Buah maupun sayur organik kini mulai menjadi tren konsumsi kalangan menengah atas. Maklum, hasil produk organik ini mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dan lebih aman konsumsi, dan tentunya bebas dari bahan kimia jika dibanding produk hasil tanaman non-organik. Sayangnya, belum banyak petani yang mau menggunakan dan menghasilkan pupuk organik untuk produk tanaman mereka.
Pakar Pertanian Unud Prof. Suparta mengatakan, sejatinya masyarakat khususnya petani sendiri mudah untuk membikin produk organik seperti pupuk. “Petani bisa mengumpulkan kotoran atau kencing ternak seperti ternak sapi,” katanya. Syaratnya sapi ini juga mengkonsumsi bahan-bahan organik seperti rumput-rumputan dedaunan maupun pepohonan. “Setelah itu kotoran ini dikumpulkan kemudian difragmentasi,” terangnya.
Setelah difragmentasi, petani harus menunggu satu bulan lamanya. Jadilah bahan organik yang bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman yang diinginkan. Bukan hanya itu saja. Produk seperti pupuk organik ini juga bisa bernilai ekonomis tinggi. “Sebetulnya kalau mau mengemas bisa bernilai tinggi. Tinggal kemas yang baik, kemudian jual,” solusinya.
Terkait dengan petani Bali, meski belum banyak yang menggeluti bidang ini, namun kata pria yang juga ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali, sudah ada beberapa petani yang menggeluti penanaman sistem organik ini.
Memulai penanaman sistem organik bukannya tanpa halangan. Diperlukan pupuk organik lebih banyak, jika dibandingkan dengan pupuk kimia untuk luasan yang sama. Ini artinya lebih boros. “Kalau pupuk urea satu kilogram bisa digunakan untuk banyak tanaman, beda dengan pupuk organik, volume (jumlah) yang digunakan harus lebih banyak dibanding pupuk urea,” jelasnya.
Karena hal itulah banyak petani yang masih belum beralih dan tetap menggunakan pupuk urea dibanding pupuk organik. Karena volume yang lebih besar ini pula ikut menambah ongkos petani seperti ongkos angkut yang lebih besar.
Di tengah tren go green, sejatinya produk yang dihasilkan oleh pupuk organik kini sudah mulai diburu oleh kalangan menengah atas seperti hasil sayur maupun buah-buahan. Pasar yang menerima produk ini juga masih terbuka lebar seperti luar negeri, hotel maupun restauran.
“Mereka yang mengkonsumsi buah maupun sayur hasil dari pupuk organik ini adalah mereka yang paham akan tingginya nilai gizi,” ungkapnya. Selain itu produk dari buah maupun sayur pupuk organik ini juga sudah mempunyai pasar tersendiri terlebih di Bali. “Mungkin restoran sudah mulai menyajikan hasil dari produk ini, apalagi banyak ekspatriat di sini,” paparnya.
Sementara itu berdasarkan salah satu publikasi dari Association of Primary Care Groups and Trusts di Inggris, disebutkan bahwa membiasakan diri mengkonsumsi makanan organik menghasilkan beberapa manfaat besar, seperti:
(1)-mengurangi asupan bahan kimia beracun ke dalam tubuh,
(2)-Menyetop kemungkinan masuknya sel-sel produk pertanian hasil rekayasa genetika yang sampai kini belum diketahui bahaya dan akibatnya terhadap kesehatan,
(3)Meningkatnya asupan nutrisi bermanfaat, di antaranya vitamin, mineral, asam lemak esensial dan antioksidan,
(4) Menurunkan risiko kanker, penyakit jantung koroner, alergi dan hiperaktivitas pada anak.
(mhd)