Minggu, 29 Juli 2012

MENGUNGKIT DESA SENI “KUNO” (Edisi VII/2012)

Desa itu tampak sepi, seperti tak “hidup”. Jangan salah. Tak seperti yang dibayangkan dari susana sepi itu. Masyarakat di desa ini terlalu disibukkan dengan aktivitas produksinya sebagai seniman dan perajin di tiap rumahnya. Mereka adalah masyarakat Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, Bali.

 Cukup hanya satu jam dari Kota Denpasar jika Anda ingin berkunjung ke desa seni di wilayah Kabupaten Gianyar ini. Tentu bukan isapan jempol. Pada akhir November tahun lalu Bank Nasional Indonesia (BNI) memberikan merek pada desa ini. Bertajuk “Kampoeng BNI Seni Desa Kamasan”. Begitu lebel itu terpampang di sebuah gapura pintu masuk Desa Kamasan ini.

Menurut warga yang ditemui Galang Kangin pada 22 Juni 2012, siang hari itu, akhir November 2011 lalu, ada menteri yang meresmikan desanya menjadi desa seni. Layak memang, karena banyak terdapat galeri dan bengkel kerajinan di tiap rumah. “Desa ini memang pernah dikenal sebagai desa seni pada zaman dulu, karena karya lukisan kuno yang dibuat masyarakat desa yang turun-temurun dari leluhurnya,” ujar I Ketut Widastra (62), seorang pelukis di desa itu.

Widastra ditemui di rumah produksinya di wilayah Banjar Sangging siang itu. Ia bercerita utuh tentang kebudayaan warga Desa Kamasan yang memiliki ciri khas lukisan kuno dengan berbagai macam bahan alami untuk pewarnanya. Desa itu lumayan kondang, ujar Widastra, karena sempat didatangi oleh pelukis maestro terkenal yang melegenda, Water Space pada tahun 1908. Hingga kemudian, kata Widastra, lukisan masyarakat Desa Kamasan pernah bertengger di Netherland Museum, karena ciri antiknya yang selalu bercerita tentang pewayangan dan sejarah Hindu di Bali.

Widastra berkisah dari cerita ayahnya, pelukis maestro itu tak hanya singgah di Desa Kamasan. Pada zaman itu, sang maestro kondang ikut memikirkan pengembangan desa dengan terlibat ngayah untuk membangun akses jalan di desa. Tentu aksi kolaborasi membangun Desa Kamasan saat itu bertujuan untuk meningkatkan promosi seni budaya pada zamannya. Pelukis gaek sang maestro banyak berpesan kepada warga desa zaman itu. “Lukisan Kamasan jangan diubah ciri khasnya. Biarkan saja,” ucap Widastra berkisah dari tutur kata leluhurnya terdahulu.

Memang benar, jika Anda ingin mengetahui karakter lukisan di Desa Kamasan, keunikannya akan Anda dapati. Dibanding dengan karya lukis pada umumnya, kekunoaan-nya terletak pada cerita pewayangan yang selalu hadir di goresan kain belacu sebagai media penuangan ide. Ditambah, alat dan piranti melukis, tidak memakai kuas seperti pelukis kebanyakan. Warga Desa Kamasan masih memakai bambu untuk goresan dan penuangan idenya. Bahkan pewarna yang masih menggunakan bahan alami seperti batu di laut, daun, anchoor, ataupun bekas asap hitam lampu minyak yang diolah menjadi pewarna hitam. Layak, jika Desa Kamasan menjadi legenda desa kreatif karena aktivitas warganya yang selalu berkarya.

Di galery milik Widastra, ternyata tak hanya lukisan yang terpampang. Karya unik dan antik masyarakat Desa Kamasan juga diabadikan di rumahnya. Seperti uang kepeng, handicraft dengan corak lukisan wayang, kipas bergambar kisah Mahabharata dan karya kerajinan lainnya.

Made Nariswara, seorang top manager Bank BNI Kanwil Bali, juga berkisah tentang Desa Kamasan. Menurutnya, pihak perusahaannya saat ini memang aktif melakukan pendampingan usaha kreatif dan penguatan ekonomi dengan paket kredit yang diberikan. Kegelisahan Nariswara memang cukup mewarnai desa ini sejak November lalu. Para perajin kesenian seperti perak, lukisan, uang kepeng dan pernik lainnya, menjadi consern BNI. “Program yang kami lakukan di desa itu kami sinergikan dengan program kementerian perdagangan dan perindustrian tentang one village one product. Dalam urusan Desa Kamasan, kami melihat masterplan kementerian masih nyambung dengan program kemitraan kami dengan Desa Kamasan dan sesuai tentunya,” kata Nariswara.

Setidaknya, kata Nariswara, apa yang dilakukannya adalah bagian penting untuk menemukan kembali  pasar yang sudah terbangun dari relasi bisnis seniman di Desa Kamasan. Menurutnya, saat ini, dengan banyaknya karya seni di Bali, orang banyak melupakan karya “kuno” Desa Kamasan. Yang pada zamannya banyak sekali pelancong bahkan orang Bali sendiri yang menikmati karya seni warga Desa Kamasan.

Ketut Winarni (53), seorang ibu yang tinggal di Banjar Sangging Desa Kamasan, mengisahkan dirinya yang sejak kecil sudah berkutat pada gambar dan lukisan. Bersama suaminya, saat ini ia masih aktif melukis gaya lukisan Kamasan dengan cerita pewayangan itu. Saat ini usaha lukisannya aktif bertengger di Pasar Sukawati Kabupaten Gianyar. Dia bersama suaminya dalam sebulan bisa menghasilkan gambar lukisan khas Kamasan dengan dua motif yang masing-masing ukurannya 2 meter. Satu lukisan ia patok Rp 800 ribu untuk dijual ke pasar. Tetapi akan berbeda kalau turis yang berkunjung ke rumahnya. Ia akan melebel harga lukisannya dengan nilai Rp 1 juta hingga Rp 1,2 juta kalau ada bule, katanya. “Syukurlah, saya sudah bisa menyekolahkan dua anak saya hingga bisa wisuda,” ucap Winarni.

Kisah yang sama juga dituturkan oleh Made Mudarna. Ia seorang perajin perak dan alat persembahyangan seperti bokor, carat dan karya kesenian logam lainnya. Sejak tahun 80-an ia belajar dari orangtuanya. Sempat ia bekerja di sebuah bank lokal selama 15 tahun, tetapi tetap saja ia tidak bisa meninggalkan aktivitas leluhurnya untuk memoles benda logam menjadi karya seni yang layak jual.

Mudarna pun memilih keluar dari pekerjaan sebagai karyawan bank karena panggilan hidup dari leluhurnya yang turun-temurun mencipta karya seni logam. “Sejak ayah saya meninggal, saya gelisah melihat alat tempa logam dan lempeng kuningan yang berserakan. Saya terpanggil untuk meneruskan profesi ayah saya,” kenang Mudarna.

Karya yang dihasilkan Mudarna saat ini banyak terdapat di pasaran Denpasar dan di Kabupaten Gianyar. Ia memilih menitipkan hasil cipta logamnya kepada ayah mertuanya yang memang sering berjualan di stand pameran maupun di pasaran Denpasar. Mudarna seakan terpanggil secara naluri untuk menghidupkan merek desa seni yang pernah disandang pada masa kejayaan puluhan tahun lalu. (erna)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA