Minggu, 28 Oktober 2012

Tenun Patra KREASI BARU TENUN IKAT BALI (Edisi X/2012)

Tenun ikat tradisional Bali yang lebih akrab disebut endek, sudah cukup dikenal. Di tengah kecenderungan monotonnya motif endek yang ditawarkan, kini hadir “tenun patra”. Jenis ini memindahkan ornamen-ornamen khas pada bangunan arsitektur Bali atau biasa disebut patra ke kain endek.
Adalah I Gusti Made Arsawan, seorang desainer tekstil, mencoba menawarkan ragam endek baru tenun patra kepada publik. Launching produk tenun patra itu digelar September lalu di Rumah Makan Bale Timbang, sebuah rumah makan berkonsep kebun miliknya.

Melalui kreasinya, Arsawan mencoba mentransformasi ragam hias pepatraan yang lazim terdapat di dinding pura atau candi, pintu kayu dan panel kayu, kain prada, dan kekayaan patra lainnya ke dalam kain tenun. Motif atau pepatraan ini dirangkai dengan ikon-ikon yang merupakan simbolik untuk mendapat pemaknaan baru. Dari patra punggel, mesir, china, sari dan lainnya, berpadu dengan ikon-ikon yang dikenal di Bali memiliki makna tertentu seperti tupai, naga, menjadi tema motif tenun patra yang spesifik.
“Ini berawal dari kegelisahan saya melihat endek kok membosankan. Motifnya selalu geometris. Saya lalu tertarik dengan keunikan ornamen patra klasik. Saya pikir, kalau satu tenun diisi ornamen patra, pasti menarik,” ujar Arsawan.

Untuk membuatnya lebih dinamis, Arsawan memadukan ornamen pepatraan itu dengan beragam motif  flora dan fauna. Dari hasil padu padan tersebut, hingga saat ini Arsawan telah menciptakan sedikitnya 9 motif tenun patra. Kesembilan motif tersebut terdiri dari tenun patra jatayu (burung), tenun patra maksika (lebah), tenun patra wanara (kera), tenun patra kalandaka (tupai), tenun patra citrapataga (kupu-kupu), tenun patra sumanaka (bunga), tenun patra panaga (naga), tenun patra upadika (semut), tenun patra nagamaksikha (capung).

“Dengan mengangkat juga motif flora dan fauna, ada pesan moral di dalamnya agar kita bersama-sama jaga alam ini tetap seimbang dan harmoni,” kata Arsawan yang merupakan jebolan jurusan textile design Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kerumitan motif tenun patra yang tidak geometris seperti umumnya tenun ikat bali, membuat teknik pembuatannya pun tidak seperti pada umumnya. Dalam pola tradisional, motif dibuat melalui sistem ikat dan pencelupan. “Khusus untuk membuat motif tenun patra ini, kita menggunakan sistem mencolekkan zat pewarna pada benang. Seperti melukis. Jadi seniman yang membuat motifnya juga bisa berimprovisasi,” jelas dia.

Dalam tahap awal, tenun patra tampil dengan menggunakan teknik pewarnaan kimia, mengingat keterbatasan bahan baku untuk pewarna alami. Namun ia memastikan sistem pewarnaan kimia yang digunakan tidak melewati batas ambang aman, sehingga tidak berbahaya. “Pelan-pelan kami akan menuju ke sana, untuk menggunakan sistem pewarnaan alami dari tumbuh tumbuhan,” ujarnya. Benang yang digunakan berjenis spun silk, salah satu jenis benang dengan kualitas terbaik. Kualitas pewarnaan juga dipastikan baik sehingga tidak mudah pudar. “Saya sebenarnya tidak terlalu jauh memikirkan unsur bisnisnya. Saya hanya berpikir untuk membuat yang terbaik. Biar nanti konsumen yang mengapresiasi,”tegasnya.

Sebagai langkah awal, Arsawan mengaku pihaknya tidak akan memproduksi tenun patra dalam jumlah terlalu banyak, mengingat keterbatasan jumlah sumber daya yang ada. Dengan tenaga hanya 8 orang penenun dan 5 orang seniman, ia hanya menargetkan produksi sekitar 100 sampai 125 lembar tenun patra setiap bulan. “Ini baru pengenalan. Pelan-pelan akan kami tingkatkan kapasitasnya. Tidak mudah cari tenaga,” kata dia. (viani)



RAGAM TENUN PATRA

    KOLEKSI tenun patra memiliki motif dan pewarnaan yang melukiskan khazanah alam yang kaya jenis dan makna. Tradisi iconografis flora dan fauna Indonesia, yang juga muncul di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia, tersebar dan dikenal sebagai kisah masyarakat dan mitologi untuk menyebarluaskan pesan dan makna kehidupan. Tenun patra mengemas pemaknaan ini dalam ekspresi motif tenun tradisional yang dinamis dan berkarakter, terdiri dari :

1.    Tenun Patra Jatayu
Dalam berbagai cerita, legenda, epik serta beberapa agama, jatayu atau burung garuda dipercaya  melambangkan dinamika kebebasan dan perdamaian serta kepahlawanan.  Diadopsi sebagai lambang beberapa negara maupun berbagai ranah kehidupan manusia garuda muncul dalam berbagai karya sastra baik dari Indonesia, India maupun di seluruh Asia Tenggara termasuk dalam cerita Ramayana. 

2.    Tenun Patra Maksika
Maksika atau lebah ditemukan dalam kebudayaan kawasan-kawasan Timur Dekat kuno. Binatang ini dipercaya sebagai jenis yang disucikan yang menjembatani antara dunia alam natural dengan alam spiritual. Banyak ditemukan dalam ikon di kebudayaan Maya kuno, Maksika menciptakan madu yang digunakan sebagai sesembahan ke para dewa.

3.    Tenun Patra Wanara
Sebagai salah satu primata yang mengagumkan, Wanara (kera) melambangkan kecerdikan dan keceriaan mereka. Dipercaya sebagai ksatria yang setia Wanara rela berkorban dalam berbagai peperangan melawan kebatilan. Vanara juga melambangkan sikap kepedulian, kehormatan, kekeluargaan serta kesetiakawanan.

4.    Tenun Patra Kalandaka
Kalandaka (tupai) dikenal sebagai binatang cerdik selalu yang ceria, mencari makanan yang disimpanya untuk musim dingin atau masa-masa sulit. Binatang ini melambangkan energi positif, kesimbangan hidup, kegotongroyongan, kemandirian, dan yang paling utama, kepercayaan.

5.    Tenun Patra Citrapataga
Citrapataga adalah kupu-kupu indah. Binatang ini melambangkan trasformasi dan metamorfosis. Dari India, China dan Indonesia dan seluruh Asia Tenggara, dalam berbagai cerita dan legenda, Citrapataga sering menjadi jelmaan putri cantik dari sebuah kerajaan. Binatang ini melambangkan perjalanan waktu, jiwa, pengorbanan dan cinta

6.    Tenun Patra Sumanaka
    Sumanaka (bunga) adalah ikon yang muncul dalam setiap peradaban manusia. Seperti jenisnya yang amat beragam, Sumanaka memiliki arti yang banyak, di antaranya keindahan abadi, harapan, cinta, kesetiaan.

7.    Tenun Patra Panaga
Sebagai makhluk legenda, Panaga (naga) muncul di berbagai kebudayaan dan agama  dari Timur sampai Barat, dari Yunani di Eropa, Persia, India Kuno, Maya sampai China, dalam berbagai versi. Panaga memancarkan makna spiritual yang selalu diasosiasikan dengan kebijaksanaan, keabadian serta alam raya.

8.    Tenun Patra Upadika
Karena ukurannya yang kecil, Upadika (semut) sering tidak mendapat perhatian. Dalam ekosistim keseimbangan alam, Upadika ternyata mimiliki signifikasi yang luar biasa. Secara keagamaan Upadika sering menjadi contoh pembalajaran terutama yang berhubungan dengan kekuatan, kesabaran,  energi, nilai kebersamaan, kesetiaan, semangat kerja serta produktifitas.

9.    Tenun Patra Nagamaksikha
Meskipun ukurannya yang kecil, Nagamaksikha (capung) bertahan dalam evolusi selama jutaan tahun. Binatang nan indah ini memiliki lebih dari 500 spesies di Amerika Utara, dan Asia. Nagamaksikha juga memiliki lambang yang berbeda-beda dalam berbagai budaya, di antaranya berarti kedewasaan, kekuatan, kesadaran, dan di suku Indian berarti kesucian dan kebahagiaan. Di Asia binatang ini diasosiasikan dengan ketenangan dan kewibawaan.




Bagikan

SAJIAN TERBARU LAINNYA

  • SEBUAH PERAYAAN SEKADAR “ NGE-POP” (Edisi II/2013)Valentine Day menyimpan banyak pertanyaan  tentang nilai. Kali ini seorang budayawan  membedah arti perayaan Valentine Day, untuk menjadi renungan banyak orang. Tentu segalanya agar tak terkesan latah dalam berbudaya. Redaksi memilih seorang budayawan yang cukup tajam dalam pengamatan dan...(more)
  • MENEMUKAN VALENTINE YANG LEBIH UNIVERSAL (Edisi II/2013) Martir itu bernama Santo Valentinus. Ia menggoreskan pesan tentang keyakinannya pada kasih sayang, saat detik-detik sebelum hukuman mati dilaksanakan. "Dari Valentinusmu," tulisnya. Valentinus secara sadar melanggar larangan menikah yang digariskan oleh Raja Roma Claudius II (zaman itu raja...(more)
  • KASIH SAYANG SEPANJANG ZAMAN (Edisi II/2012) Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE ...(more)
  • BISNIS KASIH SAYANG ALA PANTAI KUTA (Edisi II/2013)Valentine Day yang menembus hampir semua usia, semua lapisan dan pelosok sebagai Hari Kasih Sayang, juga dirasakan merambah dunia pariwisata. Dunia pelancongan ini memang dikenal toleran terhadap sesuatu yang  baru termasuk budaya popular. Begitu juga bisnis akomodasi wisata di Bali. Bali,...(more)
  • DESA ADAT SEBAIKNYA PASIF (Edisi I/2013)Semarak Tahun Baru 2013 di Bali, tentu tak bisa dihindari. Berbagai niat dan ekspresi kegembiraan selalu mewarnai. Ada perbedaan tentunya dengan Tahun Baru Caka yang menjadi tradisi masyarakat Hindu Bali pada momen ini. Hampir seluruh kegembiraan yang rutin dalam pergantian tahun selalu ditandai...(more)
  • PERGANTIAN TAHUN MENJELANG, UANG BERPUTAR KENCANG (Edisi I/2013)Bali masih menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan. Apalagi di momen menjelang pergantian tahun, selalu menjadi wisata menarik dengan berbagai suguhannya. Terbukti dari tahun ke tahun, selalu saja wisatawan nusantara maupun dunia mendambakan pemandangan tersendiri di Pulau Dewata ini. Tak...(more)
  • MEMBERI MAKNA PADA PERGANTIAN TAHUN (Edisi I/2013)Pergantian tahun atau yang lazim disebut tahun baru, bagi tiap daerah dirayakan dan dimaknai dengan tradisi sendiri. Pun masyarakat Bali demikian adanya, ketika Tahun Baru Caka, datang. Tiap daerah memiliki tradisi berbeda secara ritual maupun spiritualnya. Ida Pedanda Gede Telaga, salah seorang...(more)
  • POSKO TAHUN BARU MARAK Bermanfaat atau Berlebih? (Edisi I/2013)Perayaan penghujung tahun tentu sah-sah saja. Pesta dan perayaan kecil memang selalu terlihat berulang mewarnai tutup tahun dan menyambut datangnya tahun baru. Ada rona kemeriahan dan kegembiraan di setiap sudut kota dan di banjar-banjar.  Kewajaran berpesta diamini oleh seorang aktivis muda...(more)
  • URUSAN PEREMPUAN, URUSAN SEMUA LINI (Edisi XII/2012)Hari AIDS Sedunia (HAS 2012) tengah melansir isu besar yang menjadi fokus utama dewasa ini -- perempuan dan anak. Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Denpasar, Tri Indarti, tema HAS tersebut sangat beralasan. “Data dari nasional hingga daerah, semua mendapati  bahwa kasus...(more)
  • UJICOBA TERAPI AIDS DENGAN REKAYASA GENETIKA (Edisi XII/2012)Penyakit HIV-AIDS hingga kini tetap belum dapat disembuhkan. Terapi kombinasi obat-obatan memang secara medis dapat mengendalikan serangan penyakit AIDS, namun efeknya hanya untuk memperpanjang umur penderita. Kini sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat melakukan uji coba pengobatan HIV-AIDS...(more)
  • PERAN KAUM MUDA CUKUP SIGNIFIKAN (Edisi XII/2012) Persoalan perempuan dan anak tak bisa dipecahkan sendiri. Semua pihak berkepentingan untuk menyelamatkan generasi. Dan isu HIV/AIDS adalah bagian penting yang terintegrasi dari kehidupan sosial perempuan dan anak. Begitu juga yang didengungkan dalam tema Hari AIDS Sedunia (HAS 2012). Persoalan...(more)
  • SINERGI BERBAGI PERAN ADALAH KUNCI (Edisi XII/2012)Hari AIDS Sedunia (HAS), diperingati setiap tahun oleh seluruh negara. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat tengah menyiapkan rangkaian HAS dengan berbagai hal. Buku pedoman pun tengah dilansir melalui Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak Republik...(more)
  • MENCEGAH DAN MENGENDALIKAN BERSAMA (Edisi XI/2012)Data statistik Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) tentang kasus HIV/AIDS di Indonesia  menunjukkan secara komulatif kasus ini per 1 April 1987 hingga 30 Juni 2012 memiliki total jumlah yang terinfeksi di Indonesia sebanyak 86.762 orang. Sedangkan yang sudah dalam tahapan AIDS di Indonesia,...(more)
  • MENGELOLA RISIKO DENGAN POSITIF DAN KONSTRUKTIF (Edisi XI/2012)Awal Oktober lalu, RSUD Badung menolong persalinan ibu yang teridentifikasi ODHA. Ibu rumah tangga berusia 30-an tahun itu, melahirkan bayinya dengan operasi caesar yang disarankan oleh dokter. Tak ada kelainan fisik apapun pada bayi. Hanya saja menunggu 18 bulan lagi untuk mengetahui sang bayi...(more)
  • SUARA ODHA MENOLAK DISKRIMINASI (Edisi XI/2012)Lika-liku, penuh kenangan. Kesedihan berubah menjadi kebanggaan adalah kemungkinan yang ditasbihkan bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Itulah perjuangan yang sedang diyakini oleh kelompok ODHA saat ini. Penuh harapan dan selalu ingin mengubah keadaan yang membanggakan. Seperti yang dialami AR...(more)
  • Mengenang Komitmen Sanur MENITI HIDUP LEBIH BAIK (Edisi XI/2012)Perhelatan besar di dunia internasional setiap tanggal 1 Desember adalah Hari AIDS sedunia. Hari itu mengajak warga dunia untuk menorehkan kembali tentang kumpulan dari segala penyakit yang mempengaruhi tubuh manusia, dimana sistem kekebalan tubuh melemah dan tidak dapat merespon sesuai...(more)
  • “TIDAK PAS UNTUK BALI” (Edisi X/2012)Semakin menjamurnya tempat hiburan malam di wilayah Bali, di satu sisi memang memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Perputaran uang dari bisnis ini lumayan tinggi. Namun bagi pengamat ekonomi Gede Made Sadguna, keberadaan tempat-tempat hiburan tersebut tidak seharusnya...(more)
  • SEDAPNYA ATMOSFER DUNIA MALAM (Edisi X/2012) Sinar laser beragam warna beradu, menusuk setiap sudut ruang. Tubuh-tubuh yang bergerak ritmis, seolah berbalut busana warna-warni. Musik berdentum kuat hingga menggetarkan dada. Atmosfer ruangan menebar aroma alkohol . Perempuan bertubuh seksi sensual bergerak ritmis menggoyang badan. Wow...(more)
  • “DI BALIK PIRINGAN HITAM” (Edisi X/2012)Diskotek dan tempat clubbing, tidak lepas dari “pawang” piringan hitam yang dikenal  disc jockey (DJ). Disc jockey atau joki cakram yang kerap juga disebut hanya deejay adalah seseorang yang terampil memilih dan memainkan rekaman suara atau musik yang telah direkam sebelumnya. Media hasil...(more)
  • KETIKA HARGA SEMBAKO MELANGIT (Edisi IX/2012)Ketika harga bahan-bahan kebutuhan pokok melangit jelang Hari Raya Idul Fitri dan Galungan, Agustus lalu, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) se-Bali tidak tinggal diam. Pasar murah digelar serentak di 35 desa di seluruh Bali.  Ni Made Wenten tampak agak kelelahan membawa satu karung kecil beras...(more)