Sabtu, 28 Juli 2012

ABAIKAN SUBAK, HANYA UNTUK ELITE PETANI? (Edisi VII/2012)

Di balik kesuksesan program sistem pertanian terintegrasi (Simantri), ada satu hal yang disayangkan dari pengelolaan program ini. “Sayangnya yang menikmati program ini adalah kaum elite petani yang bisa buat proposal saja,” ujar Wayan Windia, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Menurut Windia, diabaikannya kelompok subak dalam penerapan program Simantri merupakan bentuk ketidakpedulian pemerintah pada keberadaan subak. Selama ini, petani yang menerapkan program Simantri wajib membentuk gabungan kelompok tani (gapoktan) yang terdiri dari 20 orang petani. “Koridor Simantri itu menurut kami kurang betul. Seharusnya pemerintah mengoptimalkan kelompok subak, jangan lagi membentuk kelompok tani,” tegas Windia.

Dijelaskan Windia, program Simantri sebenarnya sangat positif untuk bisa mengangkat subak. Subak harus memberikan aktivitas ekonomi, bukan hanya aktivitas budaya dan keagamaan. “Sejarah subak sebenarnya aktivitas sosio cultural, sehingga hanya menghasilkan budaya agraris. Sekarang mereka harus diberikan aktivitas ekonomi dan teknologi,” jelasnya. 

Diakui Windia, kelompok tani yang menjalankan Simantri pada dasarnya adalah anggota subak. “Tetap ada friksi antara kelian subak dengan gapoktan. Seharusnya Simantri di bawah landasan subak yang sudah punya pengalaman. Ini penting untuk mengembangkan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Windia menyesalkan karena selama ini subak tidak mendapatkan apa-apa dari pemerintah. Pemerintah, menurutnya, harus membuat  petani senang bertani. “Kenyataannya, pemerintah membiarkan petani kehilangan saluran irigasinya, dan mereka harus membayar pajak yang sangat mahal, tidak sebanding dengan hasil pertaniannya. Jadi pemerintahlah yang sebetulnya secara sistematis menghancurkan subak dan sektor pertanian di Bali,” ia menambahkan.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika membantah pihaknya tidak peduli dengan subak. “Kenapa Gapoktan? Karena dulu dari segi legal, kita harus dapat legalisasi bupati. Gapotan toh juga bertempat di subak masing masing. Jadi skupnya lebih kecil sebenarnya gapoktan,” Pastika menegaskan.
“Kalau gapoktan memang skupnya jauh lebih kecil dan Simantri ini sesungguhnya hanya untuk menjadi contoh bahwa kalau pelihara ternak sendiri-sendiri, hasilnya sedikit. Kalau dengan metode Simantri, petani akan dapat nilai lebih dari sapi. Simantri ini tujuannya utama adalah supaya kita bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya dari ternak kita,” tambahnya.

Selain untuk meningkatkan ekonomi petani, program Simantri juga pada dasarnya digelar untuk mewujudkan Bali organik. “Petani kita arahkan agar kembali pada penggunaan produk organik, sehingga kita bisa mewujudkan Bali organik,” tegas Pastika.

Ketua Yayasan Bali Organic Association (BOA), Luh Kartini, mengakui program Simantri untuk mewujudkan Bali Organik sangat positif. Menjadikan Bali organik sangat mendesak mengingat penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan sudah cukup merusak alam Bali. "Tetapi memang perlu komitmen kuat untuk bisa menerapkan ini. "Gerakan Bali organik harus didukung semua pihak, baik sektor pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, petani, pelaku pariwisata, dan lainnya," kata Kartini.

Diakui, beberapa pihak menyatakan program Bali organik hanya sebagai lips service. "Namun sebenarnya tidak masalah disebut lips service. Setidaknya, sudah ada suatu gerakan di sini untuk menjadikan Bali organik. Ini sesuatu yang bagus, dan perlu kerjasama kita semua. Tidak bisa pemerintah sendiri," tambahnya.

Dikatakan, BOA sudah mendorong Bali organik sejak lama melalui berbagai kampanye. Namun upaya mendorong Bali organik tersebut diakui tidak mudah, karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan lingkungannya. "Dan dengan dicanangkannya Bali organik oleh pemerintah sekarang, ini satu kemajuan yang luar biasa sebenarnya. Dulu kita bermimpi untuk mendapat dukungan, sekarang ternyata sudah ada dukungan. Mari kita berpikir positif, bahwa segala sesuatu butuh evaluasi, ada kekurangannya jelas.

Justru saatnya sekarang publik mendorong kekurangan-kekurangan ini. Saatnya semua pihak ikut ambil peran," harapnya. (viani)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA