Senin, 29 Oktober 2012

FESTIVAL SENI ALTERNATIF, MENGGUGAT PKB? (Edisi X/2012)

Polemik seputar even tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang seringkali disebut monoton, kurang kreatif, serta penyelenggaraannya yang tidak profesional, menjadi bahasan menarik para budayawan, seniman, dan mahasiswa dalam diskusi budaya yang digelar Nabeshima Creative Space, Denpasar, September lalu. Dalam diskusi budaya bulanan itu, terungkap bahwa Bali membutuhkan alternatif yang dapat melengkapi keberadaan PKB, tanpa mengubah konsep awal penyelanggaraan PKB. Seperti apa?
Penyelenggaraan PKB dari tahun ke tahun memang tak pernah sempurna, terutama dari sisi penyelenggaraannya yang kurang profesional.  Begitu I Wayan Dibia menilai. “Dalam perjalanannya, memang ada kondisi yang cukup konsisten dalam PKB ini, yaitu masih saja ada kurangnya. Padahal usia 34 tahun mestinya sudah dewasa, luput dari kekurangan-kekurangan. Ini seharusnya menjadi bahan evaluasi penting bagi penyelenggara,” kata guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu.

Dibia juga mengakui, PKB sejak awal tidak dirancang untuk wadah promosi pariwisata Bali. “Walaupun idealnya PKB bisa dijadikan promosi pariwisata, tapi dalam kenyataannya memang tidak diarahkan ke sana. Kalau ada keinginan untuk menjadikan PKB sebagai promosi pariwisata, seharusnya ada juga program-program in English, menggunakan MC berbahasa Inggris, dan lain-lain. Tapi festival ini memang tidak diarahkan ke sana,” bebernya.

Kurator PKB itu pun mengakui bahwa kualitas kesenian yang tampil di PKB belum sesuai yang diharapkan. Para seniman yang tampil di PKB, memang merupakan seniman-seniman yang biasa tampil di desa-desa. Tapi menurutnya harus diakui bahwa PKB dibuat sengaja untuk mendinamiskan kegairahan untuk memelihara kesenian hingga di pelosok Bali.

Yang lebih penting bagi Dibia adalah bagaimana penyelenggaraan PKB yang bisa menampilkan para seniman desa itu menjadi bisa tampil optimal di ajang PKB.

“Kenyataannya, sikap penonton PKB masih kayak nonton pertunjukan seni di desa-desa. Penonton melintas di panggung seenaknya, penonton ikut menari di belakang penari. Saat artis tampil, tiba-tiba ada pedagang lewat. Hal yang pada festival-festival di negara lain, tidak mungkin ada,” kritik Dibia.

Generasi Seni

Di samping banyaknya kekurangan PKB, harus disadari bahwa sumbangan dari PKB bagi pelestarian seni tradisi Bali, tidaklah sedikit. “Kalau tidak ada PKB, mungkin generasi muda kita sudah semakin jauh dari kesenian tradisinya,” ungkapnya.

Tiap tahun, ia mencontohkan, ada paling minimal 10 kelompok kesenian anak-anak yang tampil di PKB, dengan jumlah masing-masing sekitar 80 anggota. Artinya, ada minimal 800 anak yang menampilkan seni tradisi di ajang PKB. “Itu memberikan satu dampak positif untuk mendorong mereka lebih dekat dengan kesenian tradisi mereka,” kata Dibia.

“Yang menarik, arja sekarang diminati anak muda. Saat PKB ke-34 kemarin, ada 5 grup arja dengan penari-penari muda tampil.  Bayangkan kalau itu tidak ada PKB, mungkin seni tradisi kita sudah ditinggalkan sejak dulu,” tegasnya.

Membangun festival seni alternatif lain di luar PKB, menurut Dibia, akan jauh lebih bermanfaat ketimbang menggugat PKB untuk melakukan perubahan konsep. Melalui festival seni lain di luar PKB, dapat memberikan alternatif bagi seniman-seniman kontempoter yang akrab dengan inovasi. Sementara itu, PKB dipertahankan sebagai pesta rakyat  dengan dijaga agar tidak sampai merusak kesenian tradisional Bali.
”Saya pikir perlu juga dibuat festival seni lain yang sifatnya lebih serius. Ayo kita berbagi, festival apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mendampingi PKB ini,” ajak Dibia.
“Meski begitu, penyelenggaraan PKB jelas tetap perlu diperbaiki agar lebih transparan,” ia mengingatkan. (viani)


MENYOAL MANAJERIAL

MUSIKUS kontemporer Wayan Gede Yudana justru mempertanyakan pihak-pihak yang justru lebih banyak menggugat penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) dari sisi manajerial seperti masalah pedagang, parkir, maupun pecalang, ketimbang mengkritisi pertunjukan keseniannya.

“Berita di media yang keluar tentang PKB lebih banyak menyangkut parkir, pedagang, pecalang, dan lain-lain. Tetapi sedikit sekali yang mengangkat keseniannya. Ini agak aneh. Satu-satunya pesta kesenian yang dipertanyakan soal parkir, pecalang, dan lain-lain di dunia ya cuma PKB ini. Nggak ada selain di Bali,” kritiknya kepada media massa.

Yudana mengingatkan bahwa dalam sejarahnya, penyelenggaraan PKB pada dasarnya sebagai wahana pembinaan, pelestarian, dan pengembangan seni budaya Bali. “Sebagai ideologi awal, PKB ini sudah sukses sebenarnya. Sudah tercapai. Kini semakin banyak sekaa kesenian Bali. Orang yang mampu menari maupun melakukan pertunjukan kesenian lain jauh lebih banyak. Jenis-jenis kesenian semakin banyak,” kata Yudana.
Dalam perkembangannya, diakui, tuntutan-tuntutan baru kemudian muncul terutama terkait kreativitas. Menurutnya, yang terpenting saat ini hanyalah  pembinaan terhadap para panitia penyelenggara agar dapat bekerja lebih professional. “Bila perlu kirim para panitia itu studi banding ke Sidney Opera House, lihat cara mereka mengelola pertunjukan di sana,” tegas Yudana.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan Bali yang bertindak selaku Ketua Panitia PKB ke-34 lalu, Ketut Suastika, menjelaskan festival lain sebagai alternatif di luar PKB bisa saja digelar. “Kalau memang merasa dibutuhkan, bisa saja membuat festival lain selain PKB. Namun mungkin perlu waktu untuk perencanaannya, karena menyangkut prosedur penggunaan keuangan negara. Paling tidak, diperlukan persetujuan DPRD,” jelasnya.

Ia juga mengakui bahwa penyelenggaraan PKB memerlukan lebih banyak perbaikan. Pihaknya berjanji PKB tahun depan akan digarap secara lebih professional. “Kita sudah mulai melakukan perencanaan PKB tahun depan, setelah melakukan banyak evaluasi atas penyelenggaraan PKB tahun ini. Semoga kita bisa bekerja jauh lebih profesional,” ujar Suastika.

Suastika menambahkan, penyelenggaraan PKB tahun depan dipastikan bakal mendapat suntikan dana lebih dari Rp 5 triliun, lebih besar dari tahun ini yang hanya Rp 4,3 triliun.
“Dengan peningkatan anggaran, kita harapkan bisa lebih baik penyelenggaraannya. Kami juga terbuka dengan setiap masukan dari masyarakat,” ujarnya.(viani)

Tentang Pesta Kesenian Bali:

-          Digelar sejak 1979
-          Digagas Gubernur Bali Ida Bagus Mantra
-          Tujuan untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali
Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA