Sabtu, 28 Juli 2012

KOPERASI KELOLA AGROEKOTURISME Kenapa Tidak? (Edisi VII/2012)

Indonesia khususnya Bali memiliki potensi yang sangat besar dalam pertanian dan juga industri pariwisata. Kedua sektor ini sejatinya bisa dikembangkan secara bersama-sama tanpa harus saling mematikan satu sama lain, dengan konsep agroekoturisme. Terlebih di tengah trend back to nature yang sedang melanda masyarakat dunia.

Memang telah banyak pengusaha mengembangkan konsep ini dan terbukti mendapatkan respon positif dari pasar. Potensi yang dimiliki memang sangat besar. Sayangnya belum mampu dimanfaatkan secara optimal oleh koperasi. Sampai saat ini koperasi di Indonesia memang masih banyak yang hanya berkutat pada usaha klasik sperti simpan pinjam dan belum mampu menggarap sektor lain yang juga tak kalah potensial.

Berbagai upaya dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI untuk mengoptimalkan peluang ini, utamanya dalam peningkatan kualitas SDM. Salah satunya melalui Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK dengan kegiatan peningkatan kapasitas pengelolaan agroekoturisme melalui koperasi yang telah dilaksanakan dari 30 Mei sampai 2 Juni.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali Dewa Nyoman Patra menjelaskan, pembangunan agroekoturisme di Bali telah menjadi bagian integral dari pembangunan pariwisata dengan pendekatan community based tourism. Melihat kondisi ini diharapkan agroekuturisme dapat membawa manfaat bagi masyarakat lokal jika dikelola melalui koperasi.

Hanya saja untuk mengembangkannya sangat diperlukan kejujuran dan profesionalisme yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia koperasi dan UMKM. Menurutnya, profesionalisme menjadi kunci dalam upaya peningkatan kualitas SDM UMKM. Hanya saja profesionalisme juga harus dilandasi nilai-nilai etika untuk dapat meraih kepercayaan pasar.

Sementara itu Asisten Deputi Urusan Penelitian Koperasi Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Koperasi dan UKM, Drs. Syamsuddin, MM mengungkapakan bahwa sampai saat ini koperasi memang belum mampu memanfaatkan peluang yang ada utamanya dalam menggarap usaha agroekoturisme. Padahal dalam UU No. 10 tentang Kepariwisataan banyak peluang yang terbuka untuk hal ini.
Peluang terbuka bagi koperasi dan UKM untuk turut serta dalam industri pariwisata, baik sebagai pengelola objek maupun sebagai penunjang seperti dalam bidang transportasi, akomodasi maupun sekadar menyediakan sauvenir yang dihasilkan oleh UKM yang ada di wilayah tersebut

Di Indonesia sendiri baru di Provinsi Bali terdapat cukup banyak koperasi yang terlibat dalam industri pariwisata termasuk agroekoturisme. Diungkapkan, potensi seperti desa wisata memang sangat besar dan potensial untuk dikembangkan. Pengembangan semacam ini akan membawa dampak yang luas bagi perekonomian masyarakat di suatu kawasan.

“Potensi semacam desa wisata sangat luas, sayangnya potensi ini belum begitu tersentuh. Karenanya perlu pembicaraan bersama untuk mengembangkan potensi yang besar ini. Dalam pengembangan desa wisata, pekerjaan bisa dibagi dengan melibatkan seluruh warga desa yang merupakan anggota koperasi. Tentu hasilnya bisa dinikmati secara bersama-sama,” ungkapnya.

Hanya saja kendala klasik seperti minimnya modal yang dimiliki koperasi tetap menjadi permasalahan utama yang masih harus dihadapi sampai saat ini. Untuk bergerak pada sektor pariwisata, diakui memang diperlukan modal yang sangat besar. Akan tetapi Syamsuddin menilai dengan adanya komitmen dari senua komponen masalah ini akan dapat diatasi.

“Kemitraan bisa menjadi solusi atas minimnya modal yang dimiliki. Bisa saja koperasi atau desa menjalin kerjasama dengan hotel. Selama kedua belah pihak bisa diuntungkan, saya rasa ini sangat mungkin dilakukan. Terlebih mengembangkan masyarakat sekitar juga menjadi tanggung jawab pengusaha. Jadi alangkah baiknya jika hal ini bisa dilakukan,” terangnya.

Di samping modal, diakui kualitas SDM juga masih menjadi kendala sampai saat ini. Pariwisata yang sangat identik dengan service, tentu harus didukung dengan SDM yang berkualitas dan profesional. Diperlukan orang-orang yang mampu berpikir cerdas sehingga tahu dengan jelas apa yang akan dijual, bagaimana mengemasnya sehingga menarik bagi pasar dan selanjutnya bagaimana mengatur sehingga menguntungkan dalam jangka panjang.

“Perlu SDM yang berkualitas yang tahu bagaimana caranya memanage, sehingga menarik bagi konsumen. Perlu dipahami bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik sehingga konsumen merasa puas. Yang tak kalah penting juga perlu dilakukan promosi yang menarik untuk menggaet pasar,” ujarnya.

Gali Keunikan

Diakui memang tak mudah untuk mengembangkan sektor pariwisata termasuk agroekoturisme. Karenanya diperlukan pengembangan yang komprehensif melibatkan berbagai sektor. Keinginan untuk mengembangkan pariwisata harus didukung dengan kondisi infrastuktur yang baik, regulasi yang jelas serta keamanan yang stabil.

Ke depan, konsep agroekoturisme bisa dikembangkan di seluruh Indonesia mengingat potensi besar yang dimiliki dalam bidang pertanian dalam arti luas sekaligus pariwisata. Pengembangan agroekoturisme juga bisa dilakukan dengan berbagai model sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh daerah masing-masing.
Tiap daerah diharapkan mampu menggali keunikan masing-masing yang tak dimiliki oleh daerah lain. Pariwisata bisa dikaitkan dengan berbagai hal mulai dari edukasi hingga religi. Pun demikian dengan pasar yang dibidik, tak selamanya harus mancanegara. Wisatawan domestik juga memiliki potensi yang sangat besar. Sekarang tinggal bagaimana mengolah dan mengemas sebuah keunikan atau kegiatan sehingga mampu mendatangkan banyak wisatawan. (ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA