Berkumpul dan berserikat adalah hak dasar manusia yang dilindungi undang-undang. Dengan berserikat, maka maksud tujuan akan mudah tercapai. Itu pula yang membawa Ray Misno hingga menduduki jabatan sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Denpasar hingga dua kali periode.
Berorganisasi memberi banyak pengalaman. Latar belakang cukup menentukan dalam berorganisasi. “Harus punya wawasan yang luas juga,” kata Ray Misno dalam suatu perbincangan dengan Galang Kangin beberapa waktu lalu. Wawasan, kata dia bisa diperoleh dengan cara yang sederhana. Salah satunya dengan modal dasar membaca dan membaca. “Kerja di KPU itu seperti kerja di organisasi maupun di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Jadi masih nyambung,” ujarnya.
Karena itulah lulusan ITN Malang angkatan 1990 ini mengaku sangat menikmati pekerjaan yang saat ini digelutinya. “Karena hobi organisasi sih, makanya menikmati pekerjaan ini,” jelasnya. Ray Misno, sebelum terjun di KPU memang sudah cukup kenyang di banyak organisasi lain.
Beberapa organisasi itu ia geluti setelah menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah. Ia didaulat menjadi Ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Hindu Dharma (KPMHD) Malang sejak tahun 2004 hingga 2006. Ia juga sebagai Kepala Biro Pendidikan dan Kaderisasi KMHDI tahun 2004 hingga tahun 2007.
Selepas itu berbagai organisasi kepemudaan juga mulai ia geluti seperti KNPI. Di organisasi kepemudaan ini ia menjabat sebagai ketua (2005 – 2008). Ia juga aktif di LSM Bali Setaman, berserta sejumlah aktifis Bali lainnya. Kesibukannya di organisasi ini makin tinggi dengan posisinya sebagai ketua KPU Kota Denpasar hingga dua periode dari tahun 2003 hingga tahun 2013 nanti.
Terkait aktivitasnya di KPU, dalam waktu dekat pihaknya sudah mulai disibukkan dengan aktivitas politik mulai pilkada gubernur, kemudian pemilihan presiden hingga pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan walikota. Mana dari berbagai aktivitas politik itu yang paling banyak menguras tenaga, pikiran dan wakt? Menurut Misno, pileg adalah hajatan yang paling menguras keringat. “Pertama karena pileg ini melibatkan banyak kandidat, kedua pileg ini juga melibatkan partai politik sehingga melibatkan banyak orang juga,” jelasnya.
Namun demikian bukan berarti agenda pemilukada lainnya tidak menyibukkan pria kelahiran Denpasar 15 November 1970 ini. Pemilukada walikota misalnya, menurutnya juga cukup memerlukan waktu. “Karena pemilihan walikota ini langsung melibatkan akar rumput, artinya langsung melibatkan pemilih paling bawah,” ungkap pria yang selalu berpenampilan plontos yang menempuh jenjang S2 pada kajian budaya di Unud ini.
Tentang pemetaan pemilih di Denpasar, menurutnya terkadang masih terpengaruh oleh sistem monarki. Para pemilih lebih banyak terpaku pada sosok tokoh dari Puri misalnya. “Kesadaran masyarakat dalam berdemokrasi saat ini masih belum cukup dewasa dalam menentukan pilihan. Pilihan yang diambil oleh masyarakat masih dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satunya, sistem monarki masih kuat di Denpasar saat ini,” terangnya.
Dalam menentukan pilihan, masyarakat secara umum masih melihat ketokohan sosok, bukan karena visi misinya. “Tokoh-tokoh dari puri ini masih sangat berpengaruh,” kata dia.
Ia berharap kesadaran masyarakat khususnya para pemilih lambat laun mulai meningkat seiring dengan makin seringnya diselenggarakan pemilihan seperti pileg, pilkada, pilpres maupun pilwali. Belum lagi pemilihan kepala desa. “Kalau dulu kan hanya 5 tahun sekali, makanya sampai disebut pesta demokrasi, kalau sekarang sangat rutin,” jelasnya. Rutinnya penyelenggaraan pesta demokrasi inilah, diharapkan membawa kesadaran dalam berdemokrasi akan semakin dewasa. “Kalau masyarakat sudah dewasa, maka masyarakat akan rasional dalam memilih.”
Dia memperkirakan kesadaran masyarakat khususnya pemilih dalam berdemokrasi akan terwujud pada tahun 2020 nanti. “Ya ukurannya nanti kan bisa dilihat dari pemilu 2019,” jelasnya sembari berujar seiring seringnya pemilihan, masyarakat akan semakin dewasa dalam menentukan pilihan. (mhd)
Profil Ray Misno
BOX :
Nama : I Made Gede Ray Misno
Tempat/Tanggal Lahir : Denpasar, 15 Nopember 1970
Hobi : Berorganisasi
Pendidikan :
- Program S1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang (1990)
- Program S2 Kajian Budaya Unud (2008)
Organisasi :
- Ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Hindu Dharma Malang (2004-2006)
- Biro Pendidikan Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (2005-2008)
- Aktif di LSM Bali SETAMAN (sampai sekarang)
- Ketua KPU Denpasar dua periode (2003-2008, 2008-2013)