Bagi masyarakat Bali seni bukanlah sekadar hiburan. Dalam kehidupan masyarakatnya seni dipandang sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan. Karenanya seni bukan hanya bermakna secara sosial akan tetapi juga spiritual. Karenanya berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan seni hingga tak punah.
Memberikan perhatian terhadap kehidupan para seniman yang memegang peranan penting terhadap kelestarian seni, merupakan salah satu dari berbagai upaya itu. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Gianyar tahun 2005 dengan membentuk 20 koperasi seniman yang tujuannya untuk memberikan perhatian terhadap kesejahteraan para seniman.
Koperasi Seniman Topeng yang terletak di wilayah Desa Pakraman Pedapdapan, Pejeng, salah satunya. Koperasi ini ditujukan khusus bagi para seniman topeng yang selama ini memang menjadi bagian penting dalam setiap pelaksanaan yadnya.
Ketua Koperasi Seniman Topeng, Ida Bagus Nyoman Darmalara, SSi, memaparkan, pemilihan lokasi pembentukan koperasi seniman pada awalnya didasarkan pada potensi kesenian yang berbeda di setiap daerah. Berdasarkan informasi dari para sesepuh seniman yang ada, Pejeng dianggap sebagai “sebun” dari kesenian topeng.
“Seni dan berkesenian merupakan proses budaya. Seni bisa muncul dimana saja dalam berbagai bentuknya. Setiap daerah memiliki ciri dan kekhasannya masing-masing. Dari para orangtua yang dianggap paham terhadap seni, Pejeng dianggap sebagai sebunnya seni topeng. Kebanyakan seniman topeng ada di Pejeng dan sampai saat ini ternyata masih lestari. Para seniman topeng di sini menjadikan topeng sebagai proses persembahan,” ungkapnya.
Di awal pembentukannya pada 2005, koperasi ini hanya beranggotakn 25 orang. Semuanya merupakan seniman topeng. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, mulai dipikirkan pengembangan dari koperasi ini.
Pada tahun-tahun berikutnya mulailah diterima anggota lain, diantara mereka ada yang merupakan seniman tabuh dan sering terlibat dalam pertunjukan topeng. Hanya saja dalam setiap penerimaan anggota, masih tetap terbatas dari kalangan seniman. Sementara masyarakat umum yang tak memiliki kaitan dengan kesenian topeng sampai sekarang belum bisa menjadi anggota.
Hingga saat ini Koperasi Seniman Topeng ini telah memiliki 78 orang anggota. Meski sampai saat ini tetap membatasi latar belakang profesi anggotanya, koperasi ini ternyata bisa menerima anggota seniman yang berasal dari luar wilayah Pejeng. Beberapa orang anggotanya merupakan seniman topeng yang berasal dari Payangan, Ubud, hingga Blahbatuh dan Sukawati.
Darmalara mengakui selama ini seniman memang sangat identik dengan kesan susah diatur dan memiliki kehidupan yang tidak teratur. Akan tetapi dengan pembentukan koperasi ini, kesan yang selama ini telanjur melekat secara perlahan berusaha dihapus. Kesejahteraan para seniman akan menjadi sebuah jaminan kelestarian sebuah seni.
Hanya saja ternyata para seniman memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sebuah kesejahteraan. Kesejahteraan tak diukur semata dari besarnya keuntungan yang bisa diberikan koperasi terhadap para anggotanya.
“Koperasi dianggap mensejahterakan, bukan dari besarnya keuntungan yang bisa didapat. Bukan berdasarkan besarnya SHU yang bisa dibagikan setiap tahunnya. Bagi anggota kami, koperasi dianggap bisa mensejahterakan apabila bisa membantu anggota saat membutuhkan. Ada tempat yang pasti dan bisa didatangi saat anggota memerlukan. Meski profitnya besar, tapi tak bisa membantu mereka saat mereka membutuhkan, tentu tak bisa dikatakan mensejahterakan,” jelas pria yang juga menjadi Ketua LPD Desa Pakraman Pedapdapan ini.
Meski ekuitas yang dimiliki Koperasi Seniman Topeng ini tak terlalu besar dan masih di bawah Rp 100 juta, ternyata kepercayaan masyarakat cukup besar. Ini terlihat dari dana pihak ke tiga yang mencapai Rp 1 miliar.
Kepercayaan yang dimiliki masyarakat menurutnya bisa muncul karena dua alasan. Pertama, ada kepercayaan yang muncul karena kredibilitas lembaga. Kedua, ada juga kepercayaan yang muncul karena masyarakat percaya dengan para pengurus. Untuk koperasi yang anggotanya seniman, alasan kedua ternyata lebih dominan. Ini dikarenakan seniman kebanyakan menggunakan rasa dalam setiap tindakannya.
Setelah tujuh tahun berjalan, ternyata banyak pengalaman unik yang ditemui Darmalara. Misalnya dalam setiap pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Para anggota koperasi yang merupakan para seniman ternyata sangat antusias datang. Bahkan kehadiran mereka rata-rata di atas 80%. Dan ternyata bukan mendengarkan laporan pengurus yang menjadi tujuan utama mereka.
“Kehadiran anggota cukup tinggi, tetapi mereka tak datang sekadar untuk mendengar laporan pengurus. Dibandingkan mendengarkan laporan pengurus mereka lebih tertarik bercerita satu sama lain tentang seni, pengalaman mereka pentas dan hal lain semacamnya. Maka jadilah RAT kami seperti diskusi seni yang diisi para seniman berbagai usia” tuturnya.
Perlu Lembaga Penjamin
Jika banyak koperasi yang mengeluhkan modal sebagai kendala utama untuk bisa berkembang, lain lagi bagi koperasi ini. Darmalara menilai menjaga kepercayaan masyarakat menjadi tantangan utamanya. Terlebih dengan besarnya dana pihak ke tiga yang jauh melampaui ekuitas.
Untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat yang makin hari makin besar terhadap koperasi, menurutnya ke depan diperlukan sebuah lembaga yang bisa menjadi lembaga penjamin bagi koperasi. Jika bank memiliki Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), hal yang sama juga diperlukan bagi koperasi demi memberikan rasa aman bagi masyarakat yang telah mempercayakan dananya pada koperasi.
“Ke depannya, dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap koperasi maka sangat perlu dibentuk lembaga untuk menjamin simpanan yang dipercayakan. Bank dengan modal besar saja bisa rush apalagi koperasi dengan modal terbatas. Kalau bukan dari pemerintah, lembaga penjamin ini mungkin bisa yang sifatnya lintas koperasi sehingga bisa saling menopang dan mendukung,” harapnya. (ayu).