Rabu, 29 Agustus 2012

Bali Glori Pia PIA ENAK TREND OLEH-OLEH (Edisi VIII/2012)

Bali dengan segala keunikannya ternyata tak hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan. Keberadaan Bali sebagai daerah pariwisata, di sisi lain ternyata mampu memberi peluang bagi mereka yang memiliki jiwa wirausaha untuk meraih kesuksesan. Disadari, wisatawan tak hanya membutuhkan akomodasi dan transportasi. Mereka juga memerlukan oleh-oleh khas untuk dibawa pulang. Jika dulunya oleh-oleh didominasi oleh produk kerajinan dan tekstil, trend saat ini beralih pada produk kuliner.

Pia menjadi salah satu jajanan yang tengah menjadi trend oleh-oleh khas Bali saat ini. Dari sekian banyak merk pia yang beredar di pasaran, Bali Glori Pia bisa menjadi salah satu pilihan buat buah tangan yang berbeda. Jika biasanya pada produk pia sejenis Anda hanya akan menemukan isian kacang hijau atau kacang merah, isian serupa tak akan Anda dapatkan dalam produk Bali Glori.

“Dari sisi rasa, kami memang menyajikan  yang berbeda, kami menyediakan isian dengan rasa pandan, keju, vanilla, mocca, coklat dan black forest. Untuk black forest kami buat tanpa alkohol. Produk kami tanpa pengawet dan tetap bisa bertahan sampai 30 hari. Ini karena kami bermain pada pengolahan adonan, sehingga bisa bertahan lebih lama,” terang Dika, owner Bali Glori Pia.

Jika selama ini Anda kerap mengeluhkan banyaknya remah saat makan pia, hal ini tak akan ditemukan pada produk Bali Glori. Dari sisi harga Anda tak perlu khawatir. Satu box pia ukuran biasa dijual Rp 50 ribu, sementara untuk pia mini per boxnya ditawarkan pada kisaran Rp 25 ribu. Harga khusus juga bisa didapatkan jika mengunjungi stand Bali Glori saat Pameran.

Pengusaha Kepepet

I Putu Dika Duloma Yadnya, SST. Par, menjadi salah satu entrepreneur muda yang berhasil memanfaatkan kondisi ini. Meski awalnya ia tak pernah menyangka akan bergerak dalam usaha kuliner, nyatanya produknya yang diberi nama Bali Glori Pia mendapat tempat tersendiri di pasaran. Walau sampai saat ini usahanya masih berskala rumah tangga, pesanan selalu ada dan pemasarannya semakin luas.

Pria yang akrab disapa Dika ini menuturkan, awalnya tak sedikitpun terlintas dalam pikirannya akan menjadi seorang pengusaha, apalagi pengusaha pia. Meski almarhum ibunya mahir membuat pia dan ayahnya kerap mendorongnya untuk memiliki usaha sendiri, sedikitpun ia tak pernah merasa tertarik. Terlebih sejak tahun 1998 ia telah bekerja di hotel dan sempat menduduki posisi sebagai restaurant manager di salah satu hotel berbintang.

Hanya saja setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja, ia mulai merasakan kerinduan untuk merayakan tahun baru bersama keluarga. Akhirnya pada 2010 ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun. Rencananya tahun 2011 ia akan kembali bekerja di hotel. Hanya saja apa yang terjadi tak semulus yang ia rencanakan. Pengalaman bertahun-tahun ditambah pernah memegang jabatan penting di salah satu hotel ternama, ternyata tak bisa menjadi jaminan. Dari 15 hotel tak ada satupun yang tertarik dan memanggil untuk interview.

“Boleh dibilang saya ini pengusaha kepepet, saya menjadi pengusaha dan bergerak dalam produksi pia karena tak ada lagi pilihan lain. Saya yang pernah menjabat restaurant manager ternyata tak bisa mendapatkan pekerjaan. Bahkan saya sampai rela turun jadi supervisor pun, tetap tak ada panggilan. Ibarat jualan sudah diskon habis-habisan tetap tak ada yang berminat,” kenangnya.

Tanggung jawab sebagai kepala keluarga akhirnya memaksanya untuk mencari akal mendapatkan penghasilan. Usaha pia kemudian menjadi pilihannya. 23 Maret 2011 menjadi kali pertama ia “menceburkan” diri dalam proses pembuatan pia. Ia yang tadinya hanya menyuruh orang untuk memasak terpaksa memasak dan bergelut dengan adonan pia.

“Pertama kali membuat pia, dari bentuknya tak langsung berhasil. Jadi sebagaimana harusnya bentuk pia. Tapi kalau dipakai melempar anjing kemungkinan anjingya yang mati. Hasil pertama saya bagikan ke saudara, tetapi mungkin rasanya tidak jelas. Dari sini saya mulai belajar, mencatat dan memperbaiki kesalahan saya hingga akhirnya jadilah produk seperti saat ini,” kisahnya.

Ia menuturkan, memang ia berniat belajar membuat pia pada sang ibu pada 1 Desember 2010, hanya saja pada tanggal yang sama ibunya menghembuskan nafas terakhir. Usahanya ternyata tak sia-sia, Mei 2011 pia yang ia buat telah mendekati sempurna. Ia pun mulai mendapat bimbingan dari pemerintah Kota Denpasar dan disarankan untuk mengurus perizinan termasuk dari dinas kesehatan hingga akhirnya produk pia yang ia miliki bisa berkembang seperti sekarang.

Tak hanya mendapat bimbingan, pemerintah Kota Denpasar juga memberinya kesempatan untuk belajar di sekolah Pengusaha Muda. Menurutnya inilah salah satu kesempatan yang membuat pola pikirnya berubah dan bisa bertahan sampai saat ini.

Ujian Mental

Dika mengakui menjadi seorang pengusaha baru yang merintis usahanya dari nol, buknalah perkara mudah. Berbagai kendala harus dihadapi, dan tantangan yang paling berat ternyata datang dari dalam dirinya sendiri. Ia harus menundukkan ego dan menghilangkan rasa gengsi. Kesuksesan menjadi satu-satunya kata yang ada dalam benaknya.

Mengikuti kursus memasak menjadi salah satu ujian terberatnya. Saat itu selain dirinya tak ada lagi peserta laki-laki. Tak hanya sampai di sini. Saat pertama kali pameran pada November 2011, ia juga masih merasa canggung. Jika dulunya ia datang ke pameran sekadar  jalan-jalan dan melihat-lihat, kali ini ialah harus menjadi pelaku dan juga objek pameran.

“Seringkali saya merasa minder kalau ada yang mencemooh atau bertemu mantan staff. Tapi ini yang harus dihilangkan kalau ingin sukses. Pernah saya hampir down, tetapi semangat dari keluarga membuat saya bangkit. Sebagus-bagusnya menjadi pegawai, masih lebih bagus lagi menjadi pemilik usahanya sendiri,” ujar suami Made Dewi Wijayanthi, SE ini.   (ayu)
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA