Kamis, 30 Agustus 2012

PARIWISATA VS PERTANIAN (Edisi VIII/2012)

Sektor pertanian merupakan penopang utama kehidupan ekonomi masyarakat Bali di masa lalu. Itulah yang menyebabkan pulau ini disebut sebagai pulau agraris dengan budaya subak-nya yang melekat.
Namun sejak tahun 1960-an, Bali mulai banyak dilirik wisatawan asing sebagai tempat berlibur.
Secara pelan tapi pasti, kemudian masyarakat Bali pun mulai bergeser ke sektor pariwisata. Pembangunan hotel-hotel baru semakin tidak terkendali, vila liar pun banyak yang lolos dari pengawasan pemerintah. Sekolah-sekolah pariwisata bermunculan bak jamur di musim hujan, menambah pasokan tenaga kerja ke sektor pariwisata.

Di sisi lain, pertanian Bali semakin ditinggalkan generasi kini. Banyak lahan pertanian yang dijual karena tidak memiliki generasi penerus, berganti dengan hotel, vila, maupun restoran. Setiap tahunnya, tercatat 340 hektar lahan pertanian beralih fungsi menjadi bangunan fisik seperti hotel, restoran maupun perumahan. Sektor pertanian pun ditinggalkan.

Pariwisata Bali saat ini ditopang oleh 3 sektor utama, yakni pariwisata, pertanian, dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Namun kontribusi pariwisata sangat mendominasi, hingga 60 persen. Sedangkan kontribusi pertanian dan sektor UMKM masing-masing hanya 20%.

“Pondasi ekonomi Bali tidak bagus, karena pariwisata yang menyumbang 60 persen. Ini kan rawan. Kalau terjadi goncangan sedikit, krisis ekonomi, atau keamanan, ekonomi Bali akan drop,” Asisten II Sekprov Bali bidang ekonomi dan pembangunan I Ketut Wija menjelaskan.

Sektor pariwisata, menurut Wija, akan dengan sangat mudah terpengaruh berbagai isu.
Contoh sederhana memang jelas terlihat saat teroris menyerang Bali lewat ledakan bom pada 2002 dan 2005 lalu. Peristiwa yang menelan korban ratusan jiwa, termasuk warga negara asing itu, sempat membuat ekonomi Bali terpuruk.

Beruntung pariwisata Bali dapat kembali normal setelah beberapa tahun dampak bom dirasakan menyiksa. Peningkatan kunjungan wisatawan asing ke Bali, menjadi stimulus yang manjur bagi masyarakat Bali untuk terus mengembangkan sektor pariwisata.

Pada 2011 misalnya, jumlah wisatawan asing ke Bali sudah mencapai 2,7 juta orang setahun. Target peningkatan jumlah wisatawan pun terus dipasang pemerintah, hingga pada 2015 ditargetkan ada 5 juta wisatawan asing ke pulau ini.

Pertumbuhan pariwisata yang terus meningkat, di sisi lain, terus menekan sektor pertanian Bali. Alih fungsi lahan semakin tak terkendali. Serbuan vila dan hotel ke kawasan persawahan, secara langsung menaikkan nilai jual tanah di kawasan itu. Akibatnya, harga dasar penetapan pajak bumi dan bangunan di lahan pertanian terus meningkat hingga petani tidak mampu membayarnya. Maka, menjual lahan menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka.

“Sebenarnya yang menyebabkan banyaknya alih fungsi lahan justru kebijakan pemerintah sendiri,” keluh pakar subak dari Universitas Udayana, I Wayan Windia.

Ia mengingatkan bahwa bila kondisi ini dibiarkan, kematian pertanian Bali juga akan menjadi awal kematian pariwisata Bali. “Bagaimana tidak, pertanian Bali adalah penopang kebudayaan Bali yang notabene menjadi daya tarik utama pariwisata Bali. Kalau pertanian habis, artinya kebudayaan Bali juga habis. Lalu apa yang akan dicari wisatawan ke Bali?” ia mengingatkan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Udayana I Gusti Wayan Murjana Yasa juga menyesalkan kondisi serupa. “Seharusnya pertanian dan pariwisata bisa berjalan sinergis. Saat ini yang terjadi adalah pariwisata telah membunuh sektor pertanian. Ini jelas sangat berbahaya bagi ekonomi Bali ke depan,” ungkapnya.

Menurut Murjana, sektor pariwisata dan pertanian harus membangun link yang jelas, sehingga keduanya bisa saling mendukung dan berjalan bersama. Link yang dimaksud terkait dengan sistem pemasaran produk pertanian melalui hotel-hotel.

“Hotel-hotel dan sektor pariwisata lainnya harus menyerap produk-produk pertanian dari para petani Bali, sehingga ada hubungan saling menguntungan. Sekarang ini kan tidak. Yang terjadi adalah pariwisata memanfaatkan pertanian sebagai objek saja, sementara para petani hanya bisa menjadi penonton,” ungkapnya. (viani)

Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA