melakukan penetapan secara resmi dalam sidang UNESCO di St. Petersburg, Rusia, 20 Juni mendatang.
“Kabar penetapan UNESCO merupakan kabar yang sangat menggembirakan. Ini adalah hal yang sudah kita nanti-nanti sejak lama, sekitar 12 tahun lalu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Ketut Suastika menanggapi kabar tersebut. Suastika sendiri mengaku telah menerima kabar itu secara resmi dari salah seorang pejabat di lingkungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Pengakuan UNESCO memang merupakan pencapaian yang sangat berharga bagi Bali, juga Indonesia. Sejak 12 tahun lalu, Bali melalui pemerintah pusat berjuang untuk mendapat pengakuan tersebut.
Pengakuan UNESCO itu sendiri mencakup 4 situs bersejarah penyangga tradisi subak di Bali yang disebut dengan nama lanskap budaya Bali. Keempat situs tersebut terdiri atas kawasan Gunung Batukaru di Tabanan, daerah aliran sungai Pakerisan di Gianyar, Pura Taman Ayun dan kawasan sekitarnya di Kabupaten Badung, dan kawasan sekitar Danau Batur.  
“Dengan ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, kita harapkan ada perhatian khusus, terutama dari negara-negara anggota UNESCO untuk mendorong kegiatan-kegiatan pelestarian tentang subak. Ini penting agar warisan itu bisa sustainable,” tegas Suastika.  
Penetapan subak sebagai salah satu warisan budaya dunia juga dipastikan dapat menambah daya tarik wisatawan untuk datang ke Bali, khususnya ke area-area yang ditetapkan sebagai situs warisan budaya dunia tersebut.
“Pengakuan UNESCO secara otomatis dapat membuat nama Bali akan semakin dikenal wisatawan dunia. Saya optimis akan semakin banyak wisatawan asing datang berkunjung ke empat situs tersebut,” tambahnya.
Suastika mencontohkan, sebuah situs bersejarah di Kamboja bernama Angkor telah terbukti berhasil menaikkan jumlah wisatawan yang berkunjung hingga dua kali lipat paska ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Sekretaris tim Pemerintah Provinsi Bali untuk warisan budaya dunia UNESCO, Prof. I Wayan Windia, juga menyatakan kebanggaannya. “Ini pencapaian yang amat sangat membanggakan. Mendapat pengakuan UNESCO bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali persyaratan rumit yang harus dipenuhi,” jelas Windia yang juga merupakan guru besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Ida Bagus Ngurah Wijaya juga menyatakan kebanggaannya. “Ini menjadi bukti nyata pengakuan UNESCO terhadap sistem pengairan lahan pertanian yang mengadopsi konsep tradisional Bali,” tegas Wijaya.
                Pengakuan tersebut, kata dia, akan berdampak sangat besar terhadap citra Bali sebagai kawasan wisata berbasis budaya. “Pencitraan pariwisata kita yang berbasis kebudayaan jelas-jelas mendapat pengakuan dunia. Ini jelas dapat mengangkat citra Bali dan secara otomatis pada gilirannya akan mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan asing ke Bali,” Wijaya optimis.
Kebahagiaan serupa juga dirasakan petani di kawasan Jatiluwih, salah satu kawasan yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. “Sejak awal kami sangat menanti penetapan UNESCO ini. Kami harap penetapan itu bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah kami karena membuat daerah kami menjadi jauh lebih terkenal,” tegas Nyoman Sugita, anggota subak Gunung Sari di Desa Jatiluwih. (viani)

BOX :

SITUS YANG JADI WARISAN BUDAYA DUNIA

  1. Kawasan Catur Angga Batukaru, Tabanan
Merupakan kawasan di sekitar Gunung Batukaru yang terdiri atas hutan lindung dan kawasan perbukitan yang menjadi penyangga lingkungan Bali. Wilayah yang jadi fokusi di situs ini adalah kawasan persawahan di Desa Jatiluwih.

  1. Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan, Gianyar
Merupakan kawasan aliran sungai yang memiliki banyak situs arkeologi bersejarah. Salah satunya Gunung Kawi. Di sepanjang alisan watershed boasts many majestic archaeological sites, including Gunung Kawi -- pemakaman raja Bali di masa Bali Aga. Kawasan Situs-situs arkeologi di sepanjang aliran sungai Pakerisan merupakan warisan sejarah masa lalu Pulau Bali. Ada puluhan hektar sawah yang dikelola 3 subak di kawasan hilir aliran Sungai Pakerisan yang juga menjadi bagian situs warisan budaya dunia.

  1. Pura Taman Ayun, Badung
Terletak sekitar 18 km dari Denpasar, Pura Taman Ayun memiliki luas 40.000 m2 yang dikelilingi kolam besar. Pura ini merupakan pura dari keluarga raja Mengwi untuk memuja roh para leluhurnya. Setiap harinya, rata-rata ada 400 orang wisatawan asing maupun domestik mengunjungi pura ini.

  1. Kawasan Danau Batur, Bangli
Danau Batur merupakan danau kaldera yang menjadi tempat penting bagi umat Hindu, sebagai tempat Dewi Danu, dewi kesuburan dan kemakmuran. Danau Batur menjadi sumber air yang sangat strategis bagi aktivitas pertanian di Bali. 

Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA