Sabtu, 28 Juli 2012

PAMERAN UMKM ATAU JUALAN KEBAYA? (Edisi VII/2012)

Pesta kesenian Bali yang secara rutin digelar setiap liburan sekolah, diharapkan bisa menjadi alternatif liburan bagi masyarakat di samping untuk melestarikan kesenian yang memang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali. Tak hanya kesenian, kerajinan juga diberikan ruang dalam acara yang telah menjadi agenda tahunan ini.

Berbagai atraksi kesenian disajikan oleh dan untuk masyarakat, mulai kesenian yang masih umum dijumpai hingga kesenian langka yang hampir punah, kesenian klasik hingga seni kontemprere dan kreasi baru. Bahkan sejak beberapa tahun belakangan, PKB bukan arena bagi seniman Bali, tetapi juga beberapa daerah yang turut serta menampilkan kesenian khas daerahnya masing-masing, meski jumlahnya tak banyak.
Tak hanya menyaksikan berbagai atraksi kesenian dalam tiap pelaksanaan Pesta Kesenian Bali, masyarakat juga disuguhkan dengan berbagai produk kerajinan khas Bali. Tak hanya untuk dilihat, berbagai produk kerajinan yang sebagian merupakan produk khas aerah tertentu  ini, juga bisa langsung dibeli. Pengunjung juga bisa memperoleh beberapa kuliner khas yang mungkin saat ini mulai sulit ditemui.

Made Supartha (41), salah satu pengunjung pesta Kesenian Bali menceritakan bahwa ia bersama keluarganya memang sengaja datang ke acara PKB untuk melihat pertunjukan seni sekaligus mengisi waktu luang di akhir pekan. Hanya saja saat ia tiba, pertunjukan belum dimulai dan masih harus menunggu sekitar satu jam. Karena masih ada waktu, iapun menyempatkan diri untuk melihat stand pameran yang ada di dekat gedung Ksirarnawa.
“Sebenarnya saya ke sini untuk nonton, tetapi ternyata belum mulai. Dari pada bengong, sekalian saja saya jalan-jalan lihat pameran. Siapa tahu ada yang menarik, meski sbenarnya saya ke sini untuk nonton, bukan buat belanja,” ujarnya.

Pria asal Bangli yang telah tinggal di Denpasar ini berpendapat, tak ada yang terlalu berbeda dalam perhelatan PKB tahun ini. Baik dari sisi pertunjukan seni maupun peserta pameran, kesannya itu-itu saja. Karena tak ada alternatif lain, ia pun tetap datang ke acara PKB untuk mengisi waktu luang bersama keluarga. “Biar ga cuma nonton TV di rumah, acaranya juga itu-itu saja, lebih baik lihat kesenian ke sini,” ujarnya.
Jika Supartha memilih untuk melihat stand pameran sambil menunggu waktu pertunjukan, lain lagi Wayan Astini (51), perempuan yang datang beserta anak dan cucunya ini lebih memilih duduk-duduk sambil mengobrol. Menurutnya pameran tak lagi menarik karena dari tahun ke tahun produknya selalu itu-itu saja. Hampir tak ada sesuatu yang baru dan menarik untuk dilihat.

“Mending duduk saja di sini sambil ngobrol. Kalau malam apalagi malam minggu yang nonton ramai, bisa tidak kebagian tempat duduk. Kalau lihat pameran saya sudah bosan dari dulu itu-itu saja. Paling isinya orang jualan kebaya. Sudah isinya sama modelnya juga sama, tidak ada yang baru dan unik. Kalau mau beli bisa datang ke tokonya atau di pasar, ga perlu jauh-jauh ke sini,” ungkapnya.

Tak hanya produk yang tak terlalu menarik, Astini juga menilai harga yang ditawarkan tak jauh berbeda dengan yang ada di pasaran. Bahkan mungkin akibat sewa stand yang mahal mereka yang ikut dalam pameran harus menjual produknya dengan harga yang lebih mahal. Memang jika dilihat sekilas, harga yang terpajang pada produk terutama tekstil memang cukup mahal, meski tetap bisa ditawar, tentu ini bisa mengurangi ketertarikan pengunjung untuk berbelanja.

Monotonnya produk yang dipamerkan juga dikeluhkan Dewa Made Puja (37). Menurutnya pameran PKB tak ubahnya seperti pameran dagang kebaya dan kamen (kain). Memang ada produk kerajinan lain, tetapi jumlahnya tak terlalu banyak. Ia mengakui selain untuk melihat pertunjukan, ia datang memang untuk mengantar istri dan putrinya mencari pakaian untuk persiapan hari raya. Pun demikian dengan stand kulinernya tak ada yang terlalu baru untuk dinikmati.

“Kebanyakan stand isinya hanya jual kebaya dan kamen. Kalaupun ada yang lain paling cuma jual perhiasan. Tapi kalau saya lihat isinya masih sama dengan tahun sebelumnya. Malah sepertinya yang ikut jutru berkurang. Kalau tidak salah dulu di sana (bawah stage Ardha Candra) itu  penuh  sampai ke ujung tapi sekarang tidak. Tadi juga waktu belanja harganya masih mahal sekali, istri saya masih harus nawar. Jadi sama kayak belanja di pasar, harus pintar-pintar nawar,” ujarnya.

Beda lagi dengan Paramitha (22). Perempuan ini memang datang ke arena PKB untuk melihat-lihat pameran bersama beberapa orang rekannya. Ia datang untuk melihat kebaya dan perhiasan model terbaru. Tak hanya melihat, ia juga mencari perbandingan harga sehingga saat membeli ia tak sampai salah menawar.
“Di sini harganya ternyata masih mahal, saya lihat-lihat dulu nanti coba cari di luar. Kalau di luar ternyata lebih mahal, baru saya balik dan beli di sini. Tapi jarang saya belanja di sini, harganya tidak jauh beda. Cuma karena yang jualan banyak, jadi pilihannya lebih beragam,” jelasnya.

Apa yang dikeluhkan para pengunjung ini memang ada benarnya. Jika dilihat peserta pameran memang didominasi produk-produk pakaian seperti kebaya dan kain. Peserta yang membawa produk lain jumlahnya bisa dihitung dengan jari, sehingga kesan dari pameran UMKM ini bisa berubah menjadi pameran kebaya. Mungkin bisa menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara, sehingga ke depannya bisa ditampilkan produk yang lebih beragam.(ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA