Selasa, 25 September 2012

Gede Pasek Suardika S.H.,M.H. DULU MENGEJAR, SEKARANG DIKEJAR “ENAK DUA DUANYA” (Edisi IX/2012)



Siapa yang tak mengenal Gede Pasek Suardika S.H.,M.H ? Pria kelahiran Singajara, 21 Juli 1969 silam ini, kini begitu populer di ranah politik nasional. Wajah dan suaranya seringkali mengisi sesi interview dan diskusi terbatas di televisi nasional. Komentar-komentarnya semakin akrab di koran-koran nasional, media online, dan pemberitaan lainnya.
Ya, politisi Partai Demokrat ini begitu berani tampil mewakili partainya untuk membahas hal-hal yang sebenarnya sangat sensitif. Ia pun tampil “membela” Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, yang disinyalir terlibat dalam kasus korupsi pembangunan wisma atlet.
“Banyak orang yang bilang, kok mau sih membela Anas Urbaningrum. Saya cuma bilang, karena saya tahu dia tidak bersalah,” kata Pasek Suardika saat berbincang dengan Galang Kangin. 
Sebagai sosok yang kini banyak menjadi narasumber media massa, tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya Pasek Suardika dulunya seorang jurnalis. Karirnya bermula di dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan di Harian Surya yang terbit di Jawa Timur paska meraih gelar sarjana hukum di Universitas Brawijaya Malang. Karir jurnalisnya juga sempat berlanjut di Harian Nusa (sekarang Nusa Bali) di Bali, hingga akhirnya ia pun membangun sendiri media -- Tabloid Bali Aga --, yang masih terbit hingga kini. Kiprahnya di dunia jurnalistik bahkan membuatnya dipercaya menjadi Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pembelaan Wartawan PWI Bali.
Lulusan program magister hukum di Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar ini juga dikenal sebagai advokat muda yang karirnya cemerlang akibat sikapnya yang berani, kritis dan sering melawan arus. Selain sebagai advokat, ia juga dikenal sebagai konsultan pilkada di Bali.
Karir politik sudah dirajut Pasek sejak ia mencoba keberuntungannya dalam pencalonan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pada pemilihan umum  tahun 2004 lalu. Namun, upayanya meraih kursi DPD dari Bali ketika itu gagal. Ia hanya berhasil meraih 63.314 suara, atau di urutan ke sebelas dari para pesaingnya. “Waktu itu saya menyadari, ternyata keliling Bali sendirian itu tidak mudah. Berat juga,” kenangnya.
            Baru pada 2005, tepat saat Kongres I Partai Demokrat digelar di Sanur Bali, Pasek memilih bergabung dengan partainya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. Pasek meraih “keberuntungannya” dalam Pemilu 2009, saat ia mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI lewat partai berwarna khas biru itu.
Disebut keberuntungan, karena ia sebenarnya gagal meraih suara terbanyak, dikalahkan Jero Wacik, kader demokrat lainnya yang juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ketika itu. Pasek hanya menduduki posisi kedua setelah Wacik, padahal jatah kursi yang didapat Demokrat dari Bali hanya satu kursi. Beruntungnya, Jero Wacik memilih melepas kursi DPR RI-nya sebelum sempat diduduki karena memilih tetap setia menjadi pembantu Presiden SBY. Berkat itu pula, Pasek Suardika naik menjadi anggota DPR RI dengan status pengganti antar waktu (PAW) hingga kini.
“Saya mendapat keberuntungan dari keberuntungan orang lain. Buat saya, itu sah saja. Daripada saya mendapat keberuntungan dari musibah orang lain,” ujarnya.
Mengabdi sebagai anggota DPR RI, bagi Pasek, merupakan cita-cita dia semasa masih pelajar dulu. “Memang ini cita-cita dari dulu, berpolitik dan langsung di level nasional,” kata pria yang juga aktif menulis beberapa buku bidang hukum, politik dan budaya itu.
Setelah sempat menjadi anggota komisi X DPR RI yang membidangi pariwisata, budaya, pendidikan, dan olahraga, kini ia bahkan dipercaya menempati posisi ketua komisi III bidang hukum dan perundang-undangan, hak asasi manusia dan keamanan. Komisi III termasuk komisi dengan dinamika sangat tinggi, karena semua kasus terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian, dan berbagai kasus yang menjadi sorotan publik umumnya mengarah ke komisi III. “Sebuah kebanggaan karena sebagai minoritas, bisa dipercaya menduduki posisi ini. Jelas berat, tapi saya yakin pasti bisa,” ujarnya.
Guna membuka ruang dialog dengan masyarakat, Pasek pun telah membuka rumahnya di kawasan Renon untuk menjadi rumah aspirasi, tempat masyarakat menyampaikan aspirasinya. “Saya menerima aspirasi apapun dari masyarakat. Silakan datang,” kata dia.  
Ia menambahkan, sudah banyak masyarakat yang datang ke rumah aspirasinya untuk menyampaikan berbagai keluhan,mulai dari bidang politik, sengketa tanah, hingga permintaan bantuan pembangunan. “Beberapa aspirasi yang masuk kadang memang tidak sesuai dengan kewenangan saya. Tapi semua aspirasi itu tetap kita tampung dan kita tindaklanjuti kepada pihak yang memiliki kewenangan.  Kami tidak mau mengecewakan masyarakat yang sudah datang,” tambahnya.
Lalu, lebih enak mana menjadi jurnalis atau politisi? “Enak dua duanya. Bedanya kalau dulu waktu jadi jurnalis, saya mengejar narasumber untuk dapat berita yang bagus, sekarang saya yang dikejar-kejar untuk diwawancarai,” ujar Pasek.
 Sebagai mantan jurnalis, ia mengaku kini punya cukup modal untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan media dalam pemberitaan. Hal itu membuatnya lebih mudah menyebarkan informasi secara tepat ke masyarakat, baik terkait kegiatan partainya maupun terkait kinerja di DPR RI. “Karena tidak semua wakil rakyat bisa bertemu konstituennya satu per satu, termasuk saya. Waktu saya lebih sering di Jakarta ketimbang di Bali. Media massa jadi salah satu mainstream utama untuk menjelaskan ke publik soal apa saja yang telah saya kerjakan,” tegasnya.
Terkait Pemilihan Gubernur Bali 2013 mendatang, Pasek Suardika yang ditanya apakah dirinya berencana maju dalam pencalonan gubernur mengaku tidak terpikir. “Nggak cocok rasanya saya jadi gubernur,” ujarnya santai. (viani)

Tentang Pasek Suardika (DALAM BOX)
Pendidikan :
TK Lab Unud Singaraja, Jl. Udayana Singaraja Bali
SD Lab Unud Singaraja, Jl. Udayana Singaraja Bali
SMP Lab Unud Singaraja, Jl. Udayana Singaraja Bali
SMA Negeri I Singaraja, Jl. Pramuka Singaraja Bali
Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang Jatim
Magister Hukum Universitas Udayana Denpasar 

Riwayat Pekerjaan dan Alamat Pekerjaan :
Asisten pengacara di Made Yohanes Bantas & rekan di Malang Jatim
Wartawan di harian pagi Surya Surabaya Jatim
Redaktur Pelaksana di harian NUSA Denpasar Bali
Pemimpin Umum Tabloid Bali Aga Denpasar Bali
Direktur Berdikari Law Office Denpasar Bali
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat / A-528
Anggota MPR RI /A-528
Tim Panja Gabungan Komisi II, VIII dan X DPR RI tentang Penyelesaian Pengangkatan Tenaga Honorer
Tim Panja Sea Games dan ASEAN Para Games 2011 Komisi X DPR RI
Tim Panja Benda Cagar Budaya Komisi X DPR RI
Wakil Koordinator Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) DPR RI dengan Parlemen India
Tim Pengawas DPR RI mengenai Tindak Lanjut Rekomendasi Panitia Angket DPR RI tentang Masalah Hukum Kasus Bank Century
Anggota Panitia Khusus RUU tentang Perubahan atas UU No.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang - Undangan.
Anggota Panitia Kerja RUU tentang Perubahan atas UU No.22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum Komisi II DPR RI.
Anggota Panitia Kerja RUU tentang Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Komisi II DPR RI.
Wakil Ketua Panitia Khusus RUU tentang Perubahan atas UU No.10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD.

Buku – buku yang telah diterbitkan :
Seni Bali Menari
Memahami Bali
Bhisama Pasek dalam Konteks Kekinian
Kekonyolan RUU APP
108 Tips Niskala
Kiprah SBY: Mempesona karena Memang


Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA