Sabtu, 28 Juli 2012

NIKMATNYA LEDOK ALA NUSA PENIDA (Edisi VII/2012)

Nusa Penida sangat dikenal dengan wisata alamnya yang menawarkan bentang alam memikat. Umat Hindu juga dapat melakukan perjalanan spiritual ke sejumlah Pura di pulau tersebut. Namun ada satu hal yang sebenarnya menarik dilakukan di Nusa Penida, yakni wisata kuliner. Ledok, menjadi menu khas yang wajib dinikmati.

Sepintas, penampilannya mirip seperti bubur dan sayuran yang disiram bumbu pecel. Tapi kalau dirasakan, taste-nya sama sekali berbeda dengan masakan jawa tersebut.
Ledok adalah sejenis bubur.  Namun bahan bakunya sama sekali tidak menggunakan beras. Ledok dibuat dengan  menggunakan bahan baku utama jagung dan umbi ketela pohon, ditambah dengan bahan-bahan lain yang tersedia secara lokal seperti kacang panjang, kacang merah dan kemangi. Kadang-kadang dicampur dengan ikan laut segar.

Makanan ini diberi nama ledok karena selama proses pembuatannya terutama pada tahap perebusan selalu dilakukan pengadukan (dalam bahasa daerah Bali disebut ngeledokin).
Ledok disiram dengan bumbu-bumbu yang terbuat dari cabai merah besar, cabai merah kecil. terasi, dan garam.  Bumbu ini ditumbuk menjadi satu, kemudian dicampur dengan bahan lainya. Saat pemasakan terus diaduk seperti bikin bubur. Setelah berwarna agak kecoklatan, itu artinya ledok sudah matang dan siap disajikan. Ledok bisa juga ditaburi abon ikan di atasnya.

Semua bahan baku yang digunakan dalam ledok, dihasilkan alam Nusa Penida. Itu sebabnya, masakan ini tidak menggunakan bahan baku beras sama sekali, berbeda dengan masakan pada umumnya.
“Ledok ini sudah jadi menu keseharian di sini. Masyarakat biasa makan ledok setiap harinya,” ujar Nyoman Astini, salah satu warga Nusa Penida.

Tak kurang Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan istrinya Ny. Ayu Pastika sempat menikmati ledok dalam beberapa kali kunjungannya ke Nusa Penida. “Makanan ini enak sekali, benar-benar khas Nusa Penida, “ ujar Ayu Pastika.

Nusa Penida memang dikenal memiliki struktur tanah sangat kering, sehingga tidak memungkinkan bagi masyarakatnya menanam padi untuk menghasilkan beras. Dengan demikian masyarakat terpaksa memanfaatkan sumber pangan lain selain beras yaitu jagung dan ketela pohon sebagai bahan pangan pokok.
Sayangnya, tidak banyak warung yang menjual menu ledok di Nusa Penida. Menu ini hanya bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di sana. Biasanya hanya buka di pagi hari. Harganya pun tidak terlalu mahal, hanya sekitar Rp 5.000 per porsi.

Pemerintah Kabupaten Klungkung sendiri terus berupaya memperkenalkan makanan warisan budaya Nusa Penida itu. Pada April lalu, pemerintah bersama 1.893 orang siswa setempat melakukan aksi makan ledok bersama dalam rangka memperingati hari Puputan Klungkung ke-104 dan Hut Kota Semarapura ke- 20. Aksi makan ledok bersama itu pun berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). (viani)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA